Minggu, 12 Mei 2013

Teknik Pemilihan Media Pembelajaran

Sabtu, 11 Mei 2013

Revitalisasi Halte Sebagai Upaya Mengurangi Penyebab Kemacetan LaluLintas

Pemerintah Kota Bandung telah membangun halte yang tersebar ke seluruh penjuru kota. Halte tersebut berfungsi sebagai tempat calon penumpang menunggu angkot atau bus kota. Namun halte yang ada belum berfungsi secara optimal.Desain halte tidak menguntungkan kepada calon penumpang. Informasi mengenai jurusan angkutan terdapat di belakang dan ukuran tulisannya pun tampak kecil, sehingga akan sulit dibaca dari kejauhan. Sebagai kota tujuan wisata, baik domestik maupun mancanegara, maka ketersediaan peta Kota Bandung menjadi penting untuk menambah citra positif terhadap pemerintah kota. Namun seperti yang tampak pada gambar, hal ini terabaikan.Kemudian, berdasarkan pemantauan, keadaan halte di Kota Bandung terkesan kumuh dan tidak terawat, sehingga calon penumpang merasa sungkan untuk menunggu angkutan di halte.Sebagian halte dijadikan objek aksi vandalisme yang merusak estetika halte tersebut.Di beberapa halte justru dijadikan tempat untuk berjualan, sehingga halte tersebut kehilangan fungsi utamanya. Keberadaan halte di Kota Bandung yang tidak terawat dapat merusak pemandangan kota.
Halte merupakan suatu tempat yang dirancang bagi prasarana masyarakat calon penumpang untuk naik atau turun dari angkutan umum.Halte merupakan suatu bentuk terminal dalam skala kecil (Indra Lesmana, 2007).Penyediaan terminal merupakan suatu persyaratan mutlak untuk memperoleh sistem perangkutan yang efisien dan aman, baik bagi gerak angkutan maupun bagi sistem lalu lintas itu sendiri (Hussain, 1985).Oleh karena itu penyelenggaraan terminal berperan dalam menunjang tersedianya jasa transportasi yang sesuai dengan tingkat kebutuhan lalu lintas dan pelayanan angkutan yang selamat, aman, cepat, tepat, nyaman, teratur dan dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat (Djaelani, 1999).

Potensi angkot yang ada saat ini berjumlah 38 trayek (Sumber : Bandung Dalam Angka) yang dapat didayagunakan secara optimal. Dengan jumlah trayek tersebut dapat meminimalisasi kecenderungan masyarakat untuk bepergian menggunakan kendaraan pribadi.Dalam sebuah survey yang dilakukan terungkap bahwa sebesar rata-rata 75% masyarakat mempunyai minat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, beberapa angkot cenderung tidak disiplin untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.Angkot bisa berhenti di mana saja, bahkan dapat berhenti di tengah jalan, sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas.Dari hasil wawancara terhadap sopir angkot didapat hasil bahwa rata-rata kejadian tersebut disebabkan oleh faktor calon penumpang yang tidak menunggu di halte.Berdasarkan hasil survey 9 dari 10 orang menyatakan bahwa mereka tidak menggunakan halte ketika naik atau turun dari angkot.Alasannya adalah karena lokasi halte sangat jauh dari lokasi keinginan penumpang untuk naik atau turun dari angkot.

Penyediaan halte yang baru di seluruh penjuru Kota Bandung akan menertibkan angkot di Kota Bandunguntuk menaikkan dan menurunkan penumpang pada tempatnya. Halte yang baru, dirancang dengan mempertimbangkan fungsi dan  estetika arsitektur sebagai penarik minat masyarakat untuk mau menggunakan halte. Hal ini memberikan pelayanan berkualitas prima kepada masyarakat untuk menunjukkan keunggulan angkot agar masyarakat tertarik menggunakan angkot sebagai sarana transportasi utama sehari-hari sehingga penggunaan kendaraan pribadi dapat diminimalkan intesitasnya.Serta bagi masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan angkot, agar dapat tertarik untuk disiplin menggunakan halte.


Gambar : Gagasan Desain Halte (Sumber : Dokumentasi Pribadi)
Halte yang akan dirancang tentu harus memberikan perlindungan kepada pengguna halte tersebut dari terik matahari dan air hujan. Maka desain halte akan dirancang sedemikian rupa untuk memberikan kenyamanan bagi penggunanya. Kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan wisata di Indonesia, maka desain halte yang baru akan mencerminkan wajah Kota Bandung untuk mempromosikan khazanah budaya Sunda sebagai jati diri Kota Bandung. Konsep dari desain ini adalah “Mulih ka Bandung” yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Kembali ke Bandung”. Hal ini akan tampak pada ornamen - ornamen yang tersemat pada bangunan halte. Untuk memudahkan navigasi calon penumpang angkot, maka disediakan peta Kota Bandung yang memuat lokasi titik - titik halte terbangun. Selain itu dilakukan penyempurnaan terhadap informasi trayek angkutan kota yang akan transit di halte tersebut.
*Catatan : Gagasan ini telah dipresentasikan dalam bentuk proposal penelitian PKM-GT Tahun 2012

Teknik Pembuatan Media Pembelajaran

Selasa, 07 Mei 2013

Keraton Yogyakarta Hadiningrat

Keraton ini mulai dibangun pada tahun 1755 oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Hamengkubuwono I. Beliau merencanakan suatu susunan perumahan yang mencerminkan struktur sosial di bawah kedaulatan yang baru. Dalam sistem ini raja adalah pusat dan satu-satunya sumber kekuatan, dalam keraton ini ia dikelilingi oleh keluarga dan kerabat dekatnya. Lapisan berikutnya adalah para abdi setia yang terpilih dan baru di luar itu orang kebanyakan.

Keraton disusun sebagai serangkaian pekarangan yang tersusun simetris sepanjang sumbu utara-selatan. Tatanan ini mengarah ke pusat yaitu pekarangan terdalam, Kedathon, tempat Sultan bekerja sehari-hari.

pekarangan ini diapit di sisi timur oleh pekarangan Kasatriyan, yaitu tempat tinggal putra-putra Sultan yang belum menikah. Sementara itu, sisi barat adalah Keputren, tempat tinggal para istri dan anak-anak Sultan. Di ujung terbarat adalah Dalem Kedhaton Kilen, kediaman Ibunda Sultan, orang yang paling tinggi kedudukannya dalam keluarga Sultan. Arah timur ke barat ini berselarasan dengan perjalanan Sultan, sewaktu muda di sisi timur (dalam bahasa Jawa 'timur' berarti 'muda'), kemudian sebagai Sultan berdiam di tengah sedang masa tua adalah sisi matahari terbenam.

inti dari pekarangan Kedathon adalah bangunan utamanya, Prabayeksa. Di tempat inilah tersimpan inti kekuatan raja-raja Jawa. Di sinilah semua pusaka disimpan untuk dikembangkan dan diarahkan oleh pemiliknya, yaitu Sultan. Bangunan besar ini hampir tertutup sama sekali dan berkesan kosong karena memang tidak ada yang meninggali bangunan ini lagi sejak Hamengkubuwono I mangkat. Bagaimanapun, bangunan inilah inti kerajaan, sesuai dengan namanya praba (=sinar, wibawa) yeksa, yasa (=mengusahakan, mengembangkan). Singkatnya, 'pengembang kewibawaan' raja.

Jika keraton mengarah ke sumbu utara-selatan, maka Prabayeksa menghadap ke timur, ke arah terbitnya matahari. mungkin ini ada hubungannya dengan tradisi pertanian karena di keraton pasisiran semua bangunannya mengarah utara dan selatan. Bangunan-bangunan lain di pekarangan ini Gedong Jene yang menjadi tempat tinggal sebenarnya bagi Sultan, sekaligus tempat kerja dan menerima tamu-tamu resmi. Di depan Prabayeksa adalah Bangsal Kencana, bangunan terbuka untuk pertunjukan dan pergelaran.

Ke sebelah utara pekarangan Kedhaton adalah pekarangan Srimanganti, tempat para tamu menunggu sebelum diizinkan masuk ke Kedhaton. Ke luar melalui gapura Srimanganti adalah pekarangan Kemandhungan Utara dan melalui gerbang Brajanala mencapai Sitihinggil dan Pagelaran, bagian paling depan komplek Keraton tempat Sultan duduk menghadapi rakyatnya yang berkumpul di Alun-alun.

Sama halnya dengan arah selatan, melalui Gerbang Kemagangan masuk ke pekarangan Kemagangan lalu di seberangnya Gerbang Gadungmlati yang menghubungkan ke pekarangan Kemandhungan Selatan. Dari sini, Sitihinggil Selatan terhubung oleh Gerbang Kemandhungan. Terakhir adalah Alun-alun Selatan yang sedikit lebih kecil dari Alun-alun Utara.

Seluruh kompleks ini seluas 14000 meter persegi  masih dikelilingi oleh dinding tinggi atau benteng. Lima gerbang menghubungkan keraton ke dunia luar. Yaitu Tarunasura atau Wijilan di arah timur laut, Jagasura atau Ngasem di barat laut, Jagabaya atau Tamansari di barat, Nirbaya atau Gading di selatan serta terakhir Madyasura di arah timur.

Di luar benteng sebenarnya masih ada beberapa unsur yang termasuk dalam konstelasi Keraton Yogyakarta, yaitu Tamansari di sisi barat daya keraton. Tugu atau Pal Putih di ujung utara kota serta Panggung Krapyak jauh ke arah selatan. Tamansari adalah sebuah kompleks bangunan yang sangat menakjubkan, sebuah taman bercengkerama yang bentuknya luar biasa, tempat Sultan berhubungan dengan Penguasa Laut Selatan, tetapi sekaligus juga sebagai pertahanan terakhir jika keraton diserbu musuh.

Modul Media Pembelajaran

Senin, 06 Mei 2013

Demokrasi Meritokratik

Oleh :
Anas Urbaningrum

DEMOKRASI adalah nilai kebajikan politik. Perjalanan yang panjang menjadi bukti bahwa demokrasi mempunyai kesanggupan diuji sejarah. Dengan berbagai kekurangannya, demokrasi telah menjadi pilihan utama banyak negara di dalam sistem politiknya. Tentu saja kemampuan demokrasi ditopang oleh tersedianya ruang koreksi dari dalam. Tujuan demokrasi amat terang: demi kebaikan bersama, yakni keadilan politik. Kebebasan sebagai salah satu spirit demokrasi adalah pilar penyangga yang pokok.

Tanpa kebebasan dan egalitarianisme, demokrasi akan kehilangan separuh nafasnya. Dengan demokrasi sebagai pilihan, tidak ada yang meragukan kebaikan tujuan. Amat pasti tujuannya adalah baik. Kebaikan tujuan saja ternyata tidak cukup. Memegang kebaikan tujuan mesti disertai dengan kesetiaan kepada cara yang sejakan dengan tujuan itu. Karena itu, tujuan yang baik mesti ditempuh dan diperjuangkan dengan cara yang baik. Tujuan yang baik tidak boleh dijalankan dengan metode yang buruk. Tujuan tidak bisa ditempuh dengan menghalalkan segala cara. Cara-cara yang tidak baik justru akan melukai tujuan, bahkan bisa menenggelamkan tujuan itu sendiri.
Meritokrasi adalah sarana yang baik dalam sistem politik untuk menghasilkan produk-produk yang terbaik dalam proses demokrasi. Meritokrasi bisa memberikan ruang dan penghargaan lebih kepada mereka yang berprestasi atau berkemampuan. Sistem ini bagi masyarakat banyak akan memberikan rasa keadilan. Mereka yang berprestasi bisa menjadi pemimpin, tetapi tetap  membuka diri untuk menerima kritik kepada mereka yang tidak mendapat tempat untuk memimpin. Dalam pengertian khusus, meritokrasi akan bertentangan dengan nepotisme. Karena nepotisme lebih mengutamakan hubungan yang tidak didasarkan pada prestasi atau kemampuan.

Dalam konteks demokrasi, ajaran "realis" Machiavelli tidak relevan digunakan. Demokrasi yang di dalamnya bisa memberikan kesempatan luas pada siapa saja untuk berprestasi, akan terjaga martabat kebaikannya. Juga harus diikuti oleh kesetiaan untuk menggandeng etika, moralitas, fatsoen, kesantunan dan antikekerasan. Tujuan demokrasi tidak boleh ditempuh dengan menghalalkan segala cara. Berpikir, bersikap dan menghalalkan segala cara sebagai metode menempuh tujuan demokrasi adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai dasar dan tujuan demokrasi. Tujuan menghalalkan cara justru akan memasukkan elemen haram dalam demokrasi!

Wallahualam. [***]

Sumber : Rakyat Merdeka Online - Kamis, 14 Maret 2013 , 22:56:00 WIB (http://www.rmol.co/read/2013/03/14/102305/Demokrasi-Meritokratik-)

Laporan Buku Media Pembelajaran

Judul Buku       : Media Pembelajaran
Penulis             : Tim Dosen UPI
Penerbit           : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan – FIP UPI
Cetakan           : 2003