Tampilkan postingan dengan label arsitektur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arsitektur. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2015

Tipologi Arsitektur Tradisional

Tipologi bangunan adalah ilmu tentang klasifikasi sesuatu. Menurut Iswati (2003) dalam Santoso (2011), tipologi adalah studi tentang tipe dengan kegiatan kategorisasi dan klasifikasi untuk menghasilkan tipe. Kegiatan kategori dan tipe tersebut sekaligus dapat dilihat keragaman dan keseragamannya. Menurut Loekito (1994) dalam Pangarsa. dkk (2012), tipologi dapat dilakukan apabila obyek yang diteliti memiliki kesamaan sifat atau ciri-ciri.

Arsitektur tradisional di Indonesia memiliki kesamaan prinsip dalam menerjemahkan makna ruang kehidupan. Desain arsitektur mereka dilatarbelakangi oleh kepercayaan dari leluhurnya yang berkembang di masyarakat setempat. Filosofi ketuhanan terkandung dalam pertimbangan rancangan bangunan mereka. Desain arsitektur tradisional Indonesia sebagian besar menggunakan material yang terdapat di lingkungan sekitarnya, sehingga menghasilkan bangunan yang ramah terhadap lingkungan. Muatan kearifan lokal tersebut seringkali melampaui zaman dan masih relevan dengan konteks kekinian. Pangarsa. dkk (2012) mengelompokkan Arsitektur Tradisional di Indonesia dalam kategori yang didasarkan pada strategi kebudayaan, yaitu:

Keperkasaan Masyarakat Megalit;
Melanjutkan sifat-sifat dasar masyarakat mengalit yang selama ini dianggap telah punah, tetapi penerusnya masih memiliki tradisi yang dipegang teguh. Ciri ini hanya tertinggal jejak-jejak tipisnya di beberapa tempat seperti Batak, Sumba atau Toraja. Warisan keperkasaan mengolah batu-batu besar tampak pada arsitekturnya.

Kewaspadaan Pelestari Lingkungan Hutan;
Kepekaan dalam mengenali dan menjaga kondisi alam di sekitar hunian manusia telah menjadikan masyarakat pelestari hutan waspada dalam mengelola alamnya.Fenomena ini sekarang tinggal terwakili oleh beberapa “artefak” saja, misalnya Mentawai atau Papua.

Ketekunan Masyarakat Tani Pedalaman;
Kebersamaan dan kejelian dari masyarakat tani pedalaman telah banyak menelurkan norma dan kebudayaan yang menjaga keharmonisan antara manusia, alam dan lingkungan binaannya. Sebagian besar dari arsitektur rakyat Nusantara adalah dari kelompok masyarakat tani pedalaman dan masyarakat tani pesisir pantai dengan ciri “ketekunan mengolah tanah pertanian”.

Keterbukaan Masyarakat Pesisir
Kondisi alam dan kebutuhan dalam berhuni membentuk masyarakat pesisir menjadi lebih terbuka dalam menata ruangnya. Pendeknya ruang transisi yang mereka bangun seakan menjadikan ruang bersama adalah salah satu cara perlingdungan diri terhadap keberadaan manusia di dalam arsitekturnya.

Kelenturan Masyarakat Dagang, Industri dan Informasi
Arsitektur rakyatnya terkena dampak langsung dari peradaban industri yang mengimbas dari kota-kota besar ke daerah perdesaan di sekitarnya.

Dari hasil temuan-temuan di atas, kita dapat melihat bahwa Arsitektur Tradisional memiliki ciri yang khas. Mereka bersifat harmoni dengan alam sekitar. Untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggalnya, masyarakat tradisional berusaha untuk tetap menjaga keaslian ekosistem lingkungan. Dengan harmonisasi ini akan terwujud suatu pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini dipertegas oleh Bruntland (1987) dalam Widaningsih dan Cahyani (2013) yang menyatakan “Sustainable development is development which meets the needs of the present without compromising the ability of future generation to meet their own needs." Demikianlah pembangunan berkelanjutan didefinisikan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini saja tetapi juga memenuhi kebutuhan bagi generasi yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Pangarsa WG, dkk. (2012). Tipologi Nusantara Green Architecture Dalam Rangka Konservasi Dan Pengembangan Arsitektur Nusantara Bagi Perbaikan Kualitas Lingkungan Binaan. Jurnal RUAS, 10, (2), 78-94
  2. Santoso I. (2011). Studi Pengamatan Tipologi Bangunan pada Kawasan Kauman Kota Malang. Jurnal Ilmiah Local Wisdom. 3, (2), 10-26.  
  3. Widaningsih L, Cahyani D. (2013).Pengukuran Indeks Arsitektur Hijau (Green Building) pada Arsitektur Tradisional di Jawa Barat. Proposal Penelitian. Tidak diterbitkan

Selasa, 07 Mei 2013

Keraton Yogyakarta Hadiningrat

Keraton ini mulai dibangun pada tahun 1755 oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Hamengkubuwono I. Beliau merencanakan suatu susunan perumahan yang mencerminkan struktur sosial di bawah kedaulatan yang baru. Dalam sistem ini raja adalah pusat dan satu-satunya sumber kekuatan, dalam keraton ini ia dikelilingi oleh keluarga dan kerabat dekatnya. Lapisan berikutnya adalah para abdi setia yang terpilih dan baru di luar itu orang kebanyakan.

Keraton disusun sebagai serangkaian pekarangan yang tersusun simetris sepanjang sumbu utara-selatan. Tatanan ini mengarah ke pusat yaitu pekarangan terdalam, Kedathon, tempat Sultan bekerja sehari-hari.

pekarangan ini diapit di sisi timur oleh pekarangan Kasatriyan, yaitu tempat tinggal putra-putra Sultan yang belum menikah. Sementara itu, sisi barat adalah Keputren, tempat tinggal para istri dan anak-anak Sultan. Di ujung terbarat adalah Dalem Kedhaton Kilen, kediaman Ibunda Sultan, orang yang paling tinggi kedudukannya dalam keluarga Sultan. Arah timur ke barat ini berselarasan dengan perjalanan Sultan, sewaktu muda di sisi timur (dalam bahasa Jawa 'timur' berarti 'muda'), kemudian sebagai Sultan berdiam di tengah sedang masa tua adalah sisi matahari terbenam.

inti dari pekarangan Kedathon adalah bangunan utamanya, Prabayeksa. Di tempat inilah tersimpan inti kekuatan raja-raja Jawa. Di sinilah semua pusaka disimpan untuk dikembangkan dan diarahkan oleh pemiliknya, yaitu Sultan. Bangunan besar ini hampir tertutup sama sekali dan berkesan kosong karena memang tidak ada yang meninggali bangunan ini lagi sejak Hamengkubuwono I mangkat. Bagaimanapun, bangunan inilah inti kerajaan, sesuai dengan namanya praba (=sinar, wibawa) yeksa, yasa (=mengusahakan, mengembangkan). Singkatnya, 'pengembang kewibawaan' raja.

Jika keraton mengarah ke sumbu utara-selatan, maka Prabayeksa menghadap ke timur, ke arah terbitnya matahari. mungkin ini ada hubungannya dengan tradisi pertanian karena di keraton pasisiran semua bangunannya mengarah utara dan selatan. Bangunan-bangunan lain di pekarangan ini Gedong Jene yang menjadi tempat tinggal sebenarnya bagi Sultan, sekaligus tempat kerja dan menerima tamu-tamu resmi. Di depan Prabayeksa adalah Bangsal Kencana, bangunan terbuka untuk pertunjukan dan pergelaran.

Ke sebelah utara pekarangan Kedhaton adalah pekarangan Srimanganti, tempat para tamu menunggu sebelum diizinkan masuk ke Kedhaton. Ke luar melalui gapura Srimanganti adalah pekarangan Kemandhungan Utara dan melalui gerbang Brajanala mencapai Sitihinggil dan Pagelaran, bagian paling depan komplek Keraton tempat Sultan duduk menghadapi rakyatnya yang berkumpul di Alun-alun.

Sama halnya dengan arah selatan, melalui Gerbang Kemagangan masuk ke pekarangan Kemagangan lalu di seberangnya Gerbang Gadungmlati yang menghubungkan ke pekarangan Kemandhungan Selatan. Dari sini, Sitihinggil Selatan terhubung oleh Gerbang Kemandhungan. Terakhir adalah Alun-alun Selatan yang sedikit lebih kecil dari Alun-alun Utara.

Seluruh kompleks ini seluas 14000 meter persegi  masih dikelilingi oleh dinding tinggi atau benteng. Lima gerbang menghubungkan keraton ke dunia luar. Yaitu Tarunasura atau Wijilan di arah timur laut, Jagasura atau Ngasem di barat laut, Jagabaya atau Tamansari di barat, Nirbaya atau Gading di selatan serta terakhir Madyasura di arah timur.

Di luar benteng sebenarnya masih ada beberapa unsur yang termasuk dalam konstelasi Keraton Yogyakarta, yaitu Tamansari di sisi barat daya keraton. Tugu atau Pal Putih di ujung utara kota serta Panggung Krapyak jauh ke arah selatan. Tamansari adalah sebuah kompleks bangunan yang sangat menakjubkan, sebuah taman bercengkerama yang bentuknya luar biasa, tempat Sultan berhubungan dengan Penguasa Laut Selatan, tetapi sekaligus juga sebagai pertahanan terakhir jika keraton diserbu musuh.

Sabtu, 27 April 2013

Definisi Rumah Tinggal

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman mendefinisikan bahwa :
  1. Rumah  adalah    bangunan  yang  berfungsi  sebagai  tempat  tinggal  atau  hunian  dan  sarana pembinaan keluarga,
  2. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan,
  3. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan  perkotaan  maupun  perdesaan  yang  berfungsi  sebagai  lingkungan  tempat  tinggal  atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
Pengertian rumah dikemukakan Budihardjo (1987) antara lain: rumah sebagai simbol dan pencerminan tata nilai  selera pribadi  penghuninya atau dengan kata lain sebagai pengejawantahan jati diri, rumah sebagai wadah keakraban diamana rasa memiliki, kebersamaan, kehangatan, kasih dan rasa aman tercipta didalamnya, rumah sebagai tempat kita menyendiri dan menyepi, yaitu sebagai tempat melepaskan diri dari dunia luar, tekanan dan tegangan, rumah sebagai tempat untuk kembali pada akar dan menumbuhkan rasa kesinambungan dalam untaian proses ke masa depan, rumah sebagai wadah kegiatan utama sehari-hari, rumah sebagai pusat jaringan sosial, rumah sebagai struktur fisik dalam arti rumah adalah bangunan.

Menurut Johan Silas (2002) rumah  mengandung pengertian:
  • Sebagai tempat penyelenggaraan kehidupan dan penghidupan keluarga; rumah harus memenuhi kebutuhan yang bersifat biologis seperti makan, belajar, dan lain-lain, juga memenuhi kebutuhan non biologis, seperti bercengkrama dengan anggota keluarga atau dengan tetangga.
  • Rumah berfungsi sebagai sarana investasi; rumah mempunyai nilai investasi yang bersifat moneter yang dapat diukur dengan uang dan non moneter yang tidak dapat diukur dengan uang., tetapi lebih pada keuntungan moral dan kebahagiaan keluarga.
  • Rumah sebagai sarana berusaha; melalui rumah penghuni dapat meningkatkan pendapatannya guna kelangsungan hidupnya.
  • Rumah sebagai tempat bernaung harus memenuhi kebutuhan ruang akan kegiatan bagi penghuninya. Terdapat beberapa ruang pokok yang ada pada sebuah rumah, yaitu ruang tidur, ruang belajar atau ruang kerja, ruang keluarga,  ruang services seperti dapur, dan teras atau ruang tamu. Makna yang terkandung didalam kebutuhan ruang-ruang tersebut mencerminkan bahwa rumah adalah tempat untuk  istirahat, tempat untuk mengaktualisasikan diri guna meningkatkan mutu kehidupan, rumah sebagai tempat sosialisasi utamanya dengan keluarga, rumah sebagai tempat menyediakan kebutuhan jasmani dan rohani, serta rumah sebagai tempat bernaung
Sumber : 
  • UU No. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman
  • Hilman, Maman. 2010. Materi Kuliah Rekayasa Lahan II. Bandung : UPI

Rabu, 10 April 2013

Green Architecture, Solusi Bangunan Ramah Lingkungan

Oleh :
Hadi Yanuar Iswanto
NIM : 1006590

Akhir-akhir ini orang-orang di seluruh dunia ramai membicarakan tentang  “go  green”.  Apa sebenarnya “go green” ? Secara harafiah dalam Bahasa Inggris ‘go’ berarti menuju dan ‘green’ berarti warna hijau, maka “go green” berarti mengajak kita untuk menuju “hijau”. Ini terdengar seperti sebuah semangat untuk melakukan penghijauan. Di  dalam  dunia  arsitektur  ada istilah green architecture (arsitektur hijau), merupakan konsep bangunan berwawasan lingkungan. Arsitektur hijau, secara sederhana mempunyai pengertian bangunan atau lingkungan binaan yang dapat mengurangi atau dapat melakukan efisiensi sumber daya material, air dan energi. Dalam pengertian yang lebih luas, adalah bangunan atau lingkungan binaan yang efisien dalam penggunaan energi, air dan segala sumber daya yang ada, kemudian mampu menjaga keselamatan, keamanan dan kesehatan penghuninya dalam mengembangkan produktivitas penghuninya, serta mampu mengurangi sampah, polusi dan kerusakan lingkungan.

Green (hijau) dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), earthfriendly  (ramah  lingkungan),  dan  high  performance  building (bangunan  dengan  performa  sangat  baik). Bangunan berkonsep green architecture mempunyai satu sifat yang tidak kalah pentingnya dengan sifat- sifat lainnya. Sifat ini adalah “High performance building”. Pada dasarnya bangunan green architecture harus mempunyai  sifat  ini.  Salah  satu  fungsinya  ialah  untuk  meminimaliskan penggunaan energi dengan memenfaatkan energi yang berasal dari alam (Energy of nature) dan dengan dipadukan dengan teknologi tinggi (High technology  performance).  Contohnya  adalah  memanfaatkan sumber yang dapat diperbaharui seperti menggunakan sinar matahari melalui passive solar dan active solar, serta teknik photovoltaic dengan menggunakan tanaman dan pohon-pohon melalui atap hijau dan taman hujan. Konsep arsitektur hijau sangat mendukung program penghematan energi. Rumah ala tropis dengan banyak bukaan, dibentuk untuk mengurangi pemakaian AC juga penerangan adalah prinsip arsitektur hijau di daerah tropis. Namun, hal tersebut tidak akan berjalan mulus jika sekeliling rumah tidak asri. Bukaan banyak hanya akan memasukkan udara panas dan membuat pemiliknya tetap memasang pendingin ruangan. Oleh sebab itu pekarangan perlu dihijaukan dengan tanaman apa saja, permukaan tanah tidak ditutup dengan beton dan menerapkan manajemen sampah yang ketat.

Dari segi interior, arsitektur hijau mensyaratkan dekorasi dan perabotan tidak perlu berlebihan, saniter lebih baik, dapur bersih, desain hemat energi, kemudahan air bersih, luas dan jumlah ruang sesuai kebutuhan, bahan bangunan berkualitas dan konstruksi lebih kuat, serta saluran air bersih. Untuk mengatasi limbah sampah secara mandiri, lubang biopori dapat menjadi solusi.

Di Indonesia, kampanye go green ini sudah mulai digalakkan. Banyak bangunan-bangunan seperti rumah tinggal atau bangunan komersial lainnya yang mulai menyelaraskan konsep desainnya dengan green architecture. Saat ini konsep green architecture telah diwujudkan secara nyata pada beberapa hunian vertical atau apartemen di kota-kota besar di Indonesia. Konsep green apartment dalam beberapa tahun belakangan memang terus dikembangkan oleh pengembang properti. Konsep ini diaplikasikan melalui keberadaan taman-taman di beberapa balkon yang bisa digunakan penghuni apartemen untuk bersantai dan menikmati hijau dedaunan di tengah kota.

Arsitektur hijau tentunya lebih dari sekedar menanam rumput atau menambah tanaman lebih banyak di sebuah bangunan, tapi juga lebih luas dari itu, misalnya memberdayakan arsitektur atau bangunan agar lebih bermanfaat bagi lingkungan, menciptakan ruang-ruang publik baru, menciptakan alat pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya.

Maka dari itu sangat beralasan jika program green architecture ini dapat diterapkan di masyarakat luas, karena dengan menerapkan konsep ini keuntungannya dari sisi ekonomi sangat nyata dan terukur. Penggunaan pendingin ruangan dan penerangan ruangan serta penghematan air hingga 26-40 % setiap bulan. Selain itu penerapan konsep ini pun sejalan dengan pengurangan emisi karbon 2020. 

DAFTAR RUJUKAN

-          Buku
  • Hyde, Richard.2008. Bioclimatic Housing, Innovative Designs for Warm Climates.London: Cromwell Press
  • M.Echols, John dan Shadily, Hassan. Kamus Bahasa Inggris – Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka
  • Setiawan, Achnin.2010.Pusat Kebugaran Jasmani dan Spa di Jakarta (pendekatan konsep Green Architecture). Universitas Muhammadiyah Surakarta

-          Internet

-          Koran Online

Jumat, 15 April 2011
Jumat, 9 September 2011

Kamis, 16 Juni 2011

Jumat, 16 November 2012

Kota Berkelanjutan

Jumat, 14 September 2012

Definisi Arsitektur

Apabila kita mengatakan definisi, maka tiap orang memiliki pendapat yang berbeda satu sama lain. Banyak sekali pendapat ahli mengenai pengertian arsitektur. Secara garis besar arsitektur adalah seni merancang bangunan yang didalamnya terdapat aspek fisik, psikis, ekonomi, sosial dan budaya.

Berikut beberapa pendapat dari para ahli mengenai pengertian arsitektur.

Marcus Pollio Vitruvius (1486)
Kesatuan dari kekuatan/kekokohan (firmitas), keindahan (venustas), dan kegunaan/fungsi (utilitas)

Banhart CL. Dan Jess Stein
adalah seni dalam mendirikan bangunan termasuk didalamnya segi perencanaan, konstruksi, dan penyelesaian dekorasinya; sifat atau bentuk bangunan; proses membangun; bangunan dan kumpulan bangunan

van Romondt
adalah ruang tempat hidup manusia dengan bahagia. Ruang berarti menunjuk pada semua ruang yang terjadi karena dibuat oleh manusia atau juga ruang yang terjadi karena proses alam seperti gua, naungan pohon dan lain-lain

Robert Gutman (1976)
sesungguhnya merupakan kulit ketiga manusia. Arsitektur merupakan lingkungan buatan yang bukan saja menjembatani antara manusia dengan lingkungan melainkan sekaligus merupakan wahana ekspresi kultural untuk menata kehidupan jasmaniah,psikologis dan sosial manusia.

Claudil (1979)
adalah sesuatu yang bersifat personal, menyenangkan dan memerlukan pengalaman. Arsitektur adalah hasil persepsi dan penghargaan manusia terhadap ruang dan bentuk. Ada tiga pengalaman arsitektur: aspek fisikal, emosional dan kebutuhan intelektual

Francis DK Ching (1979)
arsitektur membentuk suatu tautan yang mempersatukan ruang, bentuk, teknik dan fungsi.

Amos Rappoport (1981)
adalah ruang tempat hidup manusia, yang lebih dari sekedar fisik, tapi juga menyangkut pranata-pranata budaya dasar. Pranata ini meliputi: tata atur kehidupan sosial dan budaya masyarkat, yang diwadahi dan sekaligus memperngaruhi arsitektur

JB. Mangunwijaya (1992)
arsitektur sebagai vastuvidya (wastuwidya) yang berarti ilmu bangunan. Dalam pengertian wastu terhitung pula tata bumi, tata gedung, tata lalu lintas (dhara, harsya, yana)
sumber : file.upi.edu

Sketsa di Gedung Sate

Sebenarnya ini sudah lama sekali. Tahun 2010 lalu pas masa-masa awal kuliah di Jurusan Arsitektur, UPI, saya mengontrak mata kuliah gambar arsitektur. Garis besar mata kuliah ini adalah membiasakan mahasiswa untuk menggambar objek arsitektur. Di mata kuliah ini saya merasa lebih fun. Menggambar adalah hobi saya. Gambar yang saya hasilkan pun tidak buruk.


Hal yang menyenangkan adalah sketching di luar kampus. Kali ini obejk yang harus digambar adalah Gedung Sate. Saya menuju ke lokasi dengan menggunakan angkot. sekitar 30 menit jaraknya dari rumah. Setibanya disana pada pukul 08.00 pagi saya mengamati gedung yang menjadi kantor Gubernur Jawa Barat dengan antusias. Saya sangat kagum dengan kemegahan gedung yang dirancang oleh Ir.J.Gerber itu. Di tengah kekaguman itu saya pun segera mencari posisi strategis untuk menggambar gedung tersebut.Sungguh menyenangkan. Saya bersama kawan-kawan menggambar di sana hingga jam 12.00 siang. Sebelum pulang tidak lupa kami berfoto bersama untuk kenang-kenangan. Sungguh kenangan yang menyenangkan :)

Senin, 10 September 2012

Metode Perancangan Arsitektur

Kali ini saya akan sedikit sharing catatan kuliah saya mengenai metode perancangan dalam arsitektur. Terdapat dua metode perancangan yaitu metode tradisional atau disebut "black box" dan metode rasional atau disebut "glass box". Dalam perkuliahan, dosen saya  menjelaskan mengapa disebut black box dan glass box ? filosofinya kita bisa jawab dengan sederhana. Kita tahu bahwa pengertian black box adalah kotak hitam. Persepsi kita terhadap kotak hitam berarti kotak tersebut gelap berwarna hitam, tidak terlihat apa-apa. Ini menunjukkan pada arsitektur tradisional pada masa itu yang tahu bagaimana proses kreatif hasil karya hanya arsiteknya saja.  sedangkan pada metode baru atau glass box persepsi kita terhadap glass box adalah sebuah kotak yang terbuat dari kaca yang bening, transparan. sehingga ini berarti bahwa pada metode perancangan arsitektur baru atau rasional suatu hasil karya dapat diketahui bagaimana proses kreatifnya.
Berikut ini disajikan poin-poin ciri dari metode perancangan tradisional dan rasional.

METODE TRADISIONAL (BLACK BOX)
  • Menciptakan perancang sebagai empu pencipta bangunan, ahli sulap, atau manusia setengah dewa, yang sebuah benda atau sebuah bangunan hasil ciptaannya hanya untuk dipuji atau dicela dan tidak untuk didiskusikan.
  • Tidak dapat dibicarakan bagaimana proses terjadi atau proses kreatifnya.
CIRI METODE TRADISIONAL
  • Hasil perancangan dikendalikan oleh masukan yang diterima terdahulu dan lebih dominan berdasarkan pengalaman.
  • Hasil perancangan dapat dipercepat tetapi akan mengakibatkan keputusan acak untuk suatu periode tertentu.
  • Kapasitas produksi perancang sangat relevan dengan ketersediaan waktu karena lebih banyak menggunakan imajinasi. sering merupakan lompatan pemahaman yang sulit ditransformasikan.
  • Kontrol intelegensi mengenai struktur masalah dapat mengakibatkan kesempatan memperoleh hasil yang lebih relevan dengan masalah perancangan
METODE BARU/RASIONAL (GLASS BOX)
  • Merupakan metode perancangan rasional
  • Disebut sebagai kotak transparant (glass box)
  • Merupakan kebalikan dari metode tradisional
  • hasil ciptaan dapat ditelusuri bagaimana proses terjadi maupun proses kreatifnya.
CIRI METODE RASIONAL
  • Tujuan, Variable dan Kriteria ditentukan dengan matang
  • Analisis lengkap
  • Evaluasi bermakna dan logis
  • Strategi ditentukan dengan matang.