Tampilkan postingan dengan label Architecture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Architecture. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2015

The Poetics of Space (Ringkasan)

Tahun 2012 lalu saya pernah mencoba menerjemahkan tulisan di website ini untuk mengetahui inti dari isi buku The Poetics of Space karya Gaston Bachelard. Buku ini merupakan salah satu buku yang perlu dibaca oleh mahasiswa arsitektur. Awalnya saya membaca buku tersebut dalam versi bahasa inggrisnya, karena Bahasa Inggris saya saat itu yang masih pas-pasan, saya agak kesulitan untuk mencerna informasinya. Jadi karena saya sangat penasaran saat itu, saya coba mencari ringkasan-ringkasanya dan akhirnya saya menemukan salah satunya disini. Setelah itu saya coba menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia dan kali ini saya bagikan melalui blog ini supaya ke depannya dapat membantu orang-orang yang mengalami hal serupa seperti saya. Mohon maaf jika ada yang tidak tepat, silakan koreksi jika saya salah. Terima kasih :)
  • Judul Buku     : The Poetics of Space
  • Penulis            : Gaston Bachelard
  • Penerbit          : Press Universitaires de France
  • Tahun             : 1958
  • Terjemahan    : The Orion Press. Inc
  • Tahun             : 1964
Dalam bab pembukaan The Poetics of Space Bachelard menempatkan penekanan khusus pada ruang domestik interior dan komponennya : berbagai ruangan dan berbagai jenis furniture di dalamnya. Bachelard mencoba untuk melacak penerimaan gambar puitis dalam kesadaran subjektif, resepsi yang menuntut, sehingga Bachelard memegang keterbukaan besar dan fokus pada pengalaman. Rumah bagi Bachelard merupakan objek fenomenologis klasik, yang berarti bahwa ini adalah tempat di mana pengalaman pribadi mencapai lambang nya. Bachelard melihat rumah sebagai semacam alam semesta awal. Bachelard memeriksa rumah sebagai manifestasi jiwa melalui gambar puitis dan gambar sastra yang ditemukan dalam puisi. Dia meneliti lokasi di rumah sebagai tempat keakraban dan memori yang diwujudkan dalam puisi.

Bachelard menjelaskan fokus pada gambar puitis untuk itu menjadi milik dari kesadaran yang tidak bersalah, sesuatu yang mendahului pikiran sadar, tidak memerlukan pengetahuan dan merupakan produk langsung dari hati dan jiwa. Ini hubungan langsung puisi dengan kenyataan, untuk Bachelard, mengintensifkan realitas objek yang dirasakan ("menambah imajinasi nilai-nilai realitas", The Poetics of Space, hal.3). Puisi Bachelrad memegang dan diarahkan pada satu waktu yang sama baik ke dalam dan ke luar, sehingga membentuk diskusi masa depannya dari dalam dan luar yang begitu akrab bagi siapa saja yang berhubungan dengan teori ruang.

Bachelard menentukan bahwa rumah memiliki baik kesatuan dan kompleksitas, itu terbuat dari kenangan dan pengalaman, berbagai bagiannya membangkitkan sensasi yang berbeda namun menampilkan pengalaman, kesatuan intim hidup. Objek untuk Bachelard dibebankan dengan pengalaman mental. Lemari dibuka adalah bentuk pengungkapan dunia, laci adalah tempat rahasia, dan dengan setiap tindakan kebiasaan kita membuka dimensi tak terbatas dari keberadaan kita.

Dalam "Poetics of Space" Bachelard memperkenalkan konsep tentang topoanalysis, yang didefinisikan sebagai psikologis sistematis mempelajari satu situs dari kehidupan intim kita. Rumah itu, yang paling intim dari semua ruang, "melindungi pelamun" dan oleh karena itu memahami rumah menurut Bachelard adalah cara untuk memahami jiwa kita. Oleh karena itu rumah adalah situs yang sangat cocok untuk penelitian fenomenologis keintiman ruang batin. Untuk tujuan ini, yang diistilahkan "topoanalysis", kita perlu melihat dengan kedua keragaman dan kesatuan, dalam aspeknya serta dalam totalitasnya dari esensi. Rumah untuk Bachelrad adalah sumber gambar puitis, yang memunculkan kedua kompleksitas dan persatuan. Hal ini karena puisi memungkinkan kita untuk mengalami rumah bukan hanya verbalisasi itu.

Rumah untuk Bachelard bukan objek untuk memeriksa dan menjelaskan. Sebaliknya, salah satu gagasan utamanya adalah bahwa seseorang harus melampaui deskripsi hanya untuk memahami kualitas penting ruang, keintiman rumah, perlindungan dan kebahagiaan yang memberi kita. Pemeriksaan fenomenologis representasi puitis rumah, akan memungkinkan kita untuk mengalami arti dari ruang rumah. Dalam pendahuluan The Poetics of Space, Bachelard mencatat bahwa fenomenologi ekspresi puitis adalah fenomenologi jiwa dan bukan pikiran, dan itu ditujukan untuk strata inti, awal dan penting dari pengalaman kami untuk menjadi. Dengan merekonstruksi suatu kesadaran subyektif yang melahirkan gambar puitis rumah kita dan menemukan sebuah individualitas kita bisa terhubung dengan dengan cara analisis kita, yang diberi istilah oleh Bachelard inter-subjectivity.
Bachelard berbicara tentang pemikiran, melamun dan bermimpi dipanggil oleh rumah, suatu tindakan yang membangkitkan masa lalu dan menghubungkannya dengan saat ini. Ketika kita memasuki sebuah rumah baru kita dibanjiri dengan pengalaman rumah sebelumnya, yang bukan kenangan tapi sesuatu yang agak berbeda. Di negara ini semua rumah kehidupan kita melacak kembali ke rumah awal masa kecil kita. Sebagaiman Bachelard katakan "kita tidak pernah menjadi sejarawan nyata, tetapi penyair selalu dekat, dan emosi kita mungkin hanyalah sebuah ekspresi dari sebuah puisi yang hilang (The Poetics of Space, hal.6).

Dalam "The Poetics of Space" Gaston Bachelard memperkenalkan konsep "topoanalysis" yang didefinisikan sebagai "studi psikologis yang sistematis situs kehidupan keluar intim" (The Poetics of Space, h.8). Dia kemudian mulai menyatakan bahwa "dalam teater masa lalu yang didasari oleh memori, pengaturan tahap mempertahankan karakter dalam peran dominan mereka" (ibid). Menurut Bachelard berarti bahwa kenangan dari rumah dan berbagai bagiannya tidak ingat sesuatu melainkan sesuatu yang terjalin dengan masa kini, bagian dari pengalaman yang sedang berlangsung kita saat ini. Bachelard menulis tentang keinginan untuk menghentikan waktu. Cara untuk melampaui sejarah, untuk menghasilkan bahwa ruang yang menunda waktu, adalah melalui pencitraan dan halusinasi. Sejarah Unretrievable yang membatu, kenangan berdiri, mereka tidak bergerak, dan karena itu untuk Bachelard, itu adalah ruang, bukan waktu yang memanggil kenangan. Oleh karena itu ia mencari, melalui yang disebut topoanalysis, pengalaman dan bukan proses, esensi dan bukan kontinjensi dan sekilas.

Dalam rangka memberikan penjelasan tentang kehidupan mental biografi tidak mencukupi untuk Bachelard yang meminta topoanalysis tempat, rumah, dalam hal subjektif. Topoanalysis ini mengkaji keintiman dari kamar rumah demi ruang, spasi setelah ruang. Ini bukan kamar materi aktual atau spasi, melainkan, bermimpi tempat dibayangkan, diingat dan dibaca, yang memungkinkan kita untuk datang lebih dekat dengan inti dari pengalaman mental.

Alam bawah sadar psikoanalitik, Bachelard berpendapat, adalah "normal" setiap kali nyaman dan bahagia tinggal di tempat. Bachelard tidak rumit dalam hal ini tetapi apa yang tersirat dalam kata pengantar The Poetics of Space adalah bahwa bahagia tersebut adalah rasa merasa nyaman, merasa di rumah. Psikoanalisis menyebut bawah sadar ke sadar dalam rangka untuk membantu "tunawisma" menemukan rasa berada di tempat.Topoanalysis, sebagai bantuan bagi psikoanalisis, akan memeriksa ruang di mana kita dapat keluar dari tempat perlindungan bawah sadar dan masukkan sadar imajinasi kita. Dengan ruang-ruang intim menjadi ruang yang penuh kenikmatan, topoanalysis berhubungan dengan topophilia (kasih tempat) - cinta bagi mereka tempat terpapar oleh topoanlysis. Dan melalui konsep topophila, Bachelard memeriksa mereka ruang keintiman dia yaitu kamar rumah. Kapasitas puisi itu, Bachelard memegang, untuk memanggil alam bawah sadar tidak tergantung pada kemampuannya untuk menggambarkan ruang, melainkan untuk mengarahkan atau menetapkan bantalan ke arah itu. Hanya deskripsi yang tersirat akan memungkinkan kita untuk mendatangkan mereka dicari perasaan yang mungkin hilang.

Untuk gagasan tentang topoanalysis dan topophilia diperkenalkan dalam “The Poetics of Space”. Bachelard menambahkan dimensi fisik, dengan alasan bahwa rumah kami yang terukir dalam daging kita. Tubuh lebih baik dalam melestarikan kenangan rinci dari pikiran. Kenangan lainnya adalah lebih sulit untuk melacak dan ini dapat terungkap hanya melalui gambar puitis. Untuk Bachelard, fungsi utama puisi adalah untuk memberikan kita kembali keadaan melamun, yang merupakan sesuatu sejarah, psikologi dan geografi tidak mampu.

Rumah itu, kata Gaston Bachelard dalam "The Poetics of Space", adalah tubuh dari gambar yang memberikan ilusi stabilitas. Dia menawarkan gambar vertikal rumah yang diciptakan oleh polaritas loteng dan ruang bawah tanah yang menunjukkan, untuk Bachelard, irasionalitas dan rasionalitas masing-masing. Alasan untuk naik ke loteng agak jelas untuk loteng tidak hanya tempat penampungan kita dari cuaca tetapi juga membuat jelas seluruh struktur rumah. Loteng, tersebut adalah sebuah metafora untuk kejernihan pikiran. Basement, sebaliknya, adalah entitas gelap, bawah tanah dan tidak rasional. Kedua situs ini muncul dalam mimpi kita dan memproduksi jenis yang bervariasi dari mereka. Bachelard bergantung pada Jung untuk menjelaskan metafora psikoanalitik nya di mana ketika seseorang mendengar suara mencurigakan yang datang dari ruang bawah tanah ia bergegas ke loteng untuk melihat apa yang terjadi selain itu ketika hal itu terjadi di basement maka kebanyakan akan takut untuk turun ke ruang bawah tanah.

Salah satu masalah dengan metafora ini diperkenalkan dalam The Poetics of Space adalah bahwa rumah perkotaan tidak memiliki loteng atau ruang bawah tanah, bertentangan dengan rumah-rumah pedesaan yang jelas dalam pikiran Bachelard. Oleh karena itu Bachelard menyimpulkan bahwa rumah perkotaan kurang memiliki kualitas vertikal keintiman. Kotak-kotak perkotaan, sebagaimana Bachelard katakan, tidak memiliki akar atau ruang di sekitar mereka. Hubungan mereka dengan ruang telah menjadi buatan.satu-satunya cara apartemen hunian perkotaan dapat menawarkan pengalaman diuraikan oleh Bachelard dalam The Poetics of Space dengan menggunakan imajinasi kita, dan di sini Bachelard menjelaskan pengalaman pribadinya di sebuah apartemen Paris di mana ia harus membayangkan secara mental kamarnya dan kota sebagai alam, mengubah sofa menjadi perahu goyang pada gelombang, dan kota ini menjadi lautan.
sumber : diterjemahkan dari http://culturalstudiesnow.blogspot.com/

Selasa, 23 September 2014

Metoda Perancangan Arsitektur (Bag.2)

Memperhatikan antusiasme pengunjung yang cukup tinggi terhadap postingan saya sebelumnya, maka saya tergugah untuk kembali memposting catatan kuliah saya tentang metode perancangan arsitektur. Kali ini topik yang saya coba bagikan adalah tentang proses perancangan arsitektur. Pada dasarnya tahap perancangan arsitektur terdiri dari permulaan, persiapan, evaluasi dan tindakan (JC. Snyder & AJ. Catanese)
1. Tahap Permulaan
  • Menyiapkan portofolio
  • Mengindentifikasi dan mendefinisikan masalah melalui diskusi permulaan dengan klien
  • Menyerap aspirasi klien
  • Merumuskan ide/gagasan permulaan
  • Imajinasi kritis dan kreatif untuk meningkatkan mutu tata lingkungan
Menghasilkan : portofolio, catatan dan sketsa awal

2. Tahap Persiapan
  • Pengumpulan data lapangan: kondisi dan situasi tapak (bentuk, ukuran, kontur tanah, aspek geologis); kondisi iklim; utilitas lingkungan, lalu lintas; kendala peraturan, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat; data keuangan; dan lain-lain)
  • Analisis kebutuhan klien, kebutuhan proyek, dan identifikasi persoalan penting yang harus dipecahkan (pemograman)
  • Penetapan pendekatan/strategi pendekatan
  • Penyusunan kriteria aspek-aspek desain
Menghasilkan : Laporan

3. Tahap Pengajuan Usul

Sintesis, yaitu pengajuan usul rancangan awal yang menghimpun berbagai pertimbangan dari konteks (sosial, ekonomi, budaya, fisik), program, tempat proyek, aspirasi klien, teknologi dan material, estetika, dan pertimbangan nilai lainnya. Usulan merupakan peragaan fisik dari integrasi sejumlah persoalan tersebut.
Menghasilkan : Skematik desain dan Preliminary design

4. Tahap Evaluasi

Evaluasi bisa terjadi pada setiap tahap dan dapat merupakan siklus berulang (umpan balik) untuk merumuskan sintesis terbaik (Lihat tentang: Strategi Umpan Balik dalam Proses Perancangan)
Menghasilkan : Detail Engineering Design dan Dokumen Tender

5. Tahap Tindakan
  • Pengembangan desain
  • Penyusunan detail desain, spesifikasi teknis, rencana anggaran biaya
  • Penyusunan dokumen tender

Senin, 22 September 2014

Konsep Desain Rumah Panggung Sunda Modern

Tahun 2013 lalu saya coba tuangkan gagasan konsep desain rumah Sunda ke dalam Program Kreativitas Mahasiswa. Konsep ini dilatarbelakangi oleh pemanasan global yang menjadi perhatian serius masyarakat di seluruh belahan dunia. Untuk mengatasi pemanasan global digalakkan program pengurangan emisi karbon. Salah satu bentuk dukungan terhadap program tersebut muncul sebuah istilah green architecture. Gerakan ini muncul sebagai suatu kesadaran untuk menciptakan bangunan yang ramah terhadap lingkungan. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa rumah tradisional Sunda telah mampu beradaptasi dengan iklim, sehingga ada yang beranggapan bahwa rumah Sunda termasuk ke dalam kriteria model green architecture. Dengan anggapan tersebut saya mencoba mengkombinasikan desain modern dengan desain tradisional.
Pada bagian atap dibuat tinggi untuk memaksimalkan pengkondisian udara. Atap yang tinggi dapat menyimpan udara kemudian dengan bertahap menyalurkannya ke dalam bangunan. Sehingga hawa dalam bangunan akan terasa sejuk. Selain itu di bagian atapnya pun diberi ventlasi sehingga dapat memaksimalkan sirkulasi udara dan pencahayaan ke dalam ruangan.
Penggunaan jendela kaca yang terbuka lebar pada bangunan dimaksudkan ntuk memaksimalkan pencahayaan yang masuk ke dalam ruangan. Ciri khas rumah sunda adalah rumah dengan bentuk panggung. Maka pada desain ini, kesan bentuk panggung akan tercermin pada bagian terasnya yang diangkat ke atas. Di bawah teras terdapat kolam ikan. Sehingga penghuni rumah dapat bersantai bersama keluarga di teras tersebut sambil menikmati alam buatan.

Sabtu, 03 Mei 2014

Konsep Tri Hita Karana pada Arsitektur Bali

Tri Hita Karana merupakan konsep yang melandasi terbentuknya susunan makrokosmos (bhuana agung) dan mikrokosmos (bhuana alit). Adapun konsep tersebut terdiri dari tiga unsur yaitu atma (jiwa), prana (tenaga), dan angga (fisik). Lebih lanjut konsep tersebut dalam susunan kosmos disajikan pada tabel berikut.

Tabel 1. Konsep Tri Hita Karana dalam Susunan Kosmos
UNSURATMA

(JIWA)
PRANA (TENAGA)ANGGA

(FISIK)
Alam Semesta

(bhuana agung)
Paramaatman

(Tuhan Yang Maha Esa)
Kekuatan yang menggerakkan alamUnsur-unsur Panca Mahabhuta
DesaKahyangan Tiga (Pura Desa, Puseh dan Dalem)Pawongan

(warga desa)
Palemahan

(wilayah desa)
BanjarParahyangan

(Pura Banjar)
Pawongan

(warga banjar)
Palemahan

(wilayah banjar)
RumahPamerajan/

Sanggah
Anggota KeluargaPekarangan Rumah
Manusia

(bhuana alit)
Atman (jiwa manusia)Sabda Bayu IdepBadan/Tubuh Manusia
(Sumber : Rachmat Budihardjo, 2013) 

Dasar konsep tersebut bersumber dari lontar Asta Kosala-Kosali dan Asta Gumi. Parwata (2011) menjelaskan bahwa penjabaran ajaran Tri Hita Karana dan kaitannya dengan konsep Tri Mandala adalah hubungan manusia dengan Tuhannya yang dilakukan dalam dimensi ruang Utama Mandala. Hubungan manusia dengan sesamanya dilakukan dalam dimensi ruang Madya Mandala. Sedangkan dimensi Nista Mandala merupakan hubungan manusia dengan lingkungannya.


Gambar: Konsep Tri Mandala (Sumber : Eko Budihardjo dalam Suharjanto, 2011)

Subandi dalam Kumurur dan Damayanti (2009) mengatakan bahwa agama Hindu mengajarkan agar manusia mengharmoniskan alam semesta dengan segala isinya yakni bhuana agung (Makro kosmos) dengan bhuana alit (Mikro kosmos), dalam kaitan ini bhuana agung adalah lingkungan buatan/bangunan dan bhuana alit adalah manusia yang mendirikan dan menggunakan wadah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
[1]  Budihardjo, R. (2013). Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri. Jurnal Nalars Vol. 12 No. 01
[2]  Kumurur, V.A; Damayanti, S. (2009). Pola Perumahan dan Pemukiman Desa Tenganan Bali. Jurnal Sabua Vol. 01 No. 01
[3]  Parwata, I.W. (2011). Rumah Tinggal Tradisional Bali dari Aspek Budaya dan Antropometri. Jurnal Mudra Vo. 26 No. 01
[4]  Suharjanto, G. (2011). Membandingkan Istilah Arsitektur Tradisional Versus Arsitektur Vernakular : Studi Kasus Bangunan Minangkabau dan Bangunan Bali. Jurnal Comtech Vol. 02 No. 02

Selasa, 29 April 2014

Mengkaji Konsep Berkelanjutan Pada Arsitektur Tradisional Sunda

Arsitektur tradisional Sunda adalah karya arsitektur yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Sunda di Indonesia. Arsitektur tradisional terbangun dengan bahan-bahan alami. Dalam masyarakat tradisional Sunda, untuk mendirikan sebuah bangunan perlu ritual-ritual khusus. Pada intinya mereka mempercayai bahwa lokasi site yang akan dibangun ada yang memilikinya. Ritual khusus tersebut bermaksud untuk memohon izin kepada Yang Maha Kuasa agar pada lokasi yang akan dihuni tersebut nantinya memberikan keselamatan dan keberkahan bagi penghuninya. Dalam membangun pun tidak sembarangan. Material alam yang akan dipakai untuk membangun dipilih dan diupayakan agar tidak merusak komunitas alam. Hal ini berbanding terbalik dengan realita kehidupan masyarakat modern saat ini yang cenderung mengeksploitasi alam. Inilah mengapa terjadi persoalan banjir dan tanah longsor. Bahkan masalah banjir telah menjadi perhatian khusus bagi para kepala daerah di Indonesia.

Menarik pada masyarakat tradisional begitu kaya akan filosofi dan pandangan hidup mereka terhadap alam semesta. Falsafah hidup tersebut mempengaruhi desain arsitektur mereka. Mari kita diskusikan hal ini. Beberapa yang saya catat tentang konsep berkelanjutan (sustainable) pada arsitektur tradisional sunda dirangkum ke dalam tiga aspek yaitu pada bentuk bangunan, struktur bangunan dan material yang digunakan untuk membangun.

salah satu karya arsitektur tradisional Sunda di Kampung Naga, Tasikmalaya
Konsep Bangunan

Rumah pada arsitektur tradisional Sunda didesain dengan menggunakan rumah panggung. Pada rumah panggung, massa bangunan diangkat ke atas dengan pondasi umpak sehingga terbentuk kolong di bawah rumah. Kolong pada rumah panggung memungkinkan terjadinya sistem sirkulasi udara secara menyilang yang diilustrasikan pada gambar berikut.


Berdasarkan ilustrasi tersebut, sirkulasi udara terjadi tidak hanya horizontal tetapi juga dari bawah bangunan. Udara yang masuk adalah udara yang masih bersih dan sejuk sehingga menyehatkan kondisi di dalam bangunan. Udara yang telah tercemar atau telah berputar di dalam ruangan akan dikeluarkan melalui ventilasi dan bukaan.

Struktur Bangunan
  1. Pondasi Rumah tradisional Sunda dibangun dengan menggunakan pondasi umpak. Pondasi umpak ini terletak di atas permukaan tanah. Sehingga mengangkat massa bangunan ke atas. Pondasi umpak ini menyebabkan terjadinya ruang kosong di bawah massa bangunan yaitu kolong. Kolong dibiarkan secara alami berupa tanah tanpa sentuhan penyelesaian. Tanah yang dibiarkan apa adanya tersebut menciptakan area untuk resapan air. Pada saat hujan turun, air hujan akan meresap dengan cepat ke dalam tanah sehingga mencegah terjadinya banjir. 
  2. Lantai, biasanya masyarakat sunda menggunakan lantai yang disebut dengan palupuh (lantai bambu). Lantai bambu ini menimbulkan celah-celah sempit yang memungkinkan untuk masuknya aliran udara dari kolong. 
  3. Dinding, dinding pada rumah tradisional Sunda menggunakan bilik bambu. 
  4. Atap, masyarakat Sunda menggunakan material ijuk atau alang-alang untuk penutup atap rumahnya. Material ijuk atau alang-alang dapat menyerap hawa panas dari radiasi sinar matahari sehingga suhu di bawah atap menjadi tetap sejuk.
pondasi umpak dan sambungannya kepada struktur diatasnya. Untuk menyambungkan pondasi dengan struktur bagian tengah bangunan, balok kayu hanya ditempelkan saja di atas pondasi.

Material/Bahan Bangunan

Masyarakat Sunda membangun rumah mereka berdasarkan kepercayaan terhadap pembagian kekuasaan dunia. Masyarakat Sunda percaya dengan konsep buana panca tengah yang merupakan metafora alam semesta tempat dimana manusia hidup. Representasi terhadap kepercayaan tersebut menyebabkan rumah tradisional Sunda tidak langsung menyentuh kepada tanah, tetapi diberi jarak untuk menghormati tempat orang yang sudah meninggal. Tanah dalam kosmologi masyarakat Sunda merupakan larangan bagi orang yang masih hidup. Oleh karena itu material bangunan yang dipilih menghindari unsur tanah di dalamnya seperti batu bata, genteng yang berasal dari tanah liat, dan keramik. Masyarakat Sunda beranggapan apabila orang yang masih hidup menggunakan material yang terbuat dari tanah sama artinya dengan mengubur diri. Sehingga material yang dipilih banyak berupa kayu, bambu, dan ijuk. Hal ini cukup beralasan karena wilayah Jawa Barat sebagai tempat tinggal masyarakat Sunda, dianugerahi kekayaan alam yang melimpah ruah.


foto saat pembangunan rumah tradisional Sunda di Kampung Naga. untuk konstruksi atapnya bambu digunakan sebagai pengganti kayu. 

Interior pada gambar ini adalah sebuah sebuah masjid di Kampung Naga. Kami beruntung karena pada saat kami berkunjung ke sana sedang dilakukan renovasi masjid. (dari kiri ke kanan) Saya, dosen : Pak Nuryanto, Ikhwan, dan Adam

Arsitektur Rumah Tradisional Sunda

Bentuk rumah masyarakat Sunda adalah panggung, yaitu rumah berkolong dengan menggunakan pondasi umpak. Di samping itu, panggung merupakan bentuk yang paling penting bagi masyarakat Sunda, dengan suhunan panjang dan jure. Bentuk panggung yang mendominasi sistem bangunan di Tatar Sunda mempunyai fungsi teknik dan simbolik. Secara teknik rumah panggung memiliki tiga fungsi, yaitu: tidak mengganggu bidang resapan air, kolong sebagai media pengkondisian ruang dengan mengalirnya udara secara silang baik untuk kehangatan dan kesejukan, serta kolong juga dipakai untuk menyimpan persediaan kayu bakar dan lain sebagainya (Adimihardja dalam Nuryanto, 2006).

Fungsi secara simbolik didasarkan pada kepercayaan Orang Sunda, bahwa dunia terbagi tiga: buana larang, buana panca tengah, dan buana nyuncung. Buana panca tengah merupakan pusat alam semesta dan manusia menempatkan diri sebagai pusat alam semesta, karena itulah tempat tinggal manusia harus terletak di tengah-tengah, tidak ke buana larang (dunia bawah/bumi) dan buana nyuncung (dunia atas/langit). Dengan demikian, rumah tersebut harus memakai tiang yang berfungsi sebagai pemisah rumah secara keseluruhan dengan dunia bawah dan atas. Tiang rumah juga tidak boleh terletak langsung di atas tanah, oleh karena itu harus di beri alas yang berfungsi memisahkannya dari tanah yaitu berupa batu yang disebut umpak sebagainya (Adimihardja  dalam Nuryanto, 2006).


Gambar. Konsep Rumah Panggung Sunda
(Sumber : Iswanto,2013)

Secara teknis, rumah tradisional Sunda memiliki ciri yang khas, yaitu bentuk atap yang menyesuaikan terhadap keadaan alam, fungsi, dan adat istiadat dari kampung setempat (Anwar dan Nugraha, 2013). Material yang digunakan untuk membangun semua bersumber dari alam. Hasil karya mereka tampak harmoni dengan lingkungan sekitarnya sehingga keberlangsungan hidup generasi pada masa yang akan datang tetap terjaga dengan baik.

Daftar Pustaka

[1] Anwar H, Nugraha HA. (2013). Rumah Etnik Sunda. Jakarta : Griya Kreasi
[2] Iswanto HY. (2013). Kajian Konsep Green Architecture Berbasis Arsitektur Tradisional Sebagai Manifestasi Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia. File Presentasi
[3] Nuryanto. (2006). Kontinuitas dan Perubahan Pola Kampung dan Rumah Tinggal dari Kasepuhan Ciptarasa ke Ciptagelar di  Kab.Sukabumi-Jawa Barat. Laporan Tesis Magister Arsitektur, SAPPK-ITB. Tidak diterbitkan

Sabtu, 11 Mei 2013

Revitalisasi Halte Sebagai Upaya Mengurangi Penyebab Kemacetan LaluLintas

Pemerintah Kota Bandung telah membangun halte yang tersebar ke seluruh penjuru kota. Halte tersebut berfungsi sebagai tempat calon penumpang menunggu angkot atau bus kota. Namun halte yang ada belum berfungsi secara optimal.Desain halte tidak menguntungkan kepada calon penumpang. Informasi mengenai jurusan angkutan terdapat di belakang dan ukuran tulisannya pun tampak kecil, sehingga akan sulit dibaca dari kejauhan. Sebagai kota tujuan wisata, baik domestik maupun mancanegara, maka ketersediaan peta Kota Bandung menjadi penting untuk menambah citra positif terhadap pemerintah kota. Namun seperti yang tampak pada gambar, hal ini terabaikan.Kemudian, berdasarkan pemantauan, keadaan halte di Kota Bandung terkesan kumuh dan tidak terawat, sehingga calon penumpang merasa sungkan untuk menunggu angkutan di halte.Sebagian halte dijadikan objek aksi vandalisme yang merusak estetika halte tersebut.Di beberapa halte justru dijadikan tempat untuk berjualan, sehingga halte tersebut kehilangan fungsi utamanya. Keberadaan halte di Kota Bandung yang tidak terawat dapat merusak pemandangan kota.
Halte merupakan suatu tempat yang dirancang bagi prasarana masyarakat calon penumpang untuk naik atau turun dari angkutan umum.Halte merupakan suatu bentuk terminal dalam skala kecil (Indra Lesmana, 2007).Penyediaan terminal merupakan suatu persyaratan mutlak untuk memperoleh sistem perangkutan yang efisien dan aman, baik bagi gerak angkutan maupun bagi sistem lalu lintas itu sendiri (Hussain, 1985).Oleh karena itu penyelenggaraan terminal berperan dalam menunjang tersedianya jasa transportasi yang sesuai dengan tingkat kebutuhan lalu lintas dan pelayanan angkutan yang selamat, aman, cepat, tepat, nyaman, teratur dan dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat (Djaelani, 1999).

Potensi angkot yang ada saat ini berjumlah 38 trayek (Sumber : Bandung Dalam Angka) yang dapat didayagunakan secara optimal. Dengan jumlah trayek tersebut dapat meminimalisasi kecenderungan masyarakat untuk bepergian menggunakan kendaraan pribadi.Dalam sebuah survey yang dilakukan terungkap bahwa sebesar rata-rata 75% masyarakat mempunyai minat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, beberapa angkot cenderung tidak disiplin untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.Angkot bisa berhenti di mana saja, bahkan dapat berhenti di tengah jalan, sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas.Dari hasil wawancara terhadap sopir angkot didapat hasil bahwa rata-rata kejadian tersebut disebabkan oleh faktor calon penumpang yang tidak menunggu di halte.Berdasarkan hasil survey 9 dari 10 orang menyatakan bahwa mereka tidak menggunakan halte ketika naik atau turun dari angkot.Alasannya adalah karena lokasi halte sangat jauh dari lokasi keinginan penumpang untuk naik atau turun dari angkot.

Penyediaan halte yang baru di seluruh penjuru Kota Bandung akan menertibkan angkot di Kota Bandunguntuk menaikkan dan menurunkan penumpang pada tempatnya. Halte yang baru, dirancang dengan mempertimbangkan fungsi dan  estetika arsitektur sebagai penarik minat masyarakat untuk mau menggunakan halte. Hal ini memberikan pelayanan berkualitas prima kepada masyarakat untuk menunjukkan keunggulan angkot agar masyarakat tertarik menggunakan angkot sebagai sarana transportasi utama sehari-hari sehingga penggunaan kendaraan pribadi dapat diminimalkan intesitasnya.Serta bagi masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan angkot, agar dapat tertarik untuk disiplin menggunakan halte.


Gambar : Gagasan Desain Halte (Sumber : Dokumentasi Pribadi)
Halte yang akan dirancang tentu harus memberikan perlindungan kepada pengguna halte tersebut dari terik matahari dan air hujan. Maka desain halte akan dirancang sedemikian rupa untuk memberikan kenyamanan bagi penggunanya. Kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan wisata di Indonesia, maka desain halte yang baru akan mencerminkan wajah Kota Bandung untuk mempromosikan khazanah budaya Sunda sebagai jati diri Kota Bandung. Konsep dari desain ini adalah “Mulih ka Bandung” yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Kembali ke Bandung”. Hal ini akan tampak pada ornamen - ornamen yang tersemat pada bangunan halte. Untuk memudahkan navigasi calon penumpang angkot, maka disediakan peta Kota Bandung yang memuat lokasi titik - titik halte terbangun. Selain itu dilakukan penyempurnaan terhadap informasi trayek angkutan kota yang akan transit di halte tersebut.
*Catatan : Gagasan ini telah dipresentasikan dalam bentuk proposal penelitian PKM-GT Tahun 2012

Selasa, 07 Mei 2013

Keraton Yogyakarta Hadiningrat

Keraton ini mulai dibangun pada tahun 1755 oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Hamengkubuwono I. Beliau merencanakan suatu susunan perumahan yang mencerminkan struktur sosial di bawah kedaulatan yang baru. Dalam sistem ini raja adalah pusat dan satu-satunya sumber kekuatan, dalam keraton ini ia dikelilingi oleh keluarga dan kerabat dekatnya. Lapisan berikutnya adalah para abdi setia yang terpilih dan baru di luar itu orang kebanyakan.

Keraton disusun sebagai serangkaian pekarangan yang tersusun simetris sepanjang sumbu utara-selatan. Tatanan ini mengarah ke pusat yaitu pekarangan terdalam, Kedathon, tempat Sultan bekerja sehari-hari.

pekarangan ini diapit di sisi timur oleh pekarangan Kasatriyan, yaitu tempat tinggal putra-putra Sultan yang belum menikah. Sementara itu, sisi barat adalah Keputren, tempat tinggal para istri dan anak-anak Sultan. Di ujung terbarat adalah Dalem Kedhaton Kilen, kediaman Ibunda Sultan, orang yang paling tinggi kedudukannya dalam keluarga Sultan. Arah timur ke barat ini berselarasan dengan perjalanan Sultan, sewaktu muda di sisi timur (dalam bahasa Jawa 'timur' berarti 'muda'), kemudian sebagai Sultan berdiam di tengah sedang masa tua adalah sisi matahari terbenam.

inti dari pekarangan Kedathon adalah bangunan utamanya, Prabayeksa. Di tempat inilah tersimpan inti kekuatan raja-raja Jawa. Di sinilah semua pusaka disimpan untuk dikembangkan dan diarahkan oleh pemiliknya, yaitu Sultan. Bangunan besar ini hampir tertutup sama sekali dan berkesan kosong karena memang tidak ada yang meninggali bangunan ini lagi sejak Hamengkubuwono I mangkat. Bagaimanapun, bangunan inilah inti kerajaan, sesuai dengan namanya praba (=sinar, wibawa) yeksa, yasa (=mengusahakan, mengembangkan). Singkatnya, 'pengembang kewibawaan' raja.

Jika keraton mengarah ke sumbu utara-selatan, maka Prabayeksa menghadap ke timur, ke arah terbitnya matahari. mungkin ini ada hubungannya dengan tradisi pertanian karena di keraton pasisiran semua bangunannya mengarah utara dan selatan. Bangunan-bangunan lain di pekarangan ini Gedong Jene yang menjadi tempat tinggal sebenarnya bagi Sultan, sekaligus tempat kerja dan menerima tamu-tamu resmi. Di depan Prabayeksa adalah Bangsal Kencana, bangunan terbuka untuk pertunjukan dan pergelaran.

Ke sebelah utara pekarangan Kedhaton adalah pekarangan Srimanganti, tempat para tamu menunggu sebelum diizinkan masuk ke Kedhaton. Ke luar melalui gapura Srimanganti adalah pekarangan Kemandhungan Utara dan melalui gerbang Brajanala mencapai Sitihinggil dan Pagelaran, bagian paling depan komplek Keraton tempat Sultan duduk menghadapi rakyatnya yang berkumpul di Alun-alun.

Sama halnya dengan arah selatan, melalui Gerbang Kemagangan masuk ke pekarangan Kemagangan lalu di seberangnya Gerbang Gadungmlati yang menghubungkan ke pekarangan Kemandhungan Selatan. Dari sini, Sitihinggil Selatan terhubung oleh Gerbang Kemandhungan. Terakhir adalah Alun-alun Selatan yang sedikit lebih kecil dari Alun-alun Utara.

Seluruh kompleks ini seluas 14000 meter persegi  masih dikelilingi oleh dinding tinggi atau benteng. Lima gerbang menghubungkan keraton ke dunia luar. Yaitu Tarunasura atau Wijilan di arah timur laut, Jagasura atau Ngasem di barat laut, Jagabaya atau Tamansari di barat, Nirbaya atau Gading di selatan serta terakhir Madyasura di arah timur.

Di luar benteng sebenarnya masih ada beberapa unsur yang termasuk dalam konstelasi Keraton Yogyakarta, yaitu Tamansari di sisi barat daya keraton. Tugu atau Pal Putih di ujung utara kota serta Panggung Krapyak jauh ke arah selatan. Tamansari adalah sebuah kompleks bangunan yang sangat menakjubkan, sebuah taman bercengkerama yang bentuknya luar biasa, tempat Sultan berhubungan dengan Penguasa Laut Selatan, tetapi sekaligus juga sebagai pertahanan terakhir jika keraton diserbu musuh.

Sabtu, 27 April 2013

Definisi Rumah Tinggal

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman mendefinisikan bahwa :
  1. Rumah  adalah    bangunan  yang  berfungsi  sebagai  tempat  tinggal  atau  hunian  dan  sarana pembinaan keluarga,
  2. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan,
  3. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan  perkotaan  maupun  perdesaan  yang  berfungsi  sebagai  lingkungan  tempat  tinggal  atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
Pengertian rumah dikemukakan Budihardjo (1987) antara lain: rumah sebagai simbol dan pencerminan tata nilai  selera pribadi  penghuninya atau dengan kata lain sebagai pengejawantahan jati diri, rumah sebagai wadah keakraban diamana rasa memiliki, kebersamaan, kehangatan, kasih dan rasa aman tercipta didalamnya, rumah sebagai tempat kita menyendiri dan menyepi, yaitu sebagai tempat melepaskan diri dari dunia luar, tekanan dan tegangan, rumah sebagai tempat untuk kembali pada akar dan menumbuhkan rasa kesinambungan dalam untaian proses ke masa depan, rumah sebagai wadah kegiatan utama sehari-hari, rumah sebagai pusat jaringan sosial, rumah sebagai struktur fisik dalam arti rumah adalah bangunan.

Menurut Johan Silas (2002) rumah  mengandung pengertian:
  • Sebagai tempat penyelenggaraan kehidupan dan penghidupan keluarga; rumah harus memenuhi kebutuhan yang bersifat biologis seperti makan, belajar, dan lain-lain, juga memenuhi kebutuhan non biologis, seperti bercengkrama dengan anggota keluarga atau dengan tetangga.
  • Rumah berfungsi sebagai sarana investasi; rumah mempunyai nilai investasi yang bersifat moneter yang dapat diukur dengan uang dan non moneter yang tidak dapat diukur dengan uang., tetapi lebih pada keuntungan moral dan kebahagiaan keluarga.
  • Rumah sebagai sarana berusaha; melalui rumah penghuni dapat meningkatkan pendapatannya guna kelangsungan hidupnya.
  • Rumah sebagai tempat bernaung harus memenuhi kebutuhan ruang akan kegiatan bagi penghuninya. Terdapat beberapa ruang pokok yang ada pada sebuah rumah, yaitu ruang tidur, ruang belajar atau ruang kerja, ruang keluarga,  ruang services seperti dapur, dan teras atau ruang tamu. Makna yang terkandung didalam kebutuhan ruang-ruang tersebut mencerminkan bahwa rumah adalah tempat untuk  istirahat, tempat untuk mengaktualisasikan diri guna meningkatkan mutu kehidupan, rumah sebagai tempat sosialisasi utamanya dengan keluarga, rumah sebagai tempat menyediakan kebutuhan jasmani dan rohani, serta rumah sebagai tempat bernaung
Sumber : 
  • UU No. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman
  • Hilman, Maman. 2010. Materi Kuliah Rekayasa Lahan II. Bandung : UPI

Rabu, 10 April 2013

Toko De Vries, Toserba Pertama di Bandung

Jalan-jalan di Kawasan Braga Bandung serasa kembali ke masa lalu. Di kawasan ini banyak karya arsitektur bergaya Eropa. Ya, sama seperti kota tua di Jakarta dan di Semarang. Kawasan Braga menjadi pusat kebudayaan warga Belanda di Indonesia pada zaman penjajahan dulu. Kalau kita bergerak dari arah Jl. Jend. Ahmad Yani menuju Alun-alun Bandung kita akan melewati Jl. Asia Afrika. Terkenal di kawasan ini adalah Gedung Merdeka dan Hotel Savoy Homann. Tapi jangan lewatkan di sebelah Hotel Savoy Homann ada bangunan peninggalan Belanda yang juga menarik sejarahnya. Ya, namanya Toko De Vries.
Gambar. Toko De Vries (Sumber : Dokumentasi Pribadi)
Toko de Vries terletak di bagian ujung selatan Jalan Braga, bersebelahan dengan Hotel Savoy Homann. Bangunan ini juga bersebrangan dengan Gedung bersejarah Concordia yang kini dikenal sebagai Gedung Merdeka. Pada awalnya bangunan Toko De Vries ini dibangun pada tahun 1895 denga gaya bangunan Oud Indisch Stijl (Gaya Klasik Indies) Kemudian dipugar oleh Biro Edward Cuypers Hulswit menjadi bangunan yang bergaya klasik Eropa. Ciri khasnya adalah pada menara yang menyatu dengan bangunannya. Toko de Vries merupakan toko serba ada yang pertama, terbesar, dan terlengkap di Bandung hingga dekade pertama abad ke-20.

Green Architecture, Solusi Bangunan Ramah Lingkungan

Oleh :
Hadi Yanuar Iswanto
NIM : 1006590

Akhir-akhir ini orang-orang di seluruh dunia ramai membicarakan tentang  “go  green”.  Apa sebenarnya “go green” ? Secara harafiah dalam Bahasa Inggris ‘go’ berarti menuju dan ‘green’ berarti warna hijau, maka “go green” berarti mengajak kita untuk menuju “hijau”. Ini terdengar seperti sebuah semangat untuk melakukan penghijauan. Di  dalam  dunia  arsitektur  ada istilah green architecture (arsitektur hijau), merupakan konsep bangunan berwawasan lingkungan. Arsitektur hijau, secara sederhana mempunyai pengertian bangunan atau lingkungan binaan yang dapat mengurangi atau dapat melakukan efisiensi sumber daya material, air dan energi. Dalam pengertian yang lebih luas, adalah bangunan atau lingkungan binaan yang efisien dalam penggunaan energi, air dan segala sumber daya yang ada, kemudian mampu menjaga keselamatan, keamanan dan kesehatan penghuninya dalam mengembangkan produktivitas penghuninya, serta mampu mengurangi sampah, polusi dan kerusakan lingkungan.

Green (hijau) dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), earthfriendly  (ramah  lingkungan),  dan  high  performance  building (bangunan  dengan  performa  sangat  baik). Bangunan berkonsep green architecture mempunyai satu sifat yang tidak kalah pentingnya dengan sifat- sifat lainnya. Sifat ini adalah “High performance building”. Pada dasarnya bangunan green architecture harus mempunyai  sifat  ini.  Salah  satu  fungsinya  ialah  untuk  meminimaliskan penggunaan energi dengan memenfaatkan energi yang berasal dari alam (Energy of nature) dan dengan dipadukan dengan teknologi tinggi (High technology  performance).  Contohnya  adalah  memanfaatkan sumber yang dapat diperbaharui seperti menggunakan sinar matahari melalui passive solar dan active solar, serta teknik photovoltaic dengan menggunakan tanaman dan pohon-pohon melalui atap hijau dan taman hujan. Konsep arsitektur hijau sangat mendukung program penghematan energi. Rumah ala tropis dengan banyak bukaan, dibentuk untuk mengurangi pemakaian AC juga penerangan adalah prinsip arsitektur hijau di daerah tropis. Namun, hal tersebut tidak akan berjalan mulus jika sekeliling rumah tidak asri. Bukaan banyak hanya akan memasukkan udara panas dan membuat pemiliknya tetap memasang pendingin ruangan. Oleh sebab itu pekarangan perlu dihijaukan dengan tanaman apa saja, permukaan tanah tidak ditutup dengan beton dan menerapkan manajemen sampah yang ketat.

Dari segi interior, arsitektur hijau mensyaratkan dekorasi dan perabotan tidak perlu berlebihan, saniter lebih baik, dapur bersih, desain hemat energi, kemudahan air bersih, luas dan jumlah ruang sesuai kebutuhan, bahan bangunan berkualitas dan konstruksi lebih kuat, serta saluran air bersih. Untuk mengatasi limbah sampah secara mandiri, lubang biopori dapat menjadi solusi.

Di Indonesia, kampanye go green ini sudah mulai digalakkan. Banyak bangunan-bangunan seperti rumah tinggal atau bangunan komersial lainnya yang mulai menyelaraskan konsep desainnya dengan green architecture. Saat ini konsep green architecture telah diwujudkan secara nyata pada beberapa hunian vertical atau apartemen di kota-kota besar di Indonesia. Konsep green apartment dalam beberapa tahun belakangan memang terus dikembangkan oleh pengembang properti. Konsep ini diaplikasikan melalui keberadaan taman-taman di beberapa balkon yang bisa digunakan penghuni apartemen untuk bersantai dan menikmati hijau dedaunan di tengah kota.

Arsitektur hijau tentunya lebih dari sekedar menanam rumput atau menambah tanaman lebih banyak di sebuah bangunan, tapi juga lebih luas dari itu, misalnya memberdayakan arsitektur atau bangunan agar lebih bermanfaat bagi lingkungan, menciptakan ruang-ruang publik baru, menciptakan alat pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya.

Maka dari itu sangat beralasan jika program green architecture ini dapat diterapkan di masyarakat luas, karena dengan menerapkan konsep ini keuntungannya dari sisi ekonomi sangat nyata dan terukur. Penggunaan pendingin ruangan dan penerangan ruangan serta penghematan air hingga 26-40 % setiap bulan. Selain itu penerapan konsep ini pun sejalan dengan pengurangan emisi karbon 2020. 

DAFTAR RUJUKAN

-          Buku
  • Hyde, Richard.2008. Bioclimatic Housing, Innovative Designs for Warm Climates.London: Cromwell Press
  • M.Echols, John dan Shadily, Hassan. Kamus Bahasa Inggris – Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka
  • Setiawan, Achnin.2010.Pusat Kebugaran Jasmani dan Spa di Jakarta (pendekatan konsep Green Architecture). Universitas Muhammadiyah Surakarta

-          Internet

-          Koran Online

Jumat, 15 April 2011
Jumat, 9 September 2011

Kamis, 16 Juni 2011

Minggu, 24 Maret 2013

Insiden Perobekan Bendera di Bank Dennis

Kali ini saya berjalan-jalan ke sekitar Braga. Keunikan jalan Braga inilah yang membuat Kota Bandung sebagai Parijs Van Java oleh Belanda. Artinya adalah Parisnya Jawa. Memang saat kita berjalan di Jalan Braga ini akan disuguhi pemandangan yang berbeda. Deretan-deretan gedungnya yang bernuansa eropa, membuat kita serasa berada di Paris. Kalau ke Bandung belum pernah ke Braga belum lengkap rasanya. Jadi kalau mampir ke Bandung sempatkan ke Braga ya :)
Sekarang saya ingin membahas gedung Bank Jabar Banten (BJB) di Braga. Gedung Bank BJB ini dapat kita temukan di persimpangan Jalan Braga dengan Jalan Naripan Bandung. Bangunannya bergaya arsitektur art deco yang merupakan karya dari A.F. Aalbers.  Gedung ini dulunya bernama De Eerste Nederlands-Indische Spaarkas en Hypotheek Bank (Dennis Bank). Baru pada tahun 1961, Gedung Bank Dennis ini dirubah namanya menjadi Bank Karya. Ada peristiwa menarik yang mendahuluinya. Gedung Bank Dennis memiliki menara, tempat bendera Belanda dikibarkan. Pada bulan Oktober, bendera Belanda tersebut masih dikibarkan, sehingga menimbulkan insiden perobekan bendera Seperti yang terjadi di Hotel Oranye, Surabaya.

Gambar : Menara Bank Dennis (Sekarang Bank BJB)
Para pemuda yang marah berusaha menaiki menara gedung tersebut, namun hanya dua diantaranya, Moh. Endang Karmas dan Mulyono yang berhasi memanjat tiang bendera. Setelah dengan susah payah berada di atas tiang, Mulyono memegang ujung bendera yang terkulai. Endang Karmas yang berada di bagian atas segera mencabut bayonet yang terselip di pingggangnya. Ia merobek warna biru pada bendera itu, sehingga yang tersisa hanya warna merah dan putih dengan sedikit sisa warna biru (Sitaresmi, 2002) dalam (Her Suganda, 2011).

Para pemuda tersebut hampir saja menjadi korban, karena serdadu-serdadu Belanda yang menempati Hotel Savoy Homann membidikkan senjatanya lalu menembaki kedua pemuda tersebut

Sabtu, 08 Desember 2012

Bandung dan Art Deco

Jumat, 16 November 2012

Kota Berkelanjutan

Jumat, 14 September 2012

Definisi Arsitektur

Apabila kita mengatakan definisi, maka tiap orang memiliki pendapat yang berbeda satu sama lain. Banyak sekali pendapat ahli mengenai pengertian arsitektur. Secara garis besar arsitektur adalah seni merancang bangunan yang didalamnya terdapat aspek fisik, psikis, ekonomi, sosial dan budaya.

Berikut beberapa pendapat dari para ahli mengenai pengertian arsitektur.

Marcus Pollio Vitruvius (1486)
Kesatuan dari kekuatan/kekokohan (firmitas), keindahan (venustas), dan kegunaan/fungsi (utilitas)

Banhart CL. Dan Jess Stein
adalah seni dalam mendirikan bangunan termasuk didalamnya segi perencanaan, konstruksi, dan penyelesaian dekorasinya; sifat atau bentuk bangunan; proses membangun; bangunan dan kumpulan bangunan

van Romondt
adalah ruang tempat hidup manusia dengan bahagia. Ruang berarti menunjuk pada semua ruang yang terjadi karena dibuat oleh manusia atau juga ruang yang terjadi karena proses alam seperti gua, naungan pohon dan lain-lain

Robert Gutman (1976)
sesungguhnya merupakan kulit ketiga manusia. Arsitektur merupakan lingkungan buatan yang bukan saja menjembatani antara manusia dengan lingkungan melainkan sekaligus merupakan wahana ekspresi kultural untuk menata kehidupan jasmaniah,psikologis dan sosial manusia.

Claudil (1979)
adalah sesuatu yang bersifat personal, menyenangkan dan memerlukan pengalaman. Arsitektur adalah hasil persepsi dan penghargaan manusia terhadap ruang dan bentuk. Ada tiga pengalaman arsitektur: aspek fisikal, emosional dan kebutuhan intelektual

Francis DK Ching (1979)
arsitektur membentuk suatu tautan yang mempersatukan ruang, bentuk, teknik dan fungsi.

Amos Rappoport (1981)
adalah ruang tempat hidup manusia, yang lebih dari sekedar fisik, tapi juga menyangkut pranata-pranata budaya dasar. Pranata ini meliputi: tata atur kehidupan sosial dan budaya masyarkat, yang diwadahi dan sekaligus memperngaruhi arsitektur

JB. Mangunwijaya (1992)
arsitektur sebagai vastuvidya (wastuwidya) yang berarti ilmu bangunan. Dalam pengertian wastu terhitung pula tata bumi, tata gedung, tata lalu lintas (dhara, harsya, yana)
sumber : file.upi.edu