Tampilkan postingan dengan label inovasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inovasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Mei 2013

Revitalisasi Halte Sebagai Upaya Mengurangi Penyebab Kemacetan LaluLintas

Pemerintah Kota Bandung telah membangun halte yang tersebar ke seluruh penjuru kota. Halte tersebut berfungsi sebagai tempat calon penumpang menunggu angkot atau bus kota. Namun halte yang ada belum berfungsi secara optimal.Desain halte tidak menguntungkan kepada calon penumpang. Informasi mengenai jurusan angkutan terdapat di belakang dan ukuran tulisannya pun tampak kecil, sehingga akan sulit dibaca dari kejauhan. Sebagai kota tujuan wisata, baik domestik maupun mancanegara, maka ketersediaan peta Kota Bandung menjadi penting untuk menambah citra positif terhadap pemerintah kota. Namun seperti yang tampak pada gambar, hal ini terabaikan.Kemudian, berdasarkan pemantauan, keadaan halte di Kota Bandung terkesan kumuh dan tidak terawat, sehingga calon penumpang merasa sungkan untuk menunggu angkutan di halte.Sebagian halte dijadikan objek aksi vandalisme yang merusak estetika halte tersebut.Di beberapa halte justru dijadikan tempat untuk berjualan, sehingga halte tersebut kehilangan fungsi utamanya. Keberadaan halte di Kota Bandung yang tidak terawat dapat merusak pemandangan kota.
Halte merupakan suatu tempat yang dirancang bagi prasarana masyarakat calon penumpang untuk naik atau turun dari angkutan umum.Halte merupakan suatu bentuk terminal dalam skala kecil (Indra Lesmana, 2007).Penyediaan terminal merupakan suatu persyaratan mutlak untuk memperoleh sistem perangkutan yang efisien dan aman, baik bagi gerak angkutan maupun bagi sistem lalu lintas itu sendiri (Hussain, 1985).Oleh karena itu penyelenggaraan terminal berperan dalam menunjang tersedianya jasa transportasi yang sesuai dengan tingkat kebutuhan lalu lintas dan pelayanan angkutan yang selamat, aman, cepat, tepat, nyaman, teratur dan dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat (Djaelani, 1999).

Potensi angkot yang ada saat ini berjumlah 38 trayek (Sumber : Bandung Dalam Angka) yang dapat didayagunakan secara optimal. Dengan jumlah trayek tersebut dapat meminimalisasi kecenderungan masyarakat untuk bepergian menggunakan kendaraan pribadi.Dalam sebuah survey yang dilakukan terungkap bahwa sebesar rata-rata 75% masyarakat mempunyai minat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, beberapa angkot cenderung tidak disiplin untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.Angkot bisa berhenti di mana saja, bahkan dapat berhenti di tengah jalan, sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas.Dari hasil wawancara terhadap sopir angkot didapat hasil bahwa rata-rata kejadian tersebut disebabkan oleh faktor calon penumpang yang tidak menunggu di halte.Berdasarkan hasil survey 9 dari 10 orang menyatakan bahwa mereka tidak menggunakan halte ketika naik atau turun dari angkot.Alasannya adalah karena lokasi halte sangat jauh dari lokasi keinginan penumpang untuk naik atau turun dari angkot.

Penyediaan halte yang baru di seluruh penjuru Kota Bandung akan menertibkan angkot di Kota Bandunguntuk menaikkan dan menurunkan penumpang pada tempatnya. Halte yang baru, dirancang dengan mempertimbangkan fungsi dan  estetika arsitektur sebagai penarik minat masyarakat untuk mau menggunakan halte. Hal ini memberikan pelayanan berkualitas prima kepada masyarakat untuk menunjukkan keunggulan angkot agar masyarakat tertarik menggunakan angkot sebagai sarana transportasi utama sehari-hari sehingga penggunaan kendaraan pribadi dapat diminimalkan intesitasnya.Serta bagi masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan angkot, agar dapat tertarik untuk disiplin menggunakan halte.


Gambar : Gagasan Desain Halte (Sumber : Dokumentasi Pribadi)
Halte yang akan dirancang tentu harus memberikan perlindungan kepada pengguna halte tersebut dari terik matahari dan air hujan. Maka desain halte akan dirancang sedemikian rupa untuk memberikan kenyamanan bagi penggunanya. Kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan wisata di Indonesia, maka desain halte yang baru akan mencerminkan wajah Kota Bandung untuk mempromosikan khazanah budaya Sunda sebagai jati diri Kota Bandung. Konsep dari desain ini adalah “Mulih ka Bandung” yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Kembali ke Bandung”. Hal ini akan tampak pada ornamen - ornamen yang tersemat pada bangunan halte. Untuk memudahkan navigasi calon penumpang angkot, maka disediakan peta Kota Bandung yang memuat lokasi titik - titik halte terbangun. Selain itu dilakukan penyempurnaan terhadap informasi trayek angkutan kota yang akan transit di halte tersebut.
*Catatan : Gagasan ini telah dipresentasikan dalam bentuk proposal penelitian PKM-GT Tahun 2012

Rabu, 10 April 2013

Green Architecture, Solusi Bangunan Ramah Lingkungan

Oleh :
Hadi Yanuar Iswanto
NIM : 1006590

Akhir-akhir ini orang-orang di seluruh dunia ramai membicarakan tentang  “go  green”.  Apa sebenarnya “go green” ? Secara harafiah dalam Bahasa Inggris ‘go’ berarti menuju dan ‘green’ berarti warna hijau, maka “go green” berarti mengajak kita untuk menuju “hijau”. Ini terdengar seperti sebuah semangat untuk melakukan penghijauan. Di  dalam  dunia  arsitektur  ada istilah green architecture (arsitektur hijau), merupakan konsep bangunan berwawasan lingkungan. Arsitektur hijau, secara sederhana mempunyai pengertian bangunan atau lingkungan binaan yang dapat mengurangi atau dapat melakukan efisiensi sumber daya material, air dan energi. Dalam pengertian yang lebih luas, adalah bangunan atau lingkungan binaan yang efisien dalam penggunaan energi, air dan segala sumber daya yang ada, kemudian mampu menjaga keselamatan, keamanan dan kesehatan penghuninya dalam mengembangkan produktivitas penghuninya, serta mampu mengurangi sampah, polusi dan kerusakan lingkungan.

Green (hijau) dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), earthfriendly  (ramah  lingkungan),  dan  high  performance  building (bangunan  dengan  performa  sangat  baik). Bangunan berkonsep green architecture mempunyai satu sifat yang tidak kalah pentingnya dengan sifat- sifat lainnya. Sifat ini adalah “High performance building”. Pada dasarnya bangunan green architecture harus mempunyai  sifat  ini.  Salah  satu  fungsinya  ialah  untuk  meminimaliskan penggunaan energi dengan memenfaatkan energi yang berasal dari alam (Energy of nature) dan dengan dipadukan dengan teknologi tinggi (High technology  performance).  Contohnya  adalah  memanfaatkan sumber yang dapat diperbaharui seperti menggunakan sinar matahari melalui passive solar dan active solar, serta teknik photovoltaic dengan menggunakan tanaman dan pohon-pohon melalui atap hijau dan taman hujan. Konsep arsitektur hijau sangat mendukung program penghematan energi. Rumah ala tropis dengan banyak bukaan, dibentuk untuk mengurangi pemakaian AC juga penerangan adalah prinsip arsitektur hijau di daerah tropis. Namun, hal tersebut tidak akan berjalan mulus jika sekeliling rumah tidak asri. Bukaan banyak hanya akan memasukkan udara panas dan membuat pemiliknya tetap memasang pendingin ruangan. Oleh sebab itu pekarangan perlu dihijaukan dengan tanaman apa saja, permukaan tanah tidak ditutup dengan beton dan menerapkan manajemen sampah yang ketat.

Dari segi interior, arsitektur hijau mensyaratkan dekorasi dan perabotan tidak perlu berlebihan, saniter lebih baik, dapur bersih, desain hemat energi, kemudahan air bersih, luas dan jumlah ruang sesuai kebutuhan, bahan bangunan berkualitas dan konstruksi lebih kuat, serta saluran air bersih. Untuk mengatasi limbah sampah secara mandiri, lubang biopori dapat menjadi solusi.

Di Indonesia, kampanye go green ini sudah mulai digalakkan. Banyak bangunan-bangunan seperti rumah tinggal atau bangunan komersial lainnya yang mulai menyelaraskan konsep desainnya dengan green architecture. Saat ini konsep green architecture telah diwujudkan secara nyata pada beberapa hunian vertical atau apartemen di kota-kota besar di Indonesia. Konsep green apartment dalam beberapa tahun belakangan memang terus dikembangkan oleh pengembang properti. Konsep ini diaplikasikan melalui keberadaan taman-taman di beberapa balkon yang bisa digunakan penghuni apartemen untuk bersantai dan menikmati hijau dedaunan di tengah kota.

Arsitektur hijau tentunya lebih dari sekedar menanam rumput atau menambah tanaman lebih banyak di sebuah bangunan, tapi juga lebih luas dari itu, misalnya memberdayakan arsitektur atau bangunan agar lebih bermanfaat bagi lingkungan, menciptakan ruang-ruang publik baru, menciptakan alat pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya.

Maka dari itu sangat beralasan jika program green architecture ini dapat diterapkan di masyarakat luas, karena dengan menerapkan konsep ini keuntungannya dari sisi ekonomi sangat nyata dan terukur. Penggunaan pendingin ruangan dan penerangan ruangan serta penghematan air hingga 26-40 % setiap bulan. Selain itu penerapan konsep ini pun sejalan dengan pengurangan emisi karbon 2020. 

DAFTAR RUJUKAN

-          Buku
  • Hyde, Richard.2008. Bioclimatic Housing, Innovative Designs for Warm Climates.London: Cromwell Press
  • M.Echols, John dan Shadily, Hassan. Kamus Bahasa Inggris – Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka
  • Setiawan, Achnin.2010.Pusat Kebugaran Jasmani dan Spa di Jakarta (pendekatan konsep Green Architecture). Universitas Muhammadiyah Surakarta

-          Internet

-          Koran Online

Jumat, 15 April 2011
Jumat, 9 September 2011

Kamis, 16 Juni 2011

Kamis, 04 April 2013

Ide Reorganisasi dan Pembenahan Angkot Bandung


Jalan-jalan keliling Bandung bisa menggunakan moda transportasi angkutan kota atau dikenal dengan akronim angkot. Angkot merupakan pilihan transportasi hemat yang masih setia dipilih oleh masyarakat. Sebagai penguna angkot, saya merasakan ketidaknyamanan yang mendasar. Tujuan seseorang "naik" angkot tentu ingin pergi ke tempat tujuan dengan cepat, aman, dan nyaman. Namun belakangan ini beberapa oknum sopir angkot nampaknya mengabaikan unsur tersebut.
Angkot di Bandung saat ini diatur oleh pemerintah daerah yang bekerjasama dengan Organisasi Angkutan Darat Kota Bandung. Setiap mobil angkot dimiliki oleh pengusaha angkot. Hal ini menyebabkan dalam setiap angkot memiliki kebijakan yang berbeda-beda. Pengusaha angkot dapat bertindak sekaligus sebagai sopir angkot atau mempekerjakan orang lain untuk menjadi sopir angkot tersebut. Besarnya pendapatan seorang buruh sopir angkot berbeda-beda tergantung kepada pengusaha angkot dimana mereka bekerja. (sumber: Pertiwi, Putri Indah; Kartono, Johan; Putra, Herdi Arman; Syufyan, Hidayatus; Gunawan,M. Fajar; Zahra, Fatimatuz. 2009. Budaya Sopir Angkutan Kota di Kota Bandung. Bandung : ITB)

Pola pengorganisasian seperti demikian menyebabkan beberapa angkot melalaikan kepentingan keamanan dan kenyamanan masyarakat sebagai pengguna jasa angkot. Maka pola organisasi tersebut harus dirubah agar dapat memberikan keuntungan kepada masyarakat dan pengelola angkot. Pengelolaan angkot akan menerapkan sistem perusahaan daerah. Seluruh trayek angkutan yang ada di kota Bandung terintegrasi ke dalam satu naungan perusahaan Angkot Bandung Bermartabat. Dalam menjalankan usahanya perusahaan ini dapat berbentuk sebuah perusahaan jasa yang dapat pula orang lain berinvestasi untuk kemajuan perusahaan. Seluruh sopir angkot yang bekerja saat ini ditarik sebagai bagian dari karyawan di perusahaan sehingga mereka mendapatkan gaji bulanan. Hal ini dapat mengatasi istilah “kejar setoran” yang sering dilakukan oleh sopir angkot yang mengakibatkan terbentuknya perilaku ngetem yang berdampak kepada kelalaian terhadap kenyamanan masyarakat pengguna jasa angkot. Budaya sopir angkot yang saat ini dinilai buruk di masyarakat, dibenahi dengan program pendidikan dan pelatihan untuk membina para sopir angkot sebelum diterjunkan ke lapangan.
Ah, itu hanya sebuah ide dari seorang yang awam. Mungkin perlu diadakan penelitian lebih lanjut. Tapi setidaknya hal seperti di atas tersebut yang saya harapkan sebagai konsumen moda transportasi angkot. Terima kasih telah membacanya :)