Tampilkan postingan dengan label kota bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kota bandung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Januari 2014

Langkah Awal Menuju Bandung Juara

Tahun 2013 menjadi tahun yang bersejarah bagi Kota Bandung. Kepemimpinan Kota Bandung beralih dari Dr. H. Dada Rosada, SH, M.Si yang habis masa bakti tugasnya ke Mochamad Ridwan Kamil, ST, MUD yang terpilih secara demokratis. Beliau terpilih bersama Oded M. Danial selaku Wakil Walikota Bandung untuk masa bakti 2013-2018. Walikota Bandung yang baru berlatar belakang arsitek. Belakangan sebelum mencalonkan sebagai walikota Bandung, nama beliau semakin terdengar terutama di kalangan akademisi khususnya mahasiswa arsitek. Karya-karya beliau banyak yang menjadi inspirasi desain bagi para mahasiswa arsitektur. Karya-karya beliau diantaranya adalah Museum Tsunami di Aceh, Masjid Al-Irsyad di Kotabaru Padalarang, dan lain-lain. Beliau juga aktif mengisi seminar-seminar dalam bidang arsitektur. Mahasiswa-mahasiswa arsitektur seperti saya tentu tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menghadiri seminarnya beliau.

Walikota Bandung (kiri) dan Wakil Walikota Bandung (kanan) 2013-2018

Sebuah kejutan besar bagi masyarakat kota Bandung. Pada awal masa pemerintahannya, Walikota Bandung Ridwan Kamil langsung muncul ke publik dan membuat gebrakan-gebrakan nyata. Dimulai dengan hari naik angkot gratis, hari jumat bersepeda, hari rabu berbahasa sunda, dan lain-lain. Tidak sekedar untuk pencitraan namun hal tersebut dibuktikan bahkan untuk gerakan hari jumat bersepeda, beliau juga mencontohkan naik sepeda dari rumah ke kantornya di Balaikota pada hari jumat bahkan tidak hanya hari jumat saja menggunakan sepeda, tapi juga hari-hari lainnya. Hal ini terbukti dari beberapa tangkapan kamera yang sering memotret beliau ketika sedang bersepeda untuk menghadiri urusan kedinasan. Selanjutnya banyak gebrakan nyata yang muncul seperti penataan di JL. Kepatihan Bandung, penataan PKL, penataan taman-taman di Bandung dengan tema yang unik, dan lain-lain.

Hari ini masa pemerintahan Walikota Bandung Ridwan Kamil telah lebih dari 100 hari, belum setahun memang. Namun gebrakan nyata, perubahan-perubahan yang terus dilakukan memberi harapan bagi warga kota Bandung, termasuk saya. Saya rasa kalau begini terus keadaannya Bandung akan semakin nyaman untuk ditempati. Tidak menutup kemungkinan Bandung akan menjadi kota terbaik di Indonesia 5 tahun yang akan datang. Khayalan tentang wajah Kota Bandung seperti di negara maju bisa jadi kenyataan. Dalam beberapa pekan terakhir ada kabar yang berhembus Ridwan Kamil dinilai pantas menjadi Presiden RI 2014. Saya rasa itu terlalu cepat, saat ini Bandung sedang membutuhkan beliau untuk mewujudkan Bandung JUARA.

Berikut ini adalah buku digital yang berisi kesuksesan kepemimpinan Walikota Bandung Ridwan Kamil beserta Wakil Walikota Bandung Oded M. Danial selama tahun 2013. Seperti judulnya ini adalah "Langkah Awal", tentu kita menunggu kelanjutannya :)
Selamat bekerja Pak Walikota.

Sabtu, 11 Mei 2013

Revitalisasi Halte Sebagai Upaya Mengurangi Penyebab Kemacetan LaluLintas

Pemerintah Kota Bandung telah membangun halte yang tersebar ke seluruh penjuru kota. Halte tersebut berfungsi sebagai tempat calon penumpang menunggu angkot atau bus kota. Namun halte yang ada belum berfungsi secara optimal.Desain halte tidak menguntungkan kepada calon penumpang. Informasi mengenai jurusan angkutan terdapat di belakang dan ukuran tulisannya pun tampak kecil, sehingga akan sulit dibaca dari kejauhan. Sebagai kota tujuan wisata, baik domestik maupun mancanegara, maka ketersediaan peta Kota Bandung menjadi penting untuk menambah citra positif terhadap pemerintah kota. Namun seperti yang tampak pada gambar, hal ini terabaikan.Kemudian, berdasarkan pemantauan, keadaan halte di Kota Bandung terkesan kumuh dan tidak terawat, sehingga calon penumpang merasa sungkan untuk menunggu angkutan di halte.Sebagian halte dijadikan objek aksi vandalisme yang merusak estetika halte tersebut.Di beberapa halte justru dijadikan tempat untuk berjualan, sehingga halte tersebut kehilangan fungsi utamanya. Keberadaan halte di Kota Bandung yang tidak terawat dapat merusak pemandangan kota.
Halte merupakan suatu tempat yang dirancang bagi prasarana masyarakat calon penumpang untuk naik atau turun dari angkutan umum.Halte merupakan suatu bentuk terminal dalam skala kecil (Indra Lesmana, 2007).Penyediaan terminal merupakan suatu persyaratan mutlak untuk memperoleh sistem perangkutan yang efisien dan aman, baik bagi gerak angkutan maupun bagi sistem lalu lintas itu sendiri (Hussain, 1985).Oleh karena itu penyelenggaraan terminal berperan dalam menunjang tersedianya jasa transportasi yang sesuai dengan tingkat kebutuhan lalu lintas dan pelayanan angkutan yang selamat, aman, cepat, tepat, nyaman, teratur dan dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat (Djaelani, 1999).

Potensi angkot yang ada saat ini berjumlah 38 trayek (Sumber : Bandung Dalam Angka) yang dapat didayagunakan secara optimal. Dengan jumlah trayek tersebut dapat meminimalisasi kecenderungan masyarakat untuk bepergian menggunakan kendaraan pribadi.Dalam sebuah survey yang dilakukan terungkap bahwa sebesar rata-rata 75% masyarakat mempunyai minat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, beberapa angkot cenderung tidak disiplin untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.Angkot bisa berhenti di mana saja, bahkan dapat berhenti di tengah jalan, sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas.Dari hasil wawancara terhadap sopir angkot didapat hasil bahwa rata-rata kejadian tersebut disebabkan oleh faktor calon penumpang yang tidak menunggu di halte.Berdasarkan hasil survey 9 dari 10 orang menyatakan bahwa mereka tidak menggunakan halte ketika naik atau turun dari angkot.Alasannya adalah karena lokasi halte sangat jauh dari lokasi keinginan penumpang untuk naik atau turun dari angkot.

Penyediaan halte yang baru di seluruh penjuru Kota Bandung akan menertibkan angkot di Kota Bandunguntuk menaikkan dan menurunkan penumpang pada tempatnya. Halte yang baru, dirancang dengan mempertimbangkan fungsi dan  estetika arsitektur sebagai penarik minat masyarakat untuk mau menggunakan halte. Hal ini memberikan pelayanan berkualitas prima kepada masyarakat untuk menunjukkan keunggulan angkot agar masyarakat tertarik menggunakan angkot sebagai sarana transportasi utama sehari-hari sehingga penggunaan kendaraan pribadi dapat diminimalkan intesitasnya.Serta bagi masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan angkot, agar dapat tertarik untuk disiplin menggunakan halte.


Gambar : Gagasan Desain Halte (Sumber : Dokumentasi Pribadi)
Halte yang akan dirancang tentu harus memberikan perlindungan kepada pengguna halte tersebut dari terik matahari dan air hujan. Maka desain halte akan dirancang sedemikian rupa untuk memberikan kenyamanan bagi penggunanya. Kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan wisata di Indonesia, maka desain halte yang baru akan mencerminkan wajah Kota Bandung untuk mempromosikan khazanah budaya Sunda sebagai jati diri Kota Bandung. Konsep dari desain ini adalah “Mulih ka Bandung” yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Kembali ke Bandung”. Hal ini akan tampak pada ornamen - ornamen yang tersemat pada bangunan halte. Untuk memudahkan navigasi calon penumpang angkot, maka disediakan peta Kota Bandung yang memuat lokasi titik - titik halte terbangun. Selain itu dilakukan penyempurnaan terhadap informasi trayek angkutan kota yang akan transit di halte tersebut.
*Catatan : Gagasan ini telah dipresentasikan dalam bentuk proposal penelitian PKM-GT Tahun 2012

Rabu, 10 April 2013

Toko De Vries, Toserba Pertama di Bandung

Jalan-jalan di Kawasan Braga Bandung serasa kembali ke masa lalu. Di kawasan ini banyak karya arsitektur bergaya Eropa. Ya, sama seperti kota tua di Jakarta dan di Semarang. Kawasan Braga menjadi pusat kebudayaan warga Belanda di Indonesia pada zaman penjajahan dulu. Kalau kita bergerak dari arah Jl. Jend. Ahmad Yani menuju Alun-alun Bandung kita akan melewati Jl. Asia Afrika. Terkenal di kawasan ini adalah Gedung Merdeka dan Hotel Savoy Homann. Tapi jangan lewatkan di sebelah Hotel Savoy Homann ada bangunan peninggalan Belanda yang juga menarik sejarahnya. Ya, namanya Toko De Vries.
Gambar. Toko De Vries (Sumber : Dokumentasi Pribadi)
Toko de Vries terletak di bagian ujung selatan Jalan Braga, bersebelahan dengan Hotel Savoy Homann. Bangunan ini juga bersebrangan dengan Gedung bersejarah Concordia yang kini dikenal sebagai Gedung Merdeka. Pada awalnya bangunan Toko De Vries ini dibangun pada tahun 1895 denga gaya bangunan Oud Indisch Stijl (Gaya Klasik Indies) Kemudian dipugar oleh Biro Edward Cuypers Hulswit menjadi bangunan yang bergaya klasik Eropa. Ciri khasnya adalah pada menara yang menyatu dengan bangunannya. Toko de Vries merupakan toko serba ada yang pertama, terbesar, dan terlengkap di Bandung hingga dekade pertama abad ke-20.

Kamis, 04 April 2013

Ide Reorganisasi dan Pembenahan Angkot Bandung


Jalan-jalan keliling Bandung bisa menggunakan moda transportasi angkutan kota atau dikenal dengan akronim angkot. Angkot merupakan pilihan transportasi hemat yang masih setia dipilih oleh masyarakat. Sebagai penguna angkot, saya merasakan ketidaknyamanan yang mendasar. Tujuan seseorang "naik" angkot tentu ingin pergi ke tempat tujuan dengan cepat, aman, dan nyaman. Namun belakangan ini beberapa oknum sopir angkot nampaknya mengabaikan unsur tersebut.
Angkot di Bandung saat ini diatur oleh pemerintah daerah yang bekerjasama dengan Organisasi Angkutan Darat Kota Bandung. Setiap mobil angkot dimiliki oleh pengusaha angkot. Hal ini menyebabkan dalam setiap angkot memiliki kebijakan yang berbeda-beda. Pengusaha angkot dapat bertindak sekaligus sebagai sopir angkot atau mempekerjakan orang lain untuk menjadi sopir angkot tersebut. Besarnya pendapatan seorang buruh sopir angkot berbeda-beda tergantung kepada pengusaha angkot dimana mereka bekerja. (sumber: Pertiwi, Putri Indah; Kartono, Johan; Putra, Herdi Arman; Syufyan, Hidayatus; Gunawan,M. Fajar; Zahra, Fatimatuz. 2009. Budaya Sopir Angkutan Kota di Kota Bandung. Bandung : ITB)

Pola pengorganisasian seperti demikian menyebabkan beberapa angkot melalaikan kepentingan keamanan dan kenyamanan masyarakat sebagai pengguna jasa angkot. Maka pola organisasi tersebut harus dirubah agar dapat memberikan keuntungan kepada masyarakat dan pengelola angkot. Pengelolaan angkot akan menerapkan sistem perusahaan daerah. Seluruh trayek angkutan yang ada di kota Bandung terintegrasi ke dalam satu naungan perusahaan Angkot Bandung Bermartabat. Dalam menjalankan usahanya perusahaan ini dapat berbentuk sebuah perusahaan jasa yang dapat pula orang lain berinvestasi untuk kemajuan perusahaan. Seluruh sopir angkot yang bekerja saat ini ditarik sebagai bagian dari karyawan di perusahaan sehingga mereka mendapatkan gaji bulanan. Hal ini dapat mengatasi istilah “kejar setoran” yang sering dilakukan oleh sopir angkot yang mengakibatkan terbentuknya perilaku ngetem yang berdampak kepada kelalaian terhadap kenyamanan masyarakat pengguna jasa angkot. Budaya sopir angkot yang saat ini dinilai buruk di masyarakat, dibenahi dengan program pendidikan dan pelatihan untuk membina para sopir angkot sebelum diterjunkan ke lapangan.
Ah, itu hanya sebuah ide dari seorang yang awam. Mungkin perlu diadakan penelitian lebih lanjut. Tapi setidaknya hal seperti di atas tersebut yang saya harapkan sebagai konsumen moda transportasi angkot. Terima kasih telah membacanya :)

Minggu, 24 Maret 2013

Insiden Perobekan Bendera di Bank Dennis

Kali ini saya berjalan-jalan ke sekitar Braga. Keunikan jalan Braga inilah yang membuat Kota Bandung sebagai Parijs Van Java oleh Belanda. Artinya adalah Parisnya Jawa. Memang saat kita berjalan di Jalan Braga ini akan disuguhi pemandangan yang berbeda. Deretan-deretan gedungnya yang bernuansa eropa, membuat kita serasa berada di Paris. Kalau ke Bandung belum pernah ke Braga belum lengkap rasanya. Jadi kalau mampir ke Bandung sempatkan ke Braga ya :)
Sekarang saya ingin membahas gedung Bank Jabar Banten (BJB) di Braga. Gedung Bank BJB ini dapat kita temukan di persimpangan Jalan Braga dengan Jalan Naripan Bandung. Bangunannya bergaya arsitektur art deco yang merupakan karya dari A.F. Aalbers.  Gedung ini dulunya bernama De Eerste Nederlands-Indische Spaarkas en Hypotheek Bank (Dennis Bank). Baru pada tahun 1961, Gedung Bank Dennis ini dirubah namanya menjadi Bank Karya. Ada peristiwa menarik yang mendahuluinya. Gedung Bank Dennis memiliki menara, tempat bendera Belanda dikibarkan. Pada bulan Oktober, bendera Belanda tersebut masih dikibarkan, sehingga menimbulkan insiden perobekan bendera Seperti yang terjadi di Hotel Oranye, Surabaya.

Gambar : Menara Bank Dennis (Sekarang Bank BJB)
Para pemuda yang marah berusaha menaiki menara gedung tersebut, namun hanya dua diantaranya, Moh. Endang Karmas dan Mulyono yang berhasi memanjat tiang bendera. Setelah dengan susah payah berada di atas tiang, Mulyono memegang ujung bendera yang terkulai. Endang Karmas yang berada di bagian atas segera mencabut bayonet yang terselip di pingggangnya. Ia merobek warna biru pada bendera itu, sehingga yang tersisa hanya warna merah dan putih dengan sedikit sisa warna biru (Sitaresmi, 2002) dalam (Her Suganda, 2011).

Para pemuda tersebut hampir saja menjadi korban, karena serdadu-serdadu Belanda yang menempati Hotel Savoy Homann membidikkan senjatanya lalu menembaki kedua pemuda tersebut

Sabtu, 08 Desember 2012

Bandung dan Art Deco

Jumat, 16 November 2012

Penataan Kawasan Braga

Kawasan Braga sangat erat kaitannya dengan cikal bakal pembangunan Kota Bandung yang kita kenal sekarang. Pada tahun 1931, Ir. Thomas Karsten (sebagai anggota Komisi Loggemenn), memaklumkan SVO (Stadsvormings Ordonantie) sebagai petunjuk perencanaan kota di Hindia Belanda. Bersama Prof. Dr. Ir. CP Mom, Ir. JP Thijsse, Ir. EH Roo, Ir. RLA Schoemaker, Ir. CPW Schoemaker, mereka meneliti masalah arsitektur tropis dengan iklim panas yang lembab. Untuk penataan kawasan Braga diterbitkanlah panduan sebagai berikut:
  • Muka bangunan tanpa halaman muka, langsung berhubungan dengan tepi jalan.
  • Antara bangunan yang berdampingan harus menerus; tanpa ruang kosong diantaranya.
  • Ketinggian bangunan dibatasi sampai 2 lantai, lantai dasar untuk komersial dan bagian belakang serta atas untuk hunian. Tampilan bidang horizontal dan vertikal haruslah memberikan kesan yang selaras.
  • Bidang muka lantai dasar harus dilengkapi pintu masuk dan dinding kaca etalage. Jendela kaca boven-licht bagi penerangan ruang dalam. Dilengkapi lubang ventilasi alami. Berubah dari peraturan bangunan kota Bandung yang mensyaratkan bentuk open bebouwing menjadi gesloten bebouwing
sumber : Sugiri Kustedja. dalam  "Pemberdayaan Jalan Braga Sebagai Kawasan Arsitektur Kolonial Tropis Bandung"