Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2015

Tipologi Arsitektur Tradisional

Tipologi bangunan adalah ilmu tentang klasifikasi sesuatu. Menurut Iswati (2003) dalam Santoso (2011), tipologi adalah studi tentang tipe dengan kegiatan kategorisasi dan klasifikasi untuk menghasilkan tipe. Kegiatan kategori dan tipe tersebut sekaligus dapat dilihat keragaman dan keseragamannya. Menurut Loekito (1994) dalam Pangarsa. dkk (2012), tipologi dapat dilakukan apabila obyek yang diteliti memiliki kesamaan sifat atau ciri-ciri.

Arsitektur tradisional di Indonesia memiliki kesamaan prinsip dalam menerjemahkan makna ruang kehidupan. Desain arsitektur mereka dilatarbelakangi oleh kepercayaan dari leluhurnya yang berkembang di masyarakat setempat. Filosofi ketuhanan terkandung dalam pertimbangan rancangan bangunan mereka. Desain arsitektur tradisional Indonesia sebagian besar menggunakan material yang terdapat di lingkungan sekitarnya, sehingga menghasilkan bangunan yang ramah terhadap lingkungan. Muatan kearifan lokal tersebut seringkali melampaui zaman dan masih relevan dengan konteks kekinian. Pangarsa. dkk (2012) mengelompokkan Arsitektur Tradisional di Indonesia dalam kategori yang didasarkan pada strategi kebudayaan, yaitu:

Keperkasaan Masyarakat Megalit;
Melanjutkan sifat-sifat dasar masyarakat mengalit yang selama ini dianggap telah punah, tetapi penerusnya masih memiliki tradisi yang dipegang teguh. Ciri ini hanya tertinggal jejak-jejak tipisnya di beberapa tempat seperti Batak, Sumba atau Toraja. Warisan keperkasaan mengolah batu-batu besar tampak pada arsitekturnya.

Kewaspadaan Pelestari Lingkungan Hutan;
Kepekaan dalam mengenali dan menjaga kondisi alam di sekitar hunian manusia telah menjadikan masyarakat pelestari hutan waspada dalam mengelola alamnya.Fenomena ini sekarang tinggal terwakili oleh beberapa “artefak” saja, misalnya Mentawai atau Papua.

Ketekunan Masyarakat Tani Pedalaman;
Kebersamaan dan kejelian dari masyarakat tani pedalaman telah banyak menelurkan norma dan kebudayaan yang menjaga keharmonisan antara manusia, alam dan lingkungan binaannya. Sebagian besar dari arsitektur rakyat Nusantara adalah dari kelompok masyarakat tani pedalaman dan masyarakat tani pesisir pantai dengan ciri “ketekunan mengolah tanah pertanian”.

Keterbukaan Masyarakat Pesisir
Kondisi alam dan kebutuhan dalam berhuni membentuk masyarakat pesisir menjadi lebih terbuka dalam menata ruangnya. Pendeknya ruang transisi yang mereka bangun seakan menjadikan ruang bersama adalah salah satu cara perlingdungan diri terhadap keberadaan manusia di dalam arsitekturnya.

Kelenturan Masyarakat Dagang, Industri dan Informasi
Arsitektur rakyatnya terkena dampak langsung dari peradaban industri yang mengimbas dari kota-kota besar ke daerah perdesaan di sekitarnya.

Dari hasil temuan-temuan di atas, kita dapat melihat bahwa Arsitektur Tradisional memiliki ciri yang khas. Mereka bersifat harmoni dengan alam sekitar. Untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggalnya, masyarakat tradisional berusaha untuk tetap menjaga keaslian ekosistem lingkungan. Dengan harmonisasi ini akan terwujud suatu pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini dipertegas oleh Bruntland (1987) dalam Widaningsih dan Cahyani (2013) yang menyatakan “Sustainable development is development which meets the needs of the present without compromising the ability of future generation to meet their own needs." Demikianlah pembangunan berkelanjutan didefinisikan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini saja tetapi juga memenuhi kebutuhan bagi generasi yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Pangarsa WG, dkk. (2012). Tipologi Nusantara Green Architecture Dalam Rangka Konservasi Dan Pengembangan Arsitektur Nusantara Bagi Perbaikan Kualitas Lingkungan Binaan. Jurnal RUAS, 10, (2), 78-94
  2. Santoso I. (2011). Studi Pengamatan Tipologi Bangunan pada Kawasan Kauman Kota Malang. Jurnal Ilmiah Local Wisdom. 3, (2), 10-26.  
  3. Widaningsih L, Cahyani D. (2013).Pengukuran Indeks Arsitektur Hijau (Green Building) pada Arsitektur Tradisional di Jawa Barat. Proposal Penelitian. Tidak diterbitkan

Minggu, 31 Mei 2015

10 Cara Membuat Presentasi PowerPoint Menjadi Menarik

Memasuki pertengahan tahun ini saya ingin sedikit berbagi tips untuk membuat presentasi powerpoint kepada rekan-rekan. Powerpoint adalah alat bantu presentasi yang populer digunakan oleh khalayak baik mahasiswa, dosen, guru maupun praktisi bisnis lainnya. Karakteristiknya yang mudah dan banyak fitur menjadi keunggulan tersendiri. Selama ini powerpoint terkadang digunakan hanya sebagai salinan contekan yang ditampilkan ke hadirin. Biasanya seorang presenter yang teknik presentasinya demikian dianggap membosankan dan hadirin menjadi tidak tertarik dengan topik yang dibawakannya, meski isi materinya itu sangat bagus. Cara presentasi demikian pernah saya alami, saya juga pernah ditegur oleh dosen dengan  gaya presentasi yang membosankan itu. Alhamdulillah dengan adanya PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) dan saya ikut berpartisipasi di dalamnya, saya mendapat banyak pelajaran bagaimana menjadi presenter yang baik serta menyusun materi ke dalam powerpoint untuk dapat terlihat menarik. Tampilan yang menarik akan menggugah hadirin untuk menyimak presentasi kita sampai selesai.
Untuk membuat tampilan powerpoint menjadi menarik hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut.
  1. Pertama untuk desain power point itu sendiri, kita bisa membuat template sendiri yang menunjukkan karakter dan menjadi ciri khas dalam setiap penampilan. Sebaikya desain template dibuat dengan memperhatikan fungsi, bersih dan simple, tidak perlu banyak menampilkan pernak pernik atau gambar-gambar yang tidak ada hubungannya dengan materi. Warna pada template juga sebaiknya dibatasi menjadi 2 atau 3 warna. Penggunaan banyak pernak-pernik dan warna yang berlebihan malah akan membuat pusing orang yang membacanya
  2. Cover adalah bagian pembuka dari presentasi, ini merupakan salah satu bagian penting yang memberi informasi tentang topik yang akan dibawakan. Biasanya pada halaman cover terdapat judul, nama presenter, logo, tanggal dan lokasi presentasi. Disini bisa juga ditambahkan sebuah gambar yang mewakili tema.
  3. Pada bagian pembukaan, biasanya ada latar belakang atau pendahuluan yang menjadi inti permasalahan. Tulisan panjang lebar yang teoritis bisa dikonversi menjadi sebuah gambar besar atau infografis yang simple untuk diceritakan. 
  4. Perhatikan jenis dan ukuran font yang digunakan. Gunakanlah font standar dengan ukuran yang jelas dan mudah dibaca, misalnya Arial ukuran 28.
  5. Usahakan pada slide lebih diperbanyak gambar dan grafik, sebaiknya buat tulisan menjadi lebih ringkas. Buat poin-poin yang tajam langsung kepada inti. 
  6. Nomor halaman pada setiap slide juga penting, namun ini sering dilupakan :)
  7. Sisipkan animasi, namun jangan berlebihan karena akan membuat tidak fokus kepada materinya.
  8. Jika dibutuhkan, bisa disisipkan video yang berkaitan dengan materi, video ini bisa jadi adalah dokumentasi pribadi atau bisa diunduh dari youtube. Jangan lupa cantumkan sumbernya jika itu bukan milik pribadi :)
  9. Buat animasi pada setiap transisi atau pergantian slide. Namun jangan berlebihan, pilih yang sederhana. Pernah saya melihat presentasi yang setiap pergantian slide selalu berputar-putar, ini membuat pusing :|
  10. Slide tidak perlu dibuat banyak-banyak, ini bukan skripsi atau makalah :) , langsung saja kepada inti yang ingin disampaikan. Sesuaikan dengan waktu presentasi, rata-rata 10-15 slide
Demikianlah cara membuat presentasi powerpoint, terima kasih sudah menyimak, semoga bermanfaat. Sedikit tambahan untuk rekan-rekan mahasiswa, untuk melakukan presentasi lakukanlah dengan suara yang lantang dan penuh percaya diri. Jangan terpaku dengan layar atau membaca isi slide. Untuk itu sebelum presentasi perlu menguasai materi yang akan dibawakan. Supaya lebih sistematis, bisa dibuat skenario atau bahan yang akan diceritakan pada setiap slide. Mulai dari pembukaan, isi, penutupan hingga humor dalam presentasi bisa diskenariokan untuk kemudian dihafalkan :)

Rabu, 27 Mei 2015

Manajemen Kelas

Definisi Manajemen Kelas
Manajemen kelas adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dalam mengelola pembelajarannya menjadi terarah, terencana, dan terkemas dengan baik sehingga menghasilkan peserta didik yang berkualitas.

J.M. Cooper (1977) merumuskan lima definisi mengenai manajemen kelas.
  1. Manajemen kelas dipandang sebagai suatu proses untuk mengendalikan atau mengontrol perilaku siswa di dalam kelas. Definisi ini diwarnai oleh ancangan manajemen yang bersifat otoritatif, di mana guru melakukan tugas utama sebagai pencipta dan pemelihara suasana kelas agar tetap tertib. Pendekatan otoriter dalam manajemen kelas menjadikan siswa di dalam kelas sebagai ukuran keberhasilan dalam mengelola kelas.
  2. Manajemen kelas merupakan upaya menciptakan kebebasan atau semangat egaliter bagi diri siswa. Konsepsi ini dibangun atas asumsi bahwa dalam diri siswa terdapat potensi untuk bebas dan tugas guru adalah memaksimalkan kebebasan itu. Inisiatif guru menciptakan kebebasan secara alami bagi siswanya adalah sah dan sejalan dengan kaidah dasar proses kemanusiaan bahwa dalam diri manusia ada naluri alami untuk tidak berada dalam ikatan hidup yang ketat.
  3. Manajemen kelas dipandang sebagai suatu proses memodifikasi perilaku siswa (student behavioral modification). Kata lainnya, manajemen kelas merupakan proses mengubah perilaku siswa, dari perilaku yang mengalami deviasi atau penyimpangan ke perilaku tugas yang produktif (on task behavior), baik di dalam maupun di luar kelas dalam lingkup kampus sekolah. Perubahan perilaku siswa, karena itu, dimaksudkan agar tingkah laku mereka yang tidak diharapkan dapat dikurangi atau bahkan ditiadakan.
  4. Manajemen kelas dipandang sebagai proses menciptakan suasana sosioemosional yang positif di dalam kelas. Asumsi dasar pandangan ini adalah proses pembelajaran di kelas akan berkembang secara maksimal manakala iklim positif tercipta. Iklim positif itu tercipta manakala terjadi hubungan interpersonal yang kondusif antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Termasuk hubungan yang kondusif antara guru dengan tata usaha sekolah. Dalam makna luas hubungan itu mencakup interaksi yang kondusif antara warga sekolah dengan warga sekitar dan orang tua siswa.
  5. Manajemen kelas dipandang sebagai upaya pemberdayaan (empowering) sebuah sistem sosial atau proses kelompok belajar siswa (group processes) sebagai intinya. Sistem sosial dimaksud bisa dipandang “bersahaja” dan bisa distrukturkan. Kata “bersahaja” bermakna bahwa siswa berada pada posisi dan memiliki status yang sama dengan rekan-rekannya. Kata ini juga bisa bermakna dalam kerangka proses pembelajaran, di mana siswa memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk belajar di kelas dengan memanfaatkan potensi yang ada. Kata “distrukturkan” mengandung makna bahwa di kelas itu ada ketua kelas, wakil ketua kelas, kelompok siswa menurut piket harian, dan lain-lain. Oleh karena itu, manajemen kelas dapat didefinisikan sebagai seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.
Fungsi dan Tujuan Manajemen Kelas
Fungsi manajemen kelas adalah menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didik untuk mencapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Tujuan Pengelolaan Kelas: Agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib, sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Adapun tujuan penggunaannya di dalam kelas bagi siswa adalah :
  • Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya.
  • Membantu siswa untuk mengerti tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan memahami bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan, dan bukan kamarahan.
  • Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri di dalam tugas serta bertingkah laku yang sesuai dengan aktivitas kelas.
Menurut Made Pidarta, manajemen kelas yang efektif adalah :
Kelas adalah kelompok kerja yang diorganisasi untuk tujuan tertentu yang dilengkapi tugas-tugas
diarahkan oleh guru. Dalam suatu kelas, guru bukan tutor satu anak, tetapi untuk seluruh anak dalam kelas. Setiap kelompok mempunyai perilaku sendiri, yang berbeda dengan perilaku setiap individu dalam kelompok. Kelompok kelas menyisipkan pengaruhnya pada setiap anggota. Praktek guru dalam proses pembelajaran cenderung terdapat pada hubungan guru dan siswa. Struktur kelompok, pola komunikasi, dan kesatuan kelompok ditentukan oleh cara guru mengelola baik bagi mereka yang tertarik pada sekolah atau bagi mereka yang apatis, masa bodoh atau bermusuhan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Kusumah, Wijaya. 2012. Apakah Manajemen Kelas itu ?.
Tersedia di http://www.wijayalabs.com diakses tanggal 15 Maret 2012
[2] Latifah, Lyna. 2010. Manajemen Kelas/Pengelolaan Kelas.
Tersedia di https://docs.google.com diakses tanggal 15 Maret 2012
[3] Subagio. 2011. Manajemen Kelas.
Tersedia di http://subagio-subagio.blogspot.com diakses tanggal 14 Maret 2012

Selasa, 23 September 2014

Metoda Perancangan Arsitektur (Bag.2)

Memperhatikan antusiasme pengunjung yang cukup tinggi terhadap postingan saya sebelumnya, maka saya tergugah untuk kembali memposting catatan kuliah saya tentang metode perancangan arsitektur. Kali ini topik yang saya coba bagikan adalah tentang proses perancangan arsitektur. Pada dasarnya tahap perancangan arsitektur terdiri dari permulaan, persiapan, evaluasi dan tindakan (JC. Snyder & AJ. Catanese)
1. Tahap Permulaan
  • Menyiapkan portofolio
  • Mengindentifikasi dan mendefinisikan masalah melalui diskusi permulaan dengan klien
  • Menyerap aspirasi klien
  • Merumuskan ide/gagasan permulaan
  • Imajinasi kritis dan kreatif untuk meningkatkan mutu tata lingkungan
Menghasilkan : portofolio, catatan dan sketsa awal

2. Tahap Persiapan
  • Pengumpulan data lapangan: kondisi dan situasi tapak (bentuk, ukuran, kontur tanah, aspek geologis); kondisi iklim; utilitas lingkungan, lalu lintas; kendala peraturan, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat; data keuangan; dan lain-lain)
  • Analisis kebutuhan klien, kebutuhan proyek, dan identifikasi persoalan penting yang harus dipecahkan (pemograman)
  • Penetapan pendekatan/strategi pendekatan
  • Penyusunan kriteria aspek-aspek desain
Menghasilkan : Laporan

3. Tahap Pengajuan Usul

Sintesis, yaitu pengajuan usul rancangan awal yang menghimpun berbagai pertimbangan dari konteks (sosial, ekonomi, budaya, fisik), program, tempat proyek, aspirasi klien, teknologi dan material, estetika, dan pertimbangan nilai lainnya. Usulan merupakan peragaan fisik dari integrasi sejumlah persoalan tersebut.
Menghasilkan : Skematik desain dan Preliminary design

4. Tahap Evaluasi

Evaluasi bisa terjadi pada setiap tahap dan dapat merupakan siklus berulang (umpan balik) untuk merumuskan sintesis terbaik (Lihat tentang: Strategi Umpan Balik dalam Proses Perancangan)
Menghasilkan : Detail Engineering Design dan Dokumen Tender

5. Tahap Tindakan
  • Pengembangan desain
  • Penyusunan detail desain, spesifikasi teknis, rencana anggaran biaya
  • Penyusunan dokumen tender

Senin, 08 September 2014

Menjadi Guru PPL

Kegiatan PPL yang dilaksanakan oleh saya selaku guru PPL (baca : praktikan) di SMKN 6 Bandung dapat dikatakan terlaksana dengan baik. Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, disana terdapat tantangan bagaimana caranya bisa menjadi guru yang ideal dan bertanggung jawab atas kemajuan siswa. Berkenaan dengan hal tersebut maka Universitas Pendidikan Indonesia sebagai salah satu institusi pencetak guru yang profesional telah memberikan mata kuliah PPL yang sangat berpengaruh terhadap kesiapan lulusannya untuk menjadi guru yang ideal. Dengan adanya kegiatan PPL ini praktikan mendapatkan pengalaman bagaimana cara mengatur siswa, membimbing siswa, memberikan materi dengan penyampaian yang bisa di terima oleh siswa. Pengalaman ini diperoleh dari guru, karyawan, siswa dan rekan-rekan PPL lainnya.

Dalam pelaksaan PPL ini terkadang menghadapi kendala, namun kendala ini tidak lantas menjadi alasan sebagai faktor kegagalan praktikan dalam pelaksanaan PPL. Kendala tersebut dijadikan pelajaran berharga agar ketika praktikan menghadapi masalah tersebut di masa yang akan dating, praktikan dapat menghadapinya dengan cara yang tepat. Selama praktikan melaksanakan kegiatan PPL di SMKN 6 Bandung, praktikan dapat menarik kesimpulan secara umum, yaitu kegiatan PPL bertujuan untuk melatih para calon pendidik (mahasiswa/praktikan) agar mendapatkan pengalaman mendidik secara faktual di lapangan dan juga sebagai sarana terbentuknya tenaga kependidikan yang profesional di bidangnya. Dengan adanya kegiatan PPL, mahasiswa dapat mempraktikan secara langsung dan menerapkan ilmu yang diperoleh pada perkuliahan di kampus dalam kenyataan yang tampak di lapangan serta dihadapkan pada permasalahan yang ada dalam realitas yang sebenarnya di sekolah.

Secara khusus praktikan menyimpulkan sesuatu yang ditemui praktikan dalam pelaksanaan PPL di SMKN 6 Bandung adalah sebagai berikut :
  1. Merupakan mengalaman yang luar biasa bagi praktikan bisa melaksanakan PPL di SMKN 6 Bandung. Tidak hanya ilmu pengetahuan saja tapi juga memprioritaskan pembentukan dan pembinaan karakter siswa yang berakhlak baik, disiplin, dapat bekerjasama, dan bertanggung jawab. Selain itu SMKN 6 Bandung tampak peduli terhadap pelestarian alam dan budaya Sunda yang semakin terkikis oleh perkembangan zaman.
  2. Keberadaan praktikan di SMKN 6 Bandung sangat diterima dengan baik oleh pihak sekolah sehingga merasa nyaman dan dapat beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
  3. Dalam lingkungan kerja cenderung timbul idealisme masing-masing baik guru maupun karyawan. Oleh karena itu praktikan harus pandai-pandai membedakan cara bersikap dengan masing-masing individu.
  4. Untuk menjadi seorang pendidik ternyata tidak mudah seperti yang kita bayangkan. Akan tetapi harus didukung dengan pengetahuan, nilai, sikap, keterampilan, dan tingkah laku yang baik dalam menunjang profesinya.
  5. Perencanaan, pembuatan, dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran secara sistematis merupakan modal dasar untuk keberhasilan pelaksanaan program pengajaran

Kang Ikhsan Koordinator PPL Teknik Arsitektur dan Kang Ricky Koordinator PPL SMKN 6  

Suasana studio gambar jurusan teknik gambar bangunan  

Program Rebo Nyunda di sekolah  

Saat menjadi pengawas ulangan kenaikan kelas :)  

Berfoto dengan beberapa rekan PPL

Minggu, 16 Maret 2014

Asistensi

Asistensi atau membimbing siswa adalah hal yang saya lakukan sebagai guru PPL. Karena saya kuliah di jurusan pendidikan arsitektur, maka saya ditempatkan sebagai guru di SMK program gambar bangunan. Pada saat saya masuk ke sekolah tersebut, siswa sedang mengerjakan tugas terstruktur berupa rumah tinggal sederhana. Saya selain mengajar juga bertugas untuk memonitor pekerjaan siswa. Ini mengingatkan saya kira-kira 2 tahun yang lalu saat saya masih sebagai mahasiswa yang mengontrak mata kuliah gambar konstruksi bangunan. Dosen berkeliling memonitor pekerjaan mahasiswa dan kadang melakukan asistensi gambar di luar jam kuliah. Hal itu pun kini terjadi pada saya. Membimbing siswa bukanlah pekerjaan mudah. Kalau menghakimi, akan membuat mental siswa down bahkan membuat mereka tidak berani untuk menggambar. Maka saat pertama kali mendapat tugas ini, saya lakukan dengan sangat hati-hati. Sering saya dapati gambar siswa yang tidak sesuai dan salah. Saya lalu menegurnya dan mencontohkan gambar yang benar. Rupanya saya salah duga. Siswa justru semakin antusias dan mengajukan banyak pertanyaan. Dari situ tercipta suasana yang mencair dan mengalir. Obrolan pun semakin menarik. Saya coba tanya pada guru pembimbing dan beliau pun mengutarakan jawabannya. Menurut beliau kalau ada siswa yang gambarnya salah maka salahkan saja, siswa akan sangat senang karena siswa di SMKN 6 Bandung ini mempunyai kesadaran diri yang tinggi untuk mendapatkan ilmu. Beliau pun menambahkan bahwa siswa SMK disiapkan untuk langsung bekerja setelah lulus, jadi  informasi yang diberikan kepada siswa adalah ilmu yang dipraktikkan di lapangan. Tidak hanya sekedar yang tertulis di buku teks saja.

Latihan Menjadi Guru

Seperti biasa di waktu subuh saya sudah terbangun. Tapi ada yang tidak biasa di hari itu. Kalau biasanya setelah solat subuh tertidur lagi kali ini langsung bergegas mandi. Airnya begitu dingin. Maklum, Kota Bandung saat itu sedang musim penghujan, jadi pagi harinya bisa sangat dingin. Setelah mandi saya mengenakan kemeja dan celana panjang berbahan katun. Tampak rapi. berbeda kalau biasanya hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans. Sekarang mau menjadi guru, maka potongan pun harus benar-benar rapi. Pagi itu sebelum berangkat saya sarapan telur dadar yang dimasak oleh ibu. Selesai sarapan, saya menghidupkan mesin sepeda motor. Memanaskan mesin sebelum berangkat. Tidak lama kemudian saya pamit kepada kedua orangtua saya dan segera berangkat ke SMKN 6 Bandung dengan sepeda motor.

Di perjalanan, saya membayangkan dengan antusias. Bagaimana nanti ya ? dan apa saya cocok jadi guru ? gimana siswa-siswanya ? seperti apa guru-gurunya ? dan lain-lain. sekitar 20 menit perjalanan dari rumah akhirnya saya tiba di SMKN 6 Bandung. Ternyata diantara teman-teman saya yang paling pertama datang. Hari ini saya ikut kegiatan upacara bendera. Setelah hampir 4 tahun tidak melakukannya. Kalau dulu saya ada di barisan siswa di lapangan, sekarang saya ada di barisan guru. Upacara bendera tampak begitu tertib. Walaupun ada saja beberapa siswa yang jatuh pingsan. Mungkin mereka belum sarapan. Di momen upacara bendera ini Kepala SMKN 6 Bandung memperkenalkan kami secara resmi kepada seluruh siswa. Singkat cerita akhirnya setelah selesai upacara bendera, saya masuk ke kelas. Ada 2 orang guru diklat disana. merekalah yang akan membimbing saya agar menjadi guru yang baik. Hari pertama saya hanya berkenalan dan berkeliling. Menyapa siswa, memberi kesan awal kepada civitas akademika SMKN 6 Bandung.

Minggu, 29 September 2013

Pimnas 26 Mataram #2

Mataram, 11 September 2013

Alhamdulillah hari ini (11 September 2013) kami akhirnya maju untuk mempresentasikan hasil karya PKM. Dengan balutan jas almamater, kami tampak siap untuk bertarung :D memang aroma persaingan cukup kental di dalam ruangan presentasi. Lokasi presentasi agak cukup jauh. Lokasinya ada di gedung Fakultas Teknik Universitas Mataram. Biasanya kami menumpang bus pariwisata untuk mencapai venue (Universitas Mataram), namun kami diturunkan tidak pada lokasi presentasi, melainkan di Auditorium Universitas Mataram. Jarak dari Auditorium ke Fakultas Teknik cukup memakan waktu. Kami harus jalan kaki untuk mencapainya. Maklum Fakultas Teknik biasanya letaknya selalu di belakang, terpisah dengan fakultas lainnya. Mungkin kesannya mengeneralisir ya ? Entah kenapa seperti itu tapi ini sama dengan keadaan di kampus kami.

Hari itu kami mempresentasikan karya PKM-P kami yang berjudul "Desain Pengembangan Green Architecture di Kawasan Dago dengan Pendekatan Arsitektur Tradisional Sunda" di hadapan tiga orang juri. Dewan juri yang dikomandoi oleh Ibu Dr. dr. Indwiani Astuti tampak tertarik terhadap penelitian kami. Walaupun latar belakang pendidikan mereka jauh berbeda dengan kami, tampak rasa ingin tahu yang besar. Hal ini dapat diamati dari pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari dewan juri Bapak Dr. E. Bimo Aksono dab Bapak Putu Gde Ariastita, ST, MT. sama sekali jauh berbeda dengan pertanyaan yang dilontarkan kepada peserta lainnya. Tidak ada maksud untuk mematahkan teori maupun menjatuhkan hasil penelitian kami, justru mereka ingin mengetahui lebih jauh (penilaian ini subjektif menurut tim kami :D)

Setelah presentasi, dosen pembimbing kami yaitu Bapak Nuryanto, S.Pd, MT. memuji performa kami.. hehehe. Beliau merasa sangat senang karena menurut beliau adalah hal yang bagus ketika dewan juri sampai mengatakan "tertarik pada penelitian" kami :D. Namun pada akhirnya karya kami ini tidak mengantarkan kami untuk meraih medali. Namun kami tetap senang dan bangga dengan pencapaian kami. Bisa tampil dalam panggung nasional yang bergengsi saja adalah sebuah mukjizat. Kami tidak pernah menduga sebelumnya kalau karya kami ini akan sangat dihargai sehingga kami diberikan kesempatan untuk membanggakannya di hadapan mahasiswa-mahasiwa terbaik dari seluruh Indonesia :)


Makan siang di Wilayah Kampus Universitas Mataram

Foto saat selesai presentasi. Tim berkumpul dengan kelompok peserta pimnas dari UPI untuk membicarakan destinasi wisata :D

Kamis, 04 Juli 2013

Final of Studio Perancangan Arsitektur III

Ada yang bilang jadi mahasiswa arsitektur itu ga ada istirahatnya, masa tenang sebelum UAS malah semakin ga tenang, tugas masih banyak yang harus diselesaikan. Alhamdulillah. Singkatnya beberapa minggu yang lalu, tugas-tugas studio bisa diselesaikan tepat waktu. Di studio akhir ini saya diberi tugas untuk merancang kantor Gubernur. Lumayan ribet juga ternyata. Tapi Alhamdulillah bisa beres :)

Gambar 3D dikebut di 2 hari terakhir sebelum jam pengumpulan :D. berikut ini beberapa hasil gambar 3D yang saya selesaikan 2 malam (bener-bener ga tidur semaleman) .. heheh

Gambar 1. Ruang Rapat

Gambar 2. R. Kerja Gubernur

Minggu, 02 Juni 2013

Teknik Penggunaan Media Pembelajaran

Sabtu, 01 Juni 2013

Fungsi dan Tujuan Pendidikan Kejuruan

Fungsi Pendidikan Kejuruan

Pendidikan Kejuruan memiliki multi-fungsi yang kalau dilaksanakan dengan baik akan berkontribusi besar terhadap pencapaian tujuan pembangunan nasional.

Fungsi-fungsi yang dimaksud antara lain meliputi : (Wardiman;1998: 35)
  1. Sosialisasi, yaitu transmisi nilai-nilai yang berlaku serta norma-norma sebagai konkritisasi dari nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai yang dimaksud adalah teori ekonomi, solidaritas, religi, seni, dll.
  2. Kontrol sosial; yaitu kontrol perilaku agar sesuai dengan nilai sosial berserta norma-normanya, misalnya kedisiplinan, kejujuran, dll.
  3. Seleksi dan Alokasi; yaitu mempersiapkan ,  memilih, dan menempatkan calon tenaga kerja sesuai dengan tanda-tanda pasar kerja, yang berarti pendidikan kejuruan harus berdasarkan ”demand-driven”.
  4. Asimilasi dan Konservasi budaya, yaitu absorbsi terhadap kelompok-kelompok lain dalam masyarakat, serta memelihara kesatuan dan persatuan bangsa.
  5. Mempromosikan perubahan demi perbaikan; yaitu pendidikan tidak sekedar berfungsi mengajarkan apa yang ada, tetapi harus berfungsi sebagai ”pendorong perubahan”.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan kejuruan berfungsi  secara ganda yaitu sebagai ”akulturasi” (penyesuaian diri) dan ”enkulturasi” (pembawa perubahan). Karena itu, pendidikan kejuruan tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga harus antisipatif.

 Tujuan Pendidikan Kejuruan

Banyak rumusan Pendidikan Kejuruan yang dikemukakan oleh berbagai pihak,  diantaranya adalah sebagai berikut : Rupert Evans (1978) merumuskan bahwa Pendidikan Kejuruan bertujuan untuk :
  1. Memenuhi kebutuhan masyarakat akan tenaga kerja
  2. Meningkatkan pilihan pendidikan bagi setiap individu
  3. Mendorong motivasi untuk belajar terus.
Sumber : Catatan Kuliah Kajian dan Teknologi Vokasi

Minggu, 12 Mei 2013

Teknik Pemilihan Media Pembelajaran

Sabtu, 11 Mei 2013

Teknik Pembuatan Media Pembelajaran

Selasa, 07 Mei 2013

Keraton Yogyakarta Hadiningrat

Keraton ini mulai dibangun pada tahun 1755 oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Hamengkubuwono I. Beliau merencanakan suatu susunan perumahan yang mencerminkan struktur sosial di bawah kedaulatan yang baru. Dalam sistem ini raja adalah pusat dan satu-satunya sumber kekuatan, dalam keraton ini ia dikelilingi oleh keluarga dan kerabat dekatnya. Lapisan berikutnya adalah para abdi setia yang terpilih dan baru di luar itu orang kebanyakan.

Keraton disusun sebagai serangkaian pekarangan yang tersusun simetris sepanjang sumbu utara-selatan. Tatanan ini mengarah ke pusat yaitu pekarangan terdalam, Kedathon, tempat Sultan bekerja sehari-hari.

pekarangan ini diapit di sisi timur oleh pekarangan Kasatriyan, yaitu tempat tinggal putra-putra Sultan yang belum menikah. Sementara itu, sisi barat adalah Keputren, tempat tinggal para istri dan anak-anak Sultan. Di ujung terbarat adalah Dalem Kedhaton Kilen, kediaman Ibunda Sultan, orang yang paling tinggi kedudukannya dalam keluarga Sultan. Arah timur ke barat ini berselarasan dengan perjalanan Sultan, sewaktu muda di sisi timur (dalam bahasa Jawa 'timur' berarti 'muda'), kemudian sebagai Sultan berdiam di tengah sedang masa tua adalah sisi matahari terbenam.

inti dari pekarangan Kedathon adalah bangunan utamanya, Prabayeksa. Di tempat inilah tersimpan inti kekuatan raja-raja Jawa. Di sinilah semua pusaka disimpan untuk dikembangkan dan diarahkan oleh pemiliknya, yaitu Sultan. Bangunan besar ini hampir tertutup sama sekali dan berkesan kosong karena memang tidak ada yang meninggali bangunan ini lagi sejak Hamengkubuwono I mangkat. Bagaimanapun, bangunan inilah inti kerajaan, sesuai dengan namanya praba (=sinar, wibawa) yeksa, yasa (=mengusahakan, mengembangkan). Singkatnya, 'pengembang kewibawaan' raja.

Jika keraton mengarah ke sumbu utara-selatan, maka Prabayeksa menghadap ke timur, ke arah terbitnya matahari. mungkin ini ada hubungannya dengan tradisi pertanian karena di keraton pasisiran semua bangunannya mengarah utara dan selatan. Bangunan-bangunan lain di pekarangan ini Gedong Jene yang menjadi tempat tinggal sebenarnya bagi Sultan, sekaligus tempat kerja dan menerima tamu-tamu resmi. Di depan Prabayeksa adalah Bangsal Kencana, bangunan terbuka untuk pertunjukan dan pergelaran.

Ke sebelah utara pekarangan Kedhaton adalah pekarangan Srimanganti, tempat para tamu menunggu sebelum diizinkan masuk ke Kedhaton. Ke luar melalui gapura Srimanganti adalah pekarangan Kemandhungan Utara dan melalui gerbang Brajanala mencapai Sitihinggil dan Pagelaran, bagian paling depan komplek Keraton tempat Sultan duduk menghadapi rakyatnya yang berkumpul di Alun-alun.

Sama halnya dengan arah selatan, melalui Gerbang Kemagangan masuk ke pekarangan Kemagangan lalu di seberangnya Gerbang Gadungmlati yang menghubungkan ke pekarangan Kemandhungan Selatan. Dari sini, Sitihinggil Selatan terhubung oleh Gerbang Kemandhungan. Terakhir adalah Alun-alun Selatan yang sedikit lebih kecil dari Alun-alun Utara.

Seluruh kompleks ini seluas 14000 meter persegi  masih dikelilingi oleh dinding tinggi atau benteng. Lima gerbang menghubungkan keraton ke dunia luar. Yaitu Tarunasura atau Wijilan di arah timur laut, Jagasura atau Ngasem di barat laut, Jagabaya atau Tamansari di barat, Nirbaya atau Gading di selatan serta terakhir Madyasura di arah timur.

Di luar benteng sebenarnya masih ada beberapa unsur yang termasuk dalam konstelasi Keraton Yogyakarta, yaitu Tamansari di sisi barat daya keraton. Tugu atau Pal Putih di ujung utara kota serta Panggung Krapyak jauh ke arah selatan. Tamansari adalah sebuah kompleks bangunan yang sangat menakjubkan, sebuah taman bercengkerama yang bentuknya luar biasa, tempat Sultan berhubungan dengan Penguasa Laut Selatan, tetapi sekaligus juga sebagai pertahanan terakhir jika keraton diserbu musuh.

Modul Media Pembelajaran

Senin, 06 Mei 2013

Laporan Buku Media Pembelajaran

Judul Buku       : Media Pembelajaran
Penulis             : Tim Dosen UPI
Penerbit           : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan – FIP UPI
Cetakan           : 2003

Sabtu, 27 April 2013

Definisi Rumah Tinggal

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman mendefinisikan bahwa :
  1. Rumah  adalah    bangunan  yang  berfungsi  sebagai  tempat  tinggal  atau  hunian  dan  sarana pembinaan keluarga,
  2. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan,
  3. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan  perkotaan  maupun  perdesaan  yang  berfungsi  sebagai  lingkungan  tempat  tinggal  atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
Pengertian rumah dikemukakan Budihardjo (1987) antara lain: rumah sebagai simbol dan pencerminan tata nilai  selera pribadi  penghuninya atau dengan kata lain sebagai pengejawantahan jati diri, rumah sebagai wadah keakraban diamana rasa memiliki, kebersamaan, kehangatan, kasih dan rasa aman tercipta didalamnya, rumah sebagai tempat kita menyendiri dan menyepi, yaitu sebagai tempat melepaskan diri dari dunia luar, tekanan dan tegangan, rumah sebagai tempat untuk kembali pada akar dan menumbuhkan rasa kesinambungan dalam untaian proses ke masa depan, rumah sebagai wadah kegiatan utama sehari-hari, rumah sebagai pusat jaringan sosial, rumah sebagai struktur fisik dalam arti rumah adalah bangunan.

Menurut Johan Silas (2002) rumah  mengandung pengertian:
  • Sebagai tempat penyelenggaraan kehidupan dan penghidupan keluarga; rumah harus memenuhi kebutuhan yang bersifat biologis seperti makan, belajar, dan lain-lain, juga memenuhi kebutuhan non biologis, seperti bercengkrama dengan anggota keluarga atau dengan tetangga.
  • Rumah berfungsi sebagai sarana investasi; rumah mempunyai nilai investasi yang bersifat moneter yang dapat diukur dengan uang dan non moneter yang tidak dapat diukur dengan uang., tetapi lebih pada keuntungan moral dan kebahagiaan keluarga.
  • Rumah sebagai sarana berusaha; melalui rumah penghuni dapat meningkatkan pendapatannya guna kelangsungan hidupnya.
  • Rumah sebagai tempat bernaung harus memenuhi kebutuhan ruang akan kegiatan bagi penghuninya. Terdapat beberapa ruang pokok yang ada pada sebuah rumah, yaitu ruang tidur, ruang belajar atau ruang kerja, ruang keluarga,  ruang services seperti dapur, dan teras atau ruang tamu. Makna yang terkandung didalam kebutuhan ruang-ruang tersebut mencerminkan bahwa rumah adalah tempat untuk  istirahat, tempat untuk mengaktualisasikan diri guna meningkatkan mutu kehidupan, rumah sebagai tempat sosialisasi utamanya dengan keluarga, rumah sebagai tempat menyediakan kebutuhan jasmani dan rohani, serta rumah sebagai tempat bernaung
Sumber : 
  • UU No. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman
  • Hilman, Maman. 2010. Materi Kuliah Rekayasa Lahan II. Bandung : UPI

Rabu, 10 April 2013

Green Architecture, Solusi Bangunan Ramah Lingkungan

Oleh :
Hadi Yanuar Iswanto
NIM : 1006590

Akhir-akhir ini orang-orang di seluruh dunia ramai membicarakan tentang  “go  green”.  Apa sebenarnya “go green” ? Secara harafiah dalam Bahasa Inggris ‘go’ berarti menuju dan ‘green’ berarti warna hijau, maka “go green” berarti mengajak kita untuk menuju “hijau”. Ini terdengar seperti sebuah semangat untuk melakukan penghijauan. Di  dalam  dunia  arsitektur  ada istilah green architecture (arsitektur hijau), merupakan konsep bangunan berwawasan lingkungan. Arsitektur hijau, secara sederhana mempunyai pengertian bangunan atau lingkungan binaan yang dapat mengurangi atau dapat melakukan efisiensi sumber daya material, air dan energi. Dalam pengertian yang lebih luas, adalah bangunan atau lingkungan binaan yang efisien dalam penggunaan energi, air dan segala sumber daya yang ada, kemudian mampu menjaga keselamatan, keamanan dan kesehatan penghuninya dalam mengembangkan produktivitas penghuninya, serta mampu mengurangi sampah, polusi dan kerusakan lingkungan.

Green (hijau) dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), earthfriendly  (ramah  lingkungan),  dan  high  performance  building (bangunan  dengan  performa  sangat  baik). Bangunan berkonsep green architecture mempunyai satu sifat yang tidak kalah pentingnya dengan sifat- sifat lainnya. Sifat ini adalah “High performance building”. Pada dasarnya bangunan green architecture harus mempunyai  sifat  ini.  Salah  satu  fungsinya  ialah  untuk  meminimaliskan penggunaan energi dengan memenfaatkan energi yang berasal dari alam (Energy of nature) dan dengan dipadukan dengan teknologi tinggi (High technology  performance).  Contohnya  adalah  memanfaatkan sumber yang dapat diperbaharui seperti menggunakan sinar matahari melalui passive solar dan active solar, serta teknik photovoltaic dengan menggunakan tanaman dan pohon-pohon melalui atap hijau dan taman hujan. Konsep arsitektur hijau sangat mendukung program penghematan energi. Rumah ala tropis dengan banyak bukaan, dibentuk untuk mengurangi pemakaian AC juga penerangan adalah prinsip arsitektur hijau di daerah tropis. Namun, hal tersebut tidak akan berjalan mulus jika sekeliling rumah tidak asri. Bukaan banyak hanya akan memasukkan udara panas dan membuat pemiliknya tetap memasang pendingin ruangan. Oleh sebab itu pekarangan perlu dihijaukan dengan tanaman apa saja, permukaan tanah tidak ditutup dengan beton dan menerapkan manajemen sampah yang ketat.

Dari segi interior, arsitektur hijau mensyaratkan dekorasi dan perabotan tidak perlu berlebihan, saniter lebih baik, dapur bersih, desain hemat energi, kemudahan air bersih, luas dan jumlah ruang sesuai kebutuhan, bahan bangunan berkualitas dan konstruksi lebih kuat, serta saluran air bersih. Untuk mengatasi limbah sampah secara mandiri, lubang biopori dapat menjadi solusi.

Di Indonesia, kampanye go green ini sudah mulai digalakkan. Banyak bangunan-bangunan seperti rumah tinggal atau bangunan komersial lainnya yang mulai menyelaraskan konsep desainnya dengan green architecture. Saat ini konsep green architecture telah diwujudkan secara nyata pada beberapa hunian vertical atau apartemen di kota-kota besar di Indonesia. Konsep green apartment dalam beberapa tahun belakangan memang terus dikembangkan oleh pengembang properti. Konsep ini diaplikasikan melalui keberadaan taman-taman di beberapa balkon yang bisa digunakan penghuni apartemen untuk bersantai dan menikmati hijau dedaunan di tengah kota.

Arsitektur hijau tentunya lebih dari sekedar menanam rumput atau menambah tanaman lebih banyak di sebuah bangunan, tapi juga lebih luas dari itu, misalnya memberdayakan arsitektur atau bangunan agar lebih bermanfaat bagi lingkungan, menciptakan ruang-ruang publik baru, menciptakan alat pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya.

Maka dari itu sangat beralasan jika program green architecture ini dapat diterapkan di masyarakat luas, karena dengan menerapkan konsep ini keuntungannya dari sisi ekonomi sangat nyata dan terukur. Penggunaan pendingin ruangan dan penerangan ruangan serta penghematan air hingga 26-40 % setiap bulan. Selain itu penerapan konsep ini pun sejalan dengan pengurangan emisi karbon 2020. 

DAFTAR RUJUKAN

-          Buku
  • Hyde, Richard.2008. Bioclimatic Housing, Innovative Designs for Warm Climates.London: Cromwell Press
  • M.Echols, John dan Shadily, Hassan. Kamus Bahasa Inggris – Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka
  • Setiawan, Achnin.2010.Pusat Kebugaran Jasmani dan Spa di Jakarta (pendekatan konsep Green Architecture). Universitas Muhammadiyah Surakarta

-          Internet

-          Koran Online

Jumat, 15 April 2011
Jumat, 9 September 2011

Kamis, 16 Juni 2011

Jumat, 22 Maret 2013

Sistem Pendidikan Nasional

Senin, 10 Desember 2012

Definisi Pendidikan Kejuruan

  • Rupert Evans(1978): Pendidikan Kejuruan adalah bagian dari sistem yang mempersiapkan seseorang agar lebih mampu bekerja pada satu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan daripada bidang-bidang pekerjaan lainnya.
  • United States Congress(1976): Pendidikan Kejuruan adalah program pendidikan yang secara langsung dikaitkan dengan penyiapan seseorang untuk pekerjaan tertentu atau untuk persiapan tambahan karier seseorang.
  • UUNo.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 21: Pendidikan Kejuruan merupakan jenjang pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu.
  • National Institute for Educational Research (NIER), Tokyo, Japan: Vocational Education : diartikan program pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga kerja pada level craftsman atau perusahaan pada level dasar. Hal ini merefresentasikan suatu tahapan dari skill pekerja. Technical Education : diartikan sebagai program pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga kerja pada level teknisi atau sub-profesional, yang biasanya tingkatannya berada satu level diatas craftsman akan tetapi levelnya berada dibawah profesional.
*)Sumber : Catatan Kuliah Kajian Teknologi dan Vokasi