Jumat, 05 Juni 2015

Kisah Republik Pertama Perancis

Berikut ini adalah tulisan dari Pak Boediono, Wakil Presiden Republik Indonesia 2009-2014 tentang demokrasi. Semoga bermanfaat.

Kisah Republik Pertama PerancisIni adalah sepenggal kisah di awal perjalanan bangsa Perancis membangun demokrasi. ...
Posted by Boediono on Thursday, June 4, 2015

Rabu, 03 Juni 2015

Tipologi Arsitektur Tradisional

Tipologi bangunan adalah ilmu tentang klasifikasi sesuatu. Menurut Iswati (2003) dalam Santoso (2011), tipologi adalah studi tentang tipe dengan kegiatan kategorisasi dan klasifikasi untuk menghasilkan tipe. Kegiatan kategori dan tipe tersebut sekaligus dapat dilihat keragaman dan keseragamannya. Menurut Loekito (1994) dalam Pangarsa. dkk (2012), tipologi dapat dilakukan apabila obyek yang diteliti memiliki kesamaan sifat atau ciri-ciri.

Arsitektur tradisional di Indonesia memiliki kesamaan prinsip dalam menerjemahkan makna ruang kehidupan. Desain arsitektur mereka dilatarbelakangi oleh kepercayaan dari leluhurnya yang berkembang di masyarakat setempat. Filosofi ketuhanan terkandung dalam pertimbangan rancangan bangunan mereka. Desain arsitektur tradisional Indonesia sebagian besar menggunakan material yang terdapat di lingkungan sekitarnya, sehingga menghasilkan bangunan yang ramah terhadap lingkungan. Muatan kearifan lokal tersebut seringkali melampaui zaman dan masih relevan dengan konteks kekinian. Pangarsa. dkk (2012) mengelompokkan Arsitektur Tradisional di Indonesia dalam kategori yang didasarkan pada strategi kebudayaan, yaitu:

Keperkasaan Masyarakat Megalit;
Melanjutkan sifat-sifat dasar masyarakat mengalit yang selama ini dianggap telah punah, tetapi penerusnya masih memiliki tradisi yang dipegang teguh. Ciri ini hanya tertinggal jejak-jejak tipisnya di beberapa tempat seperti Batak, Sumba atau Toraja. Warisan keperkasaan mengolah batu-batu besar tampak pada arsitekturnya.

Kewaspadaan Pelestari Lingkungan Hutan;
Kepekaan dalam mengenali dan menjaga kondisi alam di sekitar hunian manusia telah menjadikan masyarakat pelestari hutan waspada dalam mengelola alamnya.Fenomena ini sekarang tinggal terwakili oleh beberapa “artefak” saja, misalnya Mentawai atau Papua.

Ketekunan Masyarakat Tani Pedalaman;
Kebersamaan dan kejelian dari masyarakat tani pedalaman telah banyak menelurkan norma dan kebudayaan yang menjaga keharmonisan antara manusia, alam dan lingkungan binaannya. Sebagian besar dari arsitektur rakyat Nusantara adalah dari kelompok masyarakat tani pedalaman dan masyarakat tani pesisir pantai dengan ciri “ketekunan mengolah tanah pertanian”.

Keterbukaan Masyarakat Pesisir
Kondisi alam dan kebutuhan dalam berhuni membentuk masyarakat pesisir menjadi lebih terbuka dalam menata ruangnya. Pendeknya ruang transisi yang mereka bangun seakan menjadikan ruang bersama adalah salah satu cara perlingdungan diri terhadap keberadaan manusia di dalam arsitekturnya.

Kelenturan Masyarakat Dagang, Industri dan Informasi
Arsitektur rakyatnya terkena dampak langsung dari peradaban industri yang mengimbas dari kota-kota besar ke daerah perdesaan di sekitarnya.

Dari hasil temuan-temuan di atas, kita dapat melihat bahwa Arsitektur Tradisional memiliki ciri yang khas. Mereka bersifat harmoni dengan alam sekitar. Untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggalnya, masyarakat tradisional berusaha untuk tetap menjaga keaslian ekosistem lingkungan. Dengan harmonisasi ini akan terwujud suatu pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini dipertegas oleh Bruntland (1987) dalam Widaningsih dan Cahyani (2013) yang menyatakan “Sustainable development is development which meets the needs of the present without compromising the ability of future generation to meet their own needs." Demikianlah pembangunan berkelanjutan didefinisikan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini saja tetapi juga memenuhi kebutuhan bagi generasi yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Pangarsa WG, dkk. (2012). Tipologi Nusantara Green Architecture Dalam Rangka Konservasi Dan Pengembangan Arsitektur Nusantara Bagi Perbaikan Kualitas Lingkungan Binaan. Jurnal RUAS, 10, (2), 78-94
  2. Santoso I. (2011). Studi Pengamatan Tipologi Bangunan pada Kawasan Kauman Kota Malang. Jurnal Ilmiah Local Wisdom. 3, (2), 10-26.  
  3. Widaningsih L, Cahyani D. (2013).Pengukuran Indeks Arsitektur Hijau (Green Building) pada Arsitektur Tradisional di Jawa Barat. Proposal Penelitian. Tidak diterbitkan

Minggu, 31 Mei 2015

10 Cara Membuat Presentasi PowerPoint Menjadi Menarik

Memasuki pertengahan tahun ini saya ingin sedikit berbagi tips untuk membuat presentasi powerpoint kepada rekan-rekan. Powerpoint adalah alat bantu presentasi yang populer digunakan oleh khalayak baik mahasiswa, dosen, guru maupun praktisi bisnis lainnya. Karakteristiknya yang mudah dan banyak fitur menjadi keunggulan tersendiri. Selama ini powerpoint terkadang digunakan hanya sebagai salinan contekan yang ditampilkan ke hadirin. Biasanya seorang presenter yang teknik presentasinya demikian dianggap membosankan dan hadirin menjadi tidak tertarik dengan topik yang dibawakannya, meski isi materinya itu sangat bagus. Cara presentasi demikian pernah saya alami, saya juga pernah ditegur oleh dosen dengan  gaya presentasi yang membosankan itu. Alhamdulillah dengan adanya PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) dan saya ikut berpartisipasi di dalamnya, saya mendapat banyak pelajaran bagaimana menjadi presenter yang baik serta menyusun materi ke dalam powerpoint untuk dapat terlihat menarik. Tampilan yang menarik akan menggugah hadirin untuk menyimak presentasi kita sampai selesai.
Untuk membuat tampilan powerpoint menjadi menarik hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut.
  1. Pertama untuk desain power point itu sendiri, kita bisa membuat template sendiri yang menunjukkan karakter dan menjadi ciri khas dalam setiap penampilan. Sebaikya desain template dibuat dengan memperhatikan fungsi, bersih dan simple, tidak perlu banyak menampilkan pernak pernik atau gambar-gambar yang tidak ada hubungannya dengan materi. Warna pada template juga sebaiknya dibatasi menjadi 2 atau 3 warna. Penggunaan banyak pernak-pernik dan warna yang berlebihan malah akan membuat pusing orang yang membacanya
  2. Cover adalah bagian pembuka dari presentasi, ini merupakan salah satu bagian penting yang memberi informasi tentang topik yang akan dibawakan. Biasanya pada halaman cover terdapat judul, nama presenter, logo, tanggal dan lokasi presentasi. Disini bisa juga ditambahkan sebuah gambar yang mewakili tema.
  3. Pada bagian pembukaan, biasanya ada latar belakang atau pendahuluan yang menjadi inti permasalahan. Tulisan panjang lebar yang teoritis bisa dikonversi menjadi sebuah gambar besar atau infografis yang simple untuk diceritakan. 
  4. Perhatikan jenis dan ukuran font yang digunakan. Gunakanlah font standar dengan ukuran yang jelas dan mudah dibaca, misalnya Arial ukuran 28.
  5. Usahakan pada slide lebih diperbanyak gambar dan grafik, sebaiknya buat tulisan menjadi lebih ringkas. Buat poin-poin yang tajam langsung kepada inti. 
  6. Nomor halaman pada setiap slide juga penting, namun ini sering dilupakan :)
  7. Sisipkan animasi, namun jangan berlebihan karena akan membuat tidak fokus kepada materinya.
  8. Jika dibutuhkan, bisa disisipkan video yang berkaitan dengan materi, video ini bisa jadi adalah dokumentasi pribadi atau bisa diunduh dari youtube. Jangan lupa cantumkan sumbernya jika itu bukan milik pribadi :)
  9. Buat animasi pada setiap transisi atau pergantian slide. Namun jangan berlebihan, pilih yang sederhana. Pernah saya melihat presentasi yang setiap pergantian slide selalu berputar-putar, ini membuat pusing :|
  10. Slide tidak perlu dibuat banyak-banyak, ini bukan skripsi atau makalah :) , langsung saja kepada inti yang ingin disampaikan. Sesuaikan dengan waktu presentasi, rata-rata 10-15 slide
Demikianlah cara membuat presentasi powerpoint, terima kasih sudah menyimak, semoga bermanfaat. Sedikit tambahan untuk rekan-rekan mahasiswa, untuk melakukan presentasi lakukanlah dengan suara yang lantang dan penuh percaya diri. Jangan terpaku dengan layar atau membaca isi slide. Untuk itu sebelum presentasi perlu menguasai materi yang akan dibawakan. Supaya lebih sistematis, bisa dibuat skenario atau bahan yang akan diceritakan pada setiap slide. Mulai dari pembukaan, isi, penutupan hingga humor dalam presentasi bisa diskenariokan untuk kemudian dihafalkan :)

Kamis, 28 Mei 2015

The Poetics of Space (Ringkasan)

Tahun 2012 lalu saya pernah mencoba menerjemahkan tulisan di website ini untuk mengetahui inti dari isi buku The Poetics of Space karya Gaston Bachelard. Buku ini merupakan salah satu buku yang perlu dibaca oleh mahasiswa arsitektur. Awalnya saya membaca buku tersebut dalam versi bahasa inggrisnya, karena Bahasa Inggris saya saat itu yang masih pas-pasan, saya agak kesulitan untuk mencerna informasinya. Jadi karena saya sangat penasaran saat itu, saya coba mencari ringkasan-ringkasanya dan akhirnya saya menemukan salah satunya disini. Setelah itu saya coba menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia dan kali ini saya bagikan melalui blog ini supaya ke depannya dapat membantu orang-orang yang mengalami hal serupa seperti saya. Mohon maaf jika ada yang tidak tepat, silakan koreksi jika saya salah. Terima kasih :)
  • Judul Buku     : The Poetics of Space
  • Penulis            : Gaston Bachelard
  • Penerbit          : Press Universitaires de France
  • Tahun             : 1958
  • Terjemahan    : The Orion Press. Inc
  • Tahun             : 1964
Dalam bab pembukaan The Poetics of Space Bachelard menempatkan penekanan khusus pada ruang domestik interior dan komponennya : berbagai ruangan dan berbagai jenis furniture di dalamnya. Bachelard mencoba untuk melacak penerimaan gambar puitis dalam kesadaran subjektif, resepsi yang menuntut, sehingga Bachelard memegang keterbukaan besar dan fokus pada pengalaman. Rumah bagi Bachelard merupakan objek fenomenologis klasik, yang berarti bahwa ini adalah tempat di mana pengalaman pribadi mencapai lambang nya. Bachelard melihat rumah sebagai semacam alam semesta awal. Bachelard memeriksa rumah sebagai manifestasi jiwa melalui gambar puitis dan gambar sastra yang ditemukan dalam puisi. Dia meneliti lokasi di rumah sebagai tempat keakraban dan memori yang diwujudkan dalam puisi.

Bachelard menjelaskan fokus pada gambar puitis untuk itu menjadi milik dari kesadaran yang tidak bersalah, sesuatu yang mendahului pikiran sadar, tidak memerlukan pengetahuan dan merupakan produk langsung dari hati dan jiwa. Ini hubungan langsung puisi dengan kenyataan, untuk Bachelard, mengintensifkan realitas objek yang dirasakan ("menambah imajinasi nilai-nilai realitas", The Poetics of Space, hal.3). Puisi Bachelrad memegang dan diarahkan pada satu waktu yang sama baik ke dalam dan ke luar, sehingga membentuk diskusi masa depannya dari dalam dan luar yang begitu akrab bagi siapa saja yang berhubungan dengan teori ruang.

Bachelard menentukan bahwa rumah memiliki baik kesatuan dan kompleksitas, itu terbuat dari kenangan dan pengalaman, berbagai bagiannya membangkitkan sensasi yang berbeda namun menampilkan pengalaman, kesatuan intim hidup. Objek untuk Bachelard dibebankan dengan pengalaman mental. Lemari dibuka adalah bentuk pengungkapan dunia, laci adalah tempat rahasia, dan dengan setiap tindakan kebiasaan kita membuka dimensi tak terbatas dari keberadaan kita.

Dalam "Poetics of Space" Bachelard memperkenalkan konsep tentang topoanalysis, yang didefinisikan sebagai psikologis sistematis mempelajari satu situs dari kehidupan intim kita. Rumah itu, yang paling intim dari semua ruang, "melindungi pelamun" dan oleh karena itu memahami rumah menurut Bachelard adalah cara untuk memahami jiwa kita. Oleh karena itu rumah adalah situs yang sangat cocok untuk penelitian fenomenologis keintiman ruang batin. Untuk tujuan ini, yang diistilahkan "topoanalysis", kita perlu melihat dengan kedua keragaman dan kesatuan, dalam aspeknya serta dalam totalitasnya dari esensi. Rumah untuk Bachelrad adalah sumber gambar puitis, yang memunculkan kedua kompleksitas dan persatuan. Hal ini karena puisi memungkinkan kita untuk mengalami rumah bukan hanya verbalisasi itu.

Rumah untuk Bachelard bukan objek untuk memeriksa dan menjelaskan. Sebaliknya, salah satu gagasan utamanya adalah bahwa seseorang harus melampaui deskripsi hanya untuk memahami kualitas penting ruang, keintiman rumah, perlindungan dan kebahagiaan yang memberi kita. Pemeriksaan fenomenologis representasi puitis rumah, akan memungkinkan kita untuk mengalami arti dari ruang rumah. Dalam pendahuluan The Poetics of Space, Bachelard mencatat bahwa fenomenologi ekspresi puitis adalah fenomenologi jiwa dan bukan pikiran, dan itu ditujukan untuk strata inti, awal dan penting dari pengalaman kami untuk menjadi. Dengan merekonstruksi suatu kesadaran subyektif yang melahirkan gambar puitis rumah kita dan menemukan sebuah individualitas kita bisa terhubung dengan dengan cara analisis kita, yang diberi istilah oleh Bachelard inter-subjectivity.
Bachelard berbicara tentang pemikiran, melamun dan bermimpi dipanggil oleh rumah, suatu tindakan yang membangkitkan masa lalu dan menghubungkannya dengan saat ini. Ketika kita memasuki sebuah rumah baru kita dibanjiri dengan pengalaman rumah sebelumnya, yang bukan kenangan tapi sesuatu yang agak berbeda. Di negara ini semua rumah kehidupan kita melacak kembali ke rumah awal masa kecil kita. Sebagaiman Bachelard katakan "kita tidak pernah menjadi sejarawan nyata, tetapi penyair selalu dekat, dan emosi kita mungkin hanyalah sebuah ekspresi dari sebuah puisi yang hilang (The Poetics of Space, hal.6).

Dalam "The Poetics of Space" Gaston Bachelard memperkenalkan konsep "topoanalysis" yang didefinisikan sebagai "studi psikologis yang sistematis situs kehidupan keluar intim" (The Poetics of Space, h.8). Dia kemudian mulai menyatakan bahwa "dalam teater masa lalu yang didasari oleh memori, pengaturan tahap mempertahankan karakter dalam peran dominan mereka" (ibid). Menurut Bachelard berarti bahwa kenangan dari rumah dan berbagai bagiannya tidak ingat sesuatu melainkan sesuatu yang terjalin dengan masa kini, bagian dari pengalaman yang sedang berlangsung kita saat ini. Bachelard menulis tentang keinginan untuk menghentikan waktu. Cara untuk melampaui sejarah, untuk menghasilkan bahwa ruang yang menunda waktu, adalah melalui pencitraan dan halusinasi. Sejarah Unretrievable yang membatu, kenangan berdiri, mereka tidak bergerak, dan karena itu untuk Bachelard, itu adalah ruang, bukan waktu yang memanggil kenangan. Oleh karena itu ia mencari, melalui yang disebut topoanalysis, pengalaman dan bukan proses, esensi dan bukan kontinjensi dan sekilas.

Dalam rangka memberikan penjelasan tentang kehidupan mental biografi tidak mencukupi untuk Bachelard yang meminta topoanalysis tempat, rumah, dalam hal subjektif. Topoanalysis ini mengkaji keintiman dari kamar rumah demi ruang, spasi setelah ruang. Ini bukan kamar materi aktual atau spasi, melainkan, bermimpi tempat dibayangkan, diingat dan dibaca, yang memungkinkan kita untuk datang lebih dekat dengan inti dari pengalaman mental.

Alam bawah sadar psikoanalitik, Bachelard berpendapat, adalah "normal" setiap kali nyaman dan bahagia tinggal di tempat. Bachelard tidak rumit dalam hal ini tetapi apa yang tersirat dalam kata pengantar The Poetics of Space adalah bahwa bahagia tersebut adalah rasa merasa nyaman, merasa di rumah. Psikoanalisis menyebut bawah sadar ke sadar dalam rangka untuk membantu "tunawisma" menemukan rasa berada di tempat.Topoanalysis, sebagai bantuan bagi psikoanalisis, akan memeriksa ruang di mana kita dapat keluar dari tempat perlindungan bawah sadar dan masukkan sadar imajinasi kita. Dengan ruang-ruang intim menjadi ruang yang penuh kenikmatan, topoanalysis berhubungan dengan topophilia (kasih tempat) - cinta bagi mereka tempat terpapar oleh topoanlysis. Dan melalui konsep topophila, Bachelard memeriksa mereka ruang keintiman dia yaitu kamar rumah. Kapasitas puisi itu, Bachelard memegang, untuk memanggil alam bawah sadar tidak tergantung pada kemampuannya untuk menggambarkan ruang, melainkan untuk mengarahkan atau menetapkan bantalan ke arah itu. Hanya deskripsi yang tersirat akan memungkinkan kita untuk mendatangkan mereka dicari perasaan yang mungkin hilang.

Untuk gagasan tentang topoanalysis dan topophilia diperkenalkan dalam “The Poetics of Space”. Bachelard menambahkan dimensi fisik, dengan alasan bahwa rumah kami yang terukir dalam daging kita. Tubuh lebih baik dalam melestarikan kenangan rinci dari pikiran. Kenangan lainnya adalah lebih sulit untuk melacak dan ini dapat terungkap hanya melalui gambar puitis. Untuk Bachelard, fungsi utama puisi adalah untuk memberikan kita kembali keadaan melamun, yang merupakan sesuatu sejarah, psikologi dan geografi tidak mampu.

Rumah itu, kata Gaston Bachelard dalam "The Poetics of Space", adalah tubuh dari gambar yang memberikan ilusi stabilitas. Dia menawarkan gambar vertikal rumah yang diciptakan oleh polaritas loteng dan ruang bawah tanah yang menunjukkan, untuk Bachelard, irasionalitas dan rasionalitas masing-masing. Alasan untuk naik ke loteng agak jelas untuk loteng tidak hanya tempat penampungan kita dari cuaca tetapi juga membuat jelas seluruh struktur rumah. Loteng, tersebut adalah sebuah metafora untuk kejernihan pikiran. Basement, sebaliknya, adalah entitas gelap, bawah tanah dan tidak rasional. Kedua situs ini muncul dalam mimpi kita dan memproduksi jenis yang bervariasi dari mereka. Bachelard bergantung pada Jung untuk menjelaskan metafora psikoanalitik nya di mana ketika seseorang mendengar suara mencurigakan yang datang dari ruang bawah tanah ia bergegas ke loteng untuk melihat apa yang terjadi selain itu ketika hal itu terjadi di basement maka kebanyakan akan takut untuk turun ke ruang bawah tanah.

Salah satu masalah dengan metafora ini diperkenalkan dalam The Poetics of Space adalah bahwa rumah perkotaan tidak memiliki loteng atau ruang bawah tanah, bertentangan dengan rumah-rumah pedesaan yang jelas dalam pikiran Bachelard. Oleh karena itu Bachelard menyimpulkan bahwa rumah perkotaan kurang memiliki kualitas vertikal keintiman. Kotak-kotak perkotaan, sebagaimana Bachelard katakan, tidak memiliki akar atau ruang di sekitar mereka. Hubungan mereka dengan ruang telah menjadi buatan.satu-satunya cara apartemen hunian perkotaan dapat menawarkan pengalaman diuraikan oleh Bachelard dalam The Poetics of Space dengan menggunakan imajinasi kita, dan di sini Bachelard menjelaskan pengalaman pribadinya di sebuah apartemen Paris di mana ia harus membayangkan secara mental kamarnya dan kota sebagai alam, mengubah sofa menjadi perahu goyang pada gelombang, dan kota ini menjadi lautan.
sumber : diterjemahkan dari http://culturalstudiesnow.blogspot.com/

Rabu, 27 Mei 2015

Manajemen Kelas

Definisi Manajemen Kelas
Manajemen kelas adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dalam mengelola pembelajarannya menjadi terarah, terencana, dan terkemas dengan baik sehingga menghasilkan peserta didik yang berkualitas.

J.M. Cooper (1977) merumuskan lima definisi mengenai manajemen kelas.
  1. Manajemen kelas dipandang sebagai suatu proses untuk mengendalikan atau mengontrol perilaku siswa di dalam kelas. Definisi ini diwarnai oleh ancangan manajemen yang bersifat otoritatif, di mana guru melakukan tugas utama sebagai pencipta dan pemelihara suasana kelas agar tetap tertib. Pendekatan otoriter dalam manajemen kelas menjadikan siswa di dalam kelas sebagai ukuran keberhasilan dalam mengelola kelas.
  2. Manajemen kelas merupakan upaya menciptakan kebebasan atau semangat egaliter bagi diri siswa. Konsepsi ini dibangun atas asumsi bahwa dalam diri siswa terdapat potensi untuk bebas dan tugas guru adalah memaksimalkan kebebasan itu. Inisiatif guru menciptakan kebebasan secara alami bagi siswanya adalah sah dan sejalan dengan kaidah dasar proses kemanusiaan bahwa dalam diri manusia ada naluri alami untuk tidak berada dalam ikatan hidup yang ketat.
  3. Manajemen kelas dipandang sebagai suatu proses memodifikasi perilaku siswa (student behavioral modification). Kata lainnya, manajemen kelas merupakan proses mengubah perilaku siswa, dari perilaku yang mengalami deviasi atau penyimpangan ke perilaku tugas yang produktif (on task behavior), baik di dalam maupun di luar kelas dalam lingkup kampus sekolah. Perubahan perilaku siswa, karena itu, dimaksudkan agar tingkah laku mereka yang tidak diharapkan dapat dikurangi atau bahkan ditiadakan.
  4. Manajemen kelas dipandang sebagai proses menciptakan suasana sosioemosional yang positif di dalam kelas. Asumsi dasar pandangan ini adalah proses pembelajaran di kelas akan berkembang secara maksimal manakala iklim positif tercipta. Iklim positif itu tercipta manakala terjadi hubungan interpersonal yang kondusif antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Termasuk hubungan yang kondusif antara guru dengan tata usaha sekolah. Dalam makna luas hubungan itu mencakup interaksi yang kondusif antara warga sekolah dengan warga sekitar dan orang tua siswa.
  5. Manajemen kelas dipandang sebagai upaya pemberdayaan (empowering) sebuah sistem sosial atau proses kelompok belajar siswa (group processes) sebagai intinya. Sistem sosial dimaksud bisa dipandang “bersahaja” dan bisa distrukturkan. Kata “bersahaja” bermakna bahwa siswa berada pada posisi dan memiliki status yang sama dengan rekan-rekannya. Kata ini juga bisa bermakna dalam kerangka proses pembelajaran, di mana siswa memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk belajar di kelas dengan memanfaatkan potensi yang ada. Kata “distrukturkan” mengandung makna bahwa di kelas itu ada ketua kelas, wakil ketua kelas, kelompok siswa menurut piket harian, dan lain-lain. Oleh karena itu, manajemen kelas dapat didefinisikan sebagai seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.
Fungsi dan Tujuan Manajemen Kelas
Fungsi manajemen kelas adalah menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didik untuk mencapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Tujuan Pengelolaan Kelas: Agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib, sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Adapun tujuan penggunaannya di dalam kelas bagi siswa adalah :
  • Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya.
  • Membantu siswa untuk mengerti tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan memahami bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan, dan bukan kamarahan.
  • Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri di dalam tugas serta bertingkah laku yang sesuai dengan aktivitas kelas.
Menurut Made Pidarta, manajemen kelas yang efektif adalah :
Kelas adalah kelompok kerja yang diorganisasi untuk tujuan tertentu yang dilengkapi tugas-tugas
diarahkan oleh guru. Dalam suatu kelas, guru bukan tutor satu anak, tetapi untuk seluruh anak dalam kelas. Setiap kelompok mempunyai perilaku sendiri, yang berbeda dengan perilaku setiap individu dalam kelompok. Kelompok kelas menyisipkan pengaruhnya pada setiap anggota. Praktek guru dalam proses pembelajaran cenderung terdapat pada hubungan guru dan siswa. Struktur kelompok, pola komunikasi, dan kesatuan kelompok ditentukan oleh cara guru mengelola baik bagi mereka yang tertarik pada sekolah atau bagi mereka yang apatis, masa bodoh atau bermusuhan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Kusumah, Wijaya. 2012. Apakah Manajemen Kelas itu ?.
Tersedia di http://www.wijayalabs.com diakses tanggal 15 Maret 2012
[2] Latifah, Lyna. 2010. Manajemen Kelas/Pengelolaan Kelas.
Tersedia di https://docs.google.com diakses tanggal 15 Maret 2012
[3] Subagio. 2011. Manajemen Kelas.
Tersedia di http://subagio-subagio.blogspot.com diakses tanggal 14 Maret 2012

Selasa, 26 Mei 2015

Orang Asia

Kata Pak Andi Arsana, diantara orang-orang Asia, menjadi muda dan pintar kadang dianggap mengancam. Banyak orang tidak mudah untuk menerima dengan lapang dada ketika ada seseorang yang jauh lebih muda dari mereka berdiri di depan dan berceramah, apalagi menggurui. Tidak saja di Asia, hal ini juga terjadi di belahan dunia lainnya.