Tampilkan postingan dengan label arsitektur tradisional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label arsitektur tradisional. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2015

Tipologi Arsitektur Tradisional

Tipologi bangunan adalah ilmu tentang klasifikasi sesuatu. Menurut Iswati (2003) dalam Santoso (2011), tipologi adalah studi tentang tipe dengan kegiatan kategorisasi dan klasifikasi untuk menghasilkan tipe. Kegiatan kategori dan tipe tersebut sekaligus dapat dilihat keragaman dan keseragamannya. Menurut Loekito (1994) dalam Pangarsa. dkk (2012), tipologi dapat dilakukan apabila obyek yang diteliti memiliki kesamaan sifat atau ciri-ciri.

Arsitektur tradisional di Indonesia memiliki kesamaan prinsip dalam menerjemahkan makna ruang kehidupan. Desain arsitektur mereka dilatarbelakangi oleh kepercayaan dari leluhurnya yang berkembang di masyarakat setempat. Filosofi ketuhanan terkandung dalam pertimbangan rancangan bangunan mereka. Desain arsitektur tradisional Indonesia sebagian besar menggunakan material yang terdapat di lingkungan sekitarnya, sehingga menghasilkan bangunan yang ramah terhadap lingkungan. Muatan kearifan lokal tersebut seringkali melampaui zaman dan masih relevan dengan konteks kekinian. Pangarsa. dkk (2012) mengelompokkan Arsitektur Tradisional di Indonesia dalam kategori yang didasarkan pada strategi kebudayaan, yaitu:

Keperkasaan Masyarakat Megalit;
Melanjutkan sifat-sifat dasar masyarakat mengalit yang selama ini dianggap telah punah, tetapi penerusnya masih memiliki tradisi yang dipegang teguh. Ciri ini hanya tertinggal jejak-jejak tipisnya di beberapa tempat seperti Batak, Sumba atau Toraja. Warisan keperkasaan mengolah batu-batu besar tampak pada arsitekturnya.

Kewaspadaan Pelestari Lingkungan Hutan;
Kepekaan dalam mengenali dan menjaga kondisi alam di sekitar hunian manusia telah menjadikan masyarakat pelestari hutan waspada dalam mengelola alamnya.Fenomena ini sekarang tinggal terwakili oleh beberapa “artefak” saja, misalnya Mentawai atau Papua.

Ketekunan Masyarakat Tani Pedalaman;
Kebersamaan dan kejelian dari masyarakat tani pedalaman telah banyak menelurkan norma dan kebudayaan yang menjaga keharmonisan antara manusia, alam dan lingkungan binaannya. Sebagian besar dari arsitektur rakyat Nusantara adalah dari kelompok masyarakat tani pedalaman dan masyarakat tani pesisir pantai dengan ciri “ketekunan mengolah tanah pertanian”.

Keterbukaan Masyarakat Pesisir
Kondisi alam dan kebutuhan dalam berhuni membentuk masyarakat pesisir menjadi lebih terbuka dalam menata ruangnya. Pendeknya ruang transisi yang mereka bangun seakan menjadikan ruang bersama adalah salah satu cara perlingdungan diri terhadap keberadaan manusia di dalam arsitekturnya.

Kelenturan Masyarakat Dagang, Industri dan Informasi
Arsitektur rakyatnya terkena dampak langsung dari peradaban industri yang mengimbas dari kota-kota besar ke daerah perdesaan di sekitarnya.

Dari hasil temuan-temuan di atas, kita dapat melihat bahwa Arsitektur Tradisional memiliki ciri yang khas. Mereka bersifat harmoni dengan alam sekitar. Untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggalnya, masyarakat tradisional berusaha untuk tetap menjaga keaslian ekosistem lingkungan. Dengan harmonisasi ini akan terwujud suatu pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini dipertegas oleh Bruntland (1987) dalam Widaningsih dan Cahyani (2013) yang menyatakan “Sustainable development is development which meets the needs of the present without compromising the ability of future generation to meet their own needs." Demikianlah pembangunan berkelanjutan didefinisikan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini saja tetapi juga memenuhi kebutuhan bagi generasi yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Pangarsa WG, dkk. (2012). Tipologi Nusantara Green Architecture Dalam Rangka Konservasi Dan Pengembangan Arsitektur Nusantara Bagi Perbaikan Kualitas Lingkungan Binaan. Jurnal RUAS, 10, (2), 78-94
  2. Santoso I. (2011). Studi Pengamatan Tipologi Bangunan pada Kawasan Kauman Kota Malang. Jurnal Ilmiah Local Wisdom. 3, (2), 10-26.  
  3. Widaningsih L, Cahyani D. (2013).Pengukuran Indeks Arsitektur Hijau (Green Building) pada Arsitektur Tradisional di Jawa Barat. Proposal Penelitian. Tidak diterbitkan

Senin, 22 September 2014

Konsep Desain Rumah Panggung Sunda Modern

Tahun 2013 lalu saya coba tuangkan gagasan konsep desain rumah Sunda ke dalam Program Kreativitas Mahasiswa. Konsep ini dilatarbelakangi oleh pemanasan global yang menjadi perhatian serius masyarakat di seluruh belahan dunia. Untuk mengatasi pemanasan global digalakkan program pengurangan emisi karbon. Salah satu bentuk dukungan terhadap program tersebut muncul sebuah istilah green architecture. Gerakan ini muncul sebagai suatu kesadaran untuk menciptakan bangunan yang ramah terhadap lingkungan. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa rumah tradisional Sunda telah mampu beradaptasi dengan iklim, sehingga ada yang beranggapan bahwa rumah Sunda termasuk ke dalam kriteria model green architecture. Dengan anggapan tersebut saya mencoba mengkombinasikan desain modern dengan desain tradisional.
Pada bagian atap dibuat tinggi untuk memaksimalkan pengkondisian udara. Atap yang tinggi dapat menyimpan udara kemudian dengan bertahap menyalurkannya ke dalam bangunan. Sehingga hawa dalam bangunan akan terasa sejuk. Selain itu di bagian atapnya pun diberi ventlasi sehingga dapat memaksimalkan sirkulasi udara dan pencahayaan ke dalam ruangan.
Penggunaan jendela kaca yang terbuka lebar pada bangunan dimaksudkan ntuk memaksimalkan pencahayaan yang masuk ke dalam ruangan. Ciri khas rumah sunda adalah rumah dengan bentuk panggung. Maka pada desain ini, kesan bentuk panggung akan tercermin pada bagian terasnya yang diangkat ke atas. Di bawah teras terdapat kolam ikan. Sehingga penghuni rumah dapat bersantai bersama keluarga di teras tersebut sambil menikmati alam buatan.

Selasa, 29 April 2014

Arsitektur Rumah Tradisional Sunda

Bentuk rumah masyarakat Sunda adalah panggung, yaitu rumah berkolong dengan menggunakan pondasi umpak. Di samping itu, panggung merupakan bentuk yang paling penting bagi masyarakat Sunda, dengan suhunan panjang dan jure. Bentuk panggung yang mendominasi sistem bangunan di Tatar Sunda mempunyai fungsi teknik dan simbolik. Secara teknik rumah panggung memiliki tiga fungsi, yaitu: tidak mengganggu bidang resapan air, kolong sebagai media pengkondisian ruang dengan mengalirnya udara secara silang baik untuk kehangatan dan kesejukan, serta kolong juga dipakai untuk menyimpan persediaan kayu bakar dan lain sebagainya (Adimihardja dalam Nuryanto, 2006).

Fungsi secara simbolik didasarkan pada kepercayaan Orang Sunda, bahwa dunia terbagi tiga: buana larang, buana panca tengah, dan buana nyuncung. Buana panca tengah merupakan pusat alam semesta dan manusia menempatkan diri sebagai pusat alam semesta, karena itulah tempat tinggal manusia harus terletak di tengah-tengah, tidak ke buana larang (dunia bawah/bumi) dan buana nyuncung (dunia atas/langit). Dengan demikian, rumah tersebut harus memakai tiang yang berfungsi sebagai pemisah rumah secara keseluruhan dengan dunia bawah dan atas. Tiang rumah juga tidak boleh terletak langsung di atas tanah, oleh karena itu harus di beri alas yang berfungsi memisahkannya dari tanah yaitu berupa batu yang disebut umpak sebagainya (Adimihardja  dalam Nuryanto, 2006).


Gambar. Konsep Rumah Panggung Sunda
(Sumber : Iswanto,2013)

Secara teknis, rumah tradisional Sunda memiliki ciri yang khas, yaitu bentuk atap yang menyesuaikan terhadap keadaan alam, fungsi, dan adat istiadat dari kampung setempat (Anwar dan Nugraha, 2013). Material yang digunakan untuk membangun semua bersumber dari alam. Hasil karya mereka tampak harmoni dengan lingkungan sekitarnya sehingga keberlangsungan hidup generasi pada masa yang akan datang tetap terjaga dengan baik.

Daftar Pustaka

[1] Anwar H, Nugraha HA. (2013). Rumah Etnik Sunda. Jakarta : Griya Kreasi
[2] Iswanto HY. (2013). Kajian Konsep Green Architecture Berbasis Arsitektur Tradisional Sebagai Manifestasi Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia. File Presentasi
[3] Nuryanto. (2006). Kontinuitas dan Perubahan Pola Kampung dan Rumah Tinggal dari Kasepuhan Ciptarasa ke Ciptagelar di  Kab.Sukabumi-Jawa Barat. Laporan Tesis Magister Arsitektur, SAPPK-ITB. Tidak diterbitkan