Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Oktober 2013

Senggigi, Time to Play

Setelah selesai presentasi, para delegasi pimnas UPI segera merencanakan untuk liburan di lombok :) Mumpung di Mataram, kapan lagi bisa jalan-jalan. So, kami targetkan ke pantai senggigi plus pulangnya beli oleh-oleh. Dari penginapan ke lokasi Pantai Senggigi sebenarnya cukup jauh, sekitar 40 menit perjalanan darat. Kami menyewa bus sedang untuk mencapai lokasi. Untunglah lalu lintas di Mataram tidak padat seperti di Bandung.. jadi lebih menikmati perjalanan :)


Ini dia wajah-wajah sumringah para delegasi UPI di PIMNAS 26 Mataram (gimana ga seneng .. selain liburan gratis dapat uang saku pula dari pihak kampus lho :D) terima kasih atas apresiasi dari para petinggi kampus UPI kepada para tim PKM UPI yang berhasi lolos ke PIMNAS 26 :)
yang pertama kali dilakukan setelah turun dari bus ya.. foto-foto. Senyuman bahagia terpancar di wajah masing-masing. Nah .. sayangnya saya kurang fit saat itu. Entah kenapa sehabis presentasi, kepala mendadak pusing, mual-mual .. mungkin gejala masuk angin.  Jadi walaupun di pantai, saya tidak ikut berenang seperti kawan yang lain. Akhirnya saya hanya sebagai "satpam" saja disana. Ya nda papa, itung-itung amal :)

sekali-kali narsis dulu ah :D berpose di pantai. Gimana ? saya keren kan ?
Niatnya kami ke pantai ingin menyaksikan indahnya sunset, namun sayang, cuaca saat itu sedang mendung. Jadi kami tidak bisa menyaksikannya. Kecewa juga, jauh-jauh ke pantai ga bisa liat sunset :(


Pantai Senggigi memang pantai yang terkenal di Lombok. Pemandangannya indah, menarik dan eksotis (banyak bule berjemur disini :D). airnya pun bening, jernih dan asin tentunya. So, beberapa kawan memanfaatkannya dengan snorkling.

narsis dulu sebelum snorkling yah :D
kalo yang ini ga bisa main snorkling, jadi main perahu aja deh :). Lumayan murah, katanya sih Rp 20.000 sampe puas. Beruntung karena ditemani LO yang orang asli Mataram (LO di samping kanan namanya bang Idham Nazmi, humoris juga orangnya :) )
Jalan-jalan jauh ke Mataram ketemu juga sama orang Sunda, asa panggih jeung dulur atau artinya seperti bertemu saudara. Ternyata kakak-kakak cantik itu berasal dari Sukabumi, Jawa Barat, duh senengnya bisa ketemu sebangsa di tanah perantauan .. cieeeilah :D. Nuhun ya teh, udah mau ngobrol-ngobrol plus foto bareng :D. Eh, lupa ga minta nomor teleponnya :(

Ada hal yang menarik saat kami pulang. Kang Erick ternyata agak pelupa orangnya atau kata orang sunda disebut limpeuran :D. Jadi ceritanya kang Erick ini santai-santai saja ikut berenang bersenang-senang ikut foto-foto dengan kami. Sampai saat mau pulang dia tanya "sendal saya mana ?", rupanya dia lupa sendalnya disimpan dimana. awalnya menuduh ada yang menyembunyikan. Sampai kami pun ikut mencari. Dan ternyata .. ketemu. Ini baru awalnya. setelah itu kami berjalan menuju bus. Sudah dekat ke tempat parkir, tiba-tiba kang erick nyeletuk "celana saya mana ?" . Kontan saja semua terpingkal-pingkal. Tadi hilang sendal sekarang celana. Eh, kok bisa ? ya, jadi yang hilang ternyata celana panjangnya. Saat mau nyebur ke pantai, celananya dibuka, ganti dengan celana pendek, tapi yang jadi masalah adalah lupa naruh celana panjangnya dimana. Mungkin karena terlalu keasyikan main ya kang ?
ini dia sosok kang Erick yang mengikhlaskan celana panjangnya untuk "disimpan" di Senggigi. inspiratif :)
So, sekarang ada perasaan rindu untuk kembali dan bermain lagi ke Senggigi. Banyak lokasi wisata di Lombok yang belum sempat kami jamah. Ini karena keterbatasan waktu. Ya, Lombok is beautiful. I will be back (next time >> kapan-kapan :) )

Rabu, 16 Oktober 2013

(WAJIB) Visit Bali sekali Seumur Hidup

Ya, ini hanya sebuah kelakar saja. Saat saya menginjakkan kaki di Ngurah Rai Airport, Bali saya teringat guru SD saya yang sudah almarhum, Pak Ace Sutisna namanya. Dulu waktu saya duduk di Kelas 4 SD, beliau sebagai guru kelas. Karakter beliau yang humoris selalu menjadi penyegar di sela-sela pelajaran. Saat pelajara IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) beliau pernah berkelakar yang kira-kira seperti ini katanya "sakali saumur hirup kudu pernah nyaba ka Bali, engke lamun maot ditanya ku malaikat, tos pernah ka bali acan ? lamun acan moal jadi maotna cenah, dititah ka Bali heula ku malaikatna" yang artinya dalam bahasa Indonesia "sekali seumur hidup harus pernah pergi ke Bali, Nanti kalau meninggal ditanya oleh malaikat, sudah pernah pergi ke Bali belum ? kalau belum, maka ga jadi meninggalnya, disuruh ke Bali dulu oleh malaikatnya". Ya, ga logis memang tapi sedikit humor yang langsung menggemparkan seisi kelas :D

foto saya dan teman saat di dalam pesawat. This is my first flight :) dan foto saya saat tiba di Ngurah Rai International Airport, Bali :) Saat pertama kali turun dari pesawat dan menjejakkan kaki di Bali :) udara panas langsung terasa atau kata orang Sunda istilahnya ngaheab. Wah salah kostum nih, saya malah pake jaket :(. Nah, pesawat mendarat di Bali untuk transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Lombok. Saat itu Bandara Ngurah Rai sedang dalam tahap renovasi. Interiornya pun masih dalam tahap pengerjaan belum di finishing sama sekali. Lantainya bahkan masih beton polos.

Jadi setelah menunggu agak lama (sekitar 2 jam lebih) karena pesawat delay akhirnya tiba giliran untuk melanjutkan penerbangan dengan pesawat kecil milik maskapai Wings Air. Cukup nyaman, walaupun tidak senyaman pesawat jenis boeing :). So it's time for me to leaving Bali :(


ini dia pesawat Wings Air yang akan membawa saya ke Lombok. Pesawatnya nyaman, pramugarinya juga ramah dan cantik pastinya :D

Perjalanan saya di Bali hanya sampai di Bandaranya saja. Hikmah dari PIMNAS 26, sekaligus menunaikan nasihat dari guru saya. Ya, saya sudah pernah ke Bali :) ,next time saya ingin berlibur dan menjelajah eksostisme pulau Bali. Walaupun hanya kelakar, tapi saya yakin ada makna tersembunyi yang ingin disampaikan. Mungkin beliau ingin berkata "cintailah Indonesia, Indonesia punya Bali yang mendunia".

ada yang menarik, saat perjalanan dari Bali menuju Lombok, dari pengeras suara pramugari mengatakan bahwa perjalanan akan ditempuh sekira 45 menit. Namun rasanya baru 15 menit duduk di pesawat, pilot sudah menginformasikan pesawat akan mendarat :)

Selasa, 07 Mei 2013

Keraton Yogyakarta Hadiningrat

Keraton ini mulai dibangun pada tahun 1755 oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Hamengkubuwono I. Beliau merencanakan suatu susunan perumahan yang mencerminkan struktur sosial di bawah kedaulatan yang baru. Dalam sistem ini raja adalah pusat dan satu-satunya sumber kekuatan, dalam keraton ini ia dikelilingi oleh keluarga dan kerabat dekatnya. Lapisan berikutnya adalah para abdi setia yang terpilih dan baru di luar itu orang kebanyakan.

Keraton disusun sebagai serangkaian pekarangan yang tersusun simetris sepanjang sumbu utara-selatan. Tatanan ini mengarah ke pusat yaitu pekarangan terdalam, Kedathon, tempat Sultan bekerja sehari-hari.

pekarangan ini diapit di sisi timur oleh pekarangan Kasatriyan, yaitu tempat tinggal putra-putra Sultan yang belum menikah. Sementara itu, sisi barat adalah Keputren, tempat tinggal para istri dan anak-anak Sultan. Di ujung terbarat adalah Dalem Kedhaton Kilen, kediaman Ibunda Sultan, orang yang paling tinggi kedudukannya dalam keluarga Sultan. Arah timur ke barat ini berselarasan dengan perjalanan Sultan, sewaktu muda di sisi timur (dalam bahasa Jawa 'timur' berarti 'muda'), kemudian sebagai Sultan berdiam di tengah sedang masa tua adalah sisi matahari terbenam.

inti dari pekarangan Kedathon adalah bangunan utamanya, Prabayeksa. Di tempat inilah tersimpan inti kekuatan raja-raja Jawa. Di sinilah semua pusaka disimpan untuk dikembangkan dan diarahkan oleh pemiliknya, yaitu Sultan. Bangunan besar ini hampir tertutup sama sekali dan berkesan kosong karena memang tidak ada yang meninggali bangunan ini lagi sejak Hamengkubuwono I mangkat. Bagaimanapun, bangunan inilah inti kerajaan, sesuai dengan namanya praba (=sinar, wibawa) yeksa, yasa (=mengusahakan, mengembangkan). Singkatnya, 'pengembang kewibawaan' raja.

Jika keraton mengarah ke sumbu utara-selatan, maka Prabayeksa menghadap ke timur, ke arah terbitnya matahari. mungkin ini ada hubungannya dengan tradisi pertanian karena di keraton pasisiran semua bangunannya mengarah utara dan selatan. Bangunan-bangunan lain di pekarangan ini Gedong Jene yang menjadi tempat tinggal sebenarnya bagi Sultan, sekaligus tempat kerja dan menerima tamu-tamu resmi. Di depan Prabayeksa adalah Bangsal Kencana, bangunan terbuka untuk pertunjukan dan pergelaran.

Ke sebelah utara pekarangan Kedhaton adalah pekarangan Srimanganti, tempat para tamu menunggu sebelum diizinkan masuk ke Kedhaton. Ke luar melalui gapura Srimanganti adalah pekarangan Kemandhungan Utara dan melalui gerbang Brajanala mencapai Sitihinggil dan Pagelaran, bagian paling depan komplek Keraton tempat Sultan duduk menghadapi rakyatnya yang berkumpul di Alun-alun.

Sama halnya dengan arah selatan, melalui Gerbang Kemagangan masuk ke pekarangan Kemagangan lalu di seberangnya Gerbang Gadungmlati yang menghubungkan ke pekarangan Kemandhungan Selatan. Dari sini, Sitihinggil Selatan terhubung oleh Gerbang Kemandhungan. Terakhir adalah Alun-alun Selatan yang sedikit lebih kecil dari Alun-alun Utara.

Seluruh kompleks ini seluas 14000 meter persegi  masih dikelilingi oleh dinding tinggi atau benteng. Lima gerbang menghubungkan keraton ke dunia luar. Yaitu Tarunasura atau Wijilan di arah timur laut, Jagasura atau Ngasem di barat laut, Jagabaya atau Tamansari di barat, Nirbaya atau Gading di selatan serta terakhir Madyasura di arah timur.

Di luar benteng sebenarnya masih ada beberapa unsur yang termasuk dalam konstelasi Keraton Yogyakarta, yaitu Tamansari di sisi barat daya keraton. Tugu atau Pal Putih di ujung utara kota serta Panggung Krapyak jauh ke arah selatan. Tamansari adalah sebuah kompleks bangunan yang sangat menakjubkan, sebuah taman bercengkerama yang bentuknya luar biasa, tempat Sultan berhubungan dengan Penguasa Laut Selatan, tetapi sekaligus juga sebagai pertahanan terakhir jika keraton diserbu musuh.