Selasa, 29 April 2014

Mengkaji Konsep Berkelanjutan Pada Arsitektur Tradisional Sunda

Arsitektur tradisional Sunda adalah karya arsitektur yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Sunda di Indonesia. Arsitektur tradisional terbangun dengan bahan-bahan alami. Dalam masyarakat tradisional Sunda, untuk mendirikan sebuah bangunan perlu ritual-ritual khusus. Pada intinya mereka mempercayai bahwa lokasi site yang akan dibangun ada yang memilikinya. Ritual khusus tersebut bermaksud untuk memohon izin kepada Yang Maha Kuasa agar pada lokasi yang akan dihuni tersebut nantinya memberikan keselamatan dan keberkahan bagi penghuninya. Dalam membangun pun tidak sembarangan. Material alam yang akan dipakai untuk membangun dipilih dan diupayakan agar tidak merusak komunitas alam. Hal ini berbanding terbalik dengan realita kehidupan masyarakat modern saat ini yang cenderung mengeksploitasi alam. Inilah mengapa terjadi persoalan banjir dan tanah longsor. Bahkan masalah banjir telah menjadi perhatian khusus bagi para kepala daerah di Indonesia.

Menarik pada masyarakat tradisional begitu kaya akan filosofi dan pandangan hidup mereka terhadap alam semesta. Falsafah hidup tersebut mempengaruhi desain arsitektur mereka. Mari kita diskusikan hal ini. Beberapa yang saya catat tentang konsep berkelanjutan (sustainable) pada arsitektur tradisional sunda dirangkum ke dalam tiga aspek yaitu pada bentuk bangunan, struktur bangunan dan material yang digunakan untuk membangun.

salah satu karya arsitektur tradisional Sunda di Kampung Naga, Tasikmalaya
Konsep Bangunan

Rumah pada arsitektur tradisional Sunda didesain dengan menggunakan rumah panggung. Pada rumah panggung, massa bangunan diangkat ke atas dengan pondasi umpak sehingga terbentuk kolong di bawah rumah. Kolong pada rumah panggung memungkinkan terjadinya sistem sirkulasi udara secara menyilang yang diilustrasikan pada gambar berikut.


Berdasarkan ilustrasi tersebut, sirkulasi udara terjadi tidak hanya horizontal tetapi juga dari bawah bangunan. Udara yang masuk adalah udara yang masih bersih dan sejuk sehingga menyehatkan kondisi di dalam bangunan. Udara yang telah tercemar atau telah berputar di dalam ruangan akan dikeluarkan melalui ventilasi dan bukaan.

Struktur Bangunan
  1. Pondasi Rumah tradisional Sunda dibangun dengan menggunakan pondasi umpak. Pondasi umpak ini terletak di atas permukaan tanah. Sehingga mengangkat massa bangunan ke atas. Pondasi umpak ini menyebabkan terjadinya ruang kosong di bawah massa bangunan yaitu kolong. Kolong dibiarkan secara alami berupa tanah tanpa sentuhan penyelesaian. Tanah yang dibiarkan apa adanya tersebut menciptakan area untuk resapan air. Pada saat hujan turun, air hujan akan meresap dengan cepat ke dalam tanah sehingga mencegah terjadinya banjir. 
  2. Lantai, biasanya masyarakat sunda menggunakan lantai yang disebut dengan palupuh (lantai bambu). Lantai bambu ini menimbulkan celah-celah sempit yang memungkinkan untuk masuknya aliran udara dari kolong. 
  3. Dinding, dinding pada rumah tradisional Sunda menggunakan bilik bambu. 
  4. Atap, masyarakat Sunda menggunakan material ijuk atau alang-alang untuk penutup atap rumahnya. Material ijuk atau alang-alang dapat menyerap hawa panas dari radiasi sinar matahari sehingga suhu di bawah atap menjadi tetap sejuk.
pondasi umpak dan sambungannya kepada struktur diatasnya. Untuk menyambungkan pondasi dengan struktur bagian tengah bangunan, balok kayu hanya ditempelkan saja di atas pondasi.

Material/Bahan Bangunan

Masyarakat Sunda membangun rumah mereka berdasarkan kepercayaan terhadap pembagian kekuasaan dunia. Masyarakat Sunda percaya dengan konsep buana panca tengah yang merupakan metafora alam semesta tempat dimana manusia hidup. Representasi terhadap kepercayaan tersebut menyebabkan rumah tradisional Sunda tidak langsung menyentuh kepada tanah, tetapi diberi jarak untuk menghormati tempat orang yang sudah meninggal. Tanah dalam kosmologi masyarakat Sunda merupakan larangan bagi orang yang masih hidup. Oleh karena itu material bangunan yang dipilih menghindari unsur tanah di dalamnya seperti batu bata, genteng yang berasal dari tanah liat, dan keramik. Masyarakat Sunda beranggapan apabila orang yang masih hidup menggunakan material yang terbuat dari tanah sama artinya dengan mengubur diri. Sehingga material yang dipilih banyak berupa kayu, bambu, dan ijuk. Hal ini cukup beralasan karena wilayah Jawa Barat sebagai tempat tinggal masyarakat Sunda, dianugerahi kekayaan alam yang melimpah ruah.


foto saat pembangunan rumah tradisional Sunda di Kampung Naga. untuk konstruksi atapnya bambu digunakan sebagai pengganti kayu. 

Interior pada gambar ini adalah sebuah sebuah masjid di Kampung Naga. Kami beruntung karena pada saat kami berkunjung ke sana sedang dilakukan renovasi masjid. (dari kiri ke kanan) Saya, dosen : Pak Nuryanto, Ikhwan, dan Adam

Arsitektur Rumah Tradisional Sunda

Bentuk rumah masyarakat Sunda adalah panggung, yaitu rumah berkolong dengan menggunakan pondasi umpak. Di samping itu, panggung merupakan bentuk yang paling penting bagi masyarakat Sunda, dengan suhunan panjang dan jure. Bentuk panggung yang mendominasi sistem bangunan di Tatar Sunda mempunyai fungsi teknik dan simbolik. Secara teknik rumah panggung memiliki tiga fungsi, yaitu: tidak mengganggu bidang resapan air, kolong sebagai media pengkondisian ruang dengan mengalirnya udara secara silang baik untuk kehangatan dan kesejukan, serta kolong juga dipakai untuk menyimpan persediaan kayu bakar dan lain sebagainya (Adimihardja dalam Nuryanto, 2006).

Fungsi secara simbolik didasarkan pada kepercayaan Orang Sunda, bahwa dunia terbagi tiga: buana larang, buana panca tengah, dan buana nyuncung. Buana panca tengah merupakan pusat alam semesta dan manusia menempatkan diri sebagai pusat alam semesta, karena itulah tempat tinggal manusia harus terletak di tengah-tengah, tidak ke buana larang (dunia bawah/bumi) dan buana nyuncung (dunia atas/langit). Dengan demikian, rumah tersebut harus memakai tiang yang berfungsi sebagai pemisah rumah secara keseluruhan dengan dunia bawah dan atas. Tiang rumah juga tidak boleh terletak langsung di atas tanah, oleh karena itu harus di beri alas yang berfungsi memisahkannya dari tanah yaitu berupa batu yang disebut umpak sebagainya (Adimihardja  dalam Nuryanto, 2006).


Gambar. Konsep Rumah Panggung Sunda
(Sumber : Iswanto,2013)

Secara teknis, rumah tradisional Sunda memiliki ciri yang khas, yaitu bentuk atap yang menyesuaikan terhadap keadaan alam, fungsi, dan adat istiadat dari kampung setempat (Anwar dan Nugraha, 2013). Material yang digunakan untuk membangun semua bersumber dari alam. Hasil karya mereka tampak harmoni dengan lingkungan sekitarnya sehingga keberlangsungan hidup generasi pada masa yang akan datang tetap terjaga dengan baik.

Daftar Pustaka

[1] Anwar H, Nugraha HA. (2013). Rumah Etnik Sunda. Jakarta : Griya Kreasi
[2] Iswanto HY. (2013). Kajian Konsep Green Architecture Berbasis Arsitektur Tradisional Sebagai Manifestasi Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia. File Presentasi
[3] Nuryanto. (2006). Kontinuitas dan Perubahan Pola Kampung dan Rumah Tinggal dari Kasepuhan Ciptarasa ke Ciptagelar di  Kab.Sukabumi-Jawa Barat. Laporan Tesis Magister Arsitektur, SAPPK-ITB. Tidak diterbitkan