Tabel 1. Konsep Tri Hita Karana dalam Susunan Kosmos
| UNSUR | ATMA (JIWA) | PRANA (TENAGA) | ANGGA (FISIK) |
| Alam Semesta (bhuana agung) | Paramaatman (Tuhan Yang Maha Esa) | Kekuatan yang menggerakkan alam | Unsur-unsur Panca Mahabhuta |
| Desa | Kahyangan Tiga (Pura Desa, Puseh dan Dalem) | Pawongan (warga desa) | Palemahan (wilayah desa) |
| Banjar | Parahyangan (Pura Banjar) | Pawongan (warga banjar) | Palemahan (wilayah banjar) |
| Rumah | Pamerajan/ Sanggah | Anggota Keluarga | Pekarangan Rumah |
| Manusia (bhuana alit) | Atman (jiwa manusia) | Sabda Bayu Idep | Badan/Tubuh Manusia |
Dasar konsep tersebut bersumber dari lontar Asta Kosala-Kosali dan Asta Gumi. Parwata (2011) menjelaskan bahwa penjabaran ajaran Tri Hita Karana dan kaitannya dengan konsep Tri Mandala adalah hubungan manusia dengan Tuhannya yang dilakukan dalam dimensi ruang Utama Mandala. Hubungan manusia dengan sesamanya dilakukan dalam dimensi ruang Madya Mandala. Sedangkan dimensi Nista Mandala merupakan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Gambar: Konsep Tri Mandala (Sumber : Eko Budihardjo dalam Suharjanto, 2011)
Subandi dalam Kumurur dan Damayanti (2009) mengatakan bahwa agama Hindu mengajarkan agar manusia mengharmoniskan alam semesta dengan segala isinya yakni bhuana agung (Makro kosmos) dengan bhuana alit (Mikro kosmos), dalam kaitan ini bhuana agung adalah lingkungan buatan/bangunan dan bhuana alit adalah manusia yang mendirikan dan menggunakan wadah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Budihardjo, R. (2013). Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri. Jurnal Nalars Vol. 12 No. 01
[2] Kumurur, V.A; Damayanti, S. (2009). Pola Perumahan dan Pemukiman Desa Tenganan Bali. Jurnal Sabua Vol. 01 No. 01
[3] Parwata, I.W. (2011). Rumah Tinggal Tradisional Bali dari Aspek Budaya dan Antropometri. Jurnal Mudra Vo. 26 No. 01
[4] Suharjanto, G. (2011). Membandingkan Istilah Arsitektur Tradisional Versus Arsitektur Vernakular : Studi Kasus Bangunan Minangkabau dan Bangunan Bali. Jurnal Comtech Vol. 02 No. 02

