Kamis, 04 April 2013

Ide Reorganisasi dan Pembenahan Angkot Bandung


Jalan-jalan keliling Bandung bisa menggunakan moda transportasi angkutan kota atau dikenal dengan akronim angkot. Angkot merupakan pilihan transportasi hemat yang masih setia dipilih oleh masyarakat. Sebagai penguna angkot, saya merasakan ketidaknyamanan yang mendasar. Tujuan seseorang "naik" angkot tentu ingin pergi ke tempat tujuan dengan cepat, aman, dan nyaman. Namun belakangan ini beberapa oknum sopir angkot nampaknya mengabaikan unsur tersebut.
Angkot di Bandung saat ini diatur oleh pemerintah daerah yang bekerjasama dengan Organisasi Angkutan Darat Kota Bandung. Setiap mobil angkot dimiliki oleh pengusaha angkot. Hal ini menyebabkan dalam setiap angkot memiliki kebijakan yang berbeda-beda. Pengusaha angkot dapat bertindak sekaligus sebagai sopir angkot atau mempekerjakan orang lain untuk menjadi sopir angkot tersebut. Besarnya pendapatan seorang buruh sopir angkot berbeda-beda tergantung kepada pengusaha angkot dimana mereka bekerja. (sumber: Pertiwi, Putri Indah; Kartono, Johan; Putra, Herdi Arman; Syufyan, Hidayatus; Gunawan,M. Fajar; Zahra, Fatimatuz. 2009. Budaya Sopir Angkutan Kota di Kota Bandung. Bandung : ITB)

Pola pengorganisasian seperti demikian menyebabkan beberapa angkot melalaikan kepentingan keamanan dan kenyamanan masyarakat sebagai pengguna jasa angkot. Maka pola organisasi tersebut harus dirubah agar dapat memberikan keuntungan kepada masyarakat dan pengelola angkot. Pengelolaan angkot akan menerapkan sistem perusahaan daerah. Seluruh trayek angkutan yang ada di kota Bandung terintegrasi ke dalam satu naungan perusahaan Angkot Bandung Bermartabat. Dalam menjalankan usahanya perusahaan ini dapat berbentuk sebuah perusahaan jasa yang dapat pula orang lain berinvestasi untuk kemajuan perusahaan. Seluruh sopir angkot yang bekerja saat ini ditarik sebagai bagian dari karyawan di perusahaan sehingga mereka mendapatkan gaji bulanan. Hal ini dapat mengatasi istilah “kejar setoran” yang sering dilakukan oleh sopir angkot yang mengakibatkan terbentuknya perilaku ngetem yang berdampak kepada kelalaian terhadap kenyamanan masyarakat pengguna jasa angkot. Budaya sopir angkot yang saat ini dinilai buruk di masyarakat, dibenahi dengan program pendidikan dan pelatihan untuk membina para sopir angkot sebelum diterjunkan ke lapangan.
Ah, itu hanya sebuah ide dari seorang yang awam. Mungkin perlu diadakan penelitian lebih lanjut. Tapi setidaknya hal seperti di atas tersebut yang saya harapkan sebagai konsumen moda transportasi angkot. Terima kasih telah membacanya :)

0 komentar:

Posting Komentar