Kamis, 14 Maret 2013

Takdir Politik

Oleh :
Anas Urbaningrum

Ungkapan takdir lebih sering muncul dalam suasana kekalahan, penderitaan, dan bahkan lekat dengan keputusasaan. Padahal, takdir seyogyanya adalah hal yang membahagiakan, menentramkan dan membebaskan. Bagaimanapun Tuhan sangat adil menentukan takaran takdir-Nya buat setiap mahluk-Nya. Kehidupan mahluk berasal dari Rahmat-Nya; dari kasih-sayang-Nya! Sementara, kebebasan itu haruslah diperjuangkan. Bolehlah kita berkata bahwa perjuangan hidup dan kehidupan merupakan perjalanan menuju takdir. Dan, perjalanan itu tentulah sebuah langkah sengaja, gerak sadar, dan dipenuhi dengan berbagai pengetahuan, keinginan, serta kalkulasi berbagai risiko. Kesadaran akan sebuah takdir pastilah dihasilkan dari sebuah proses panjang. Pun dengan politik dalam demokrasi. Dibandingkan sebagai rumusan hasil akhir, politik di dalam demokrasi lebih merupakan proses.

Demokrasi menjanjikan pembebasan. Perwujudan janjinya membutuhkan kerja keras, konsistensi dan lebih penting dari itu, harus berdasarkan pada dukungan dan mandat penuh dari semua kalangan. Mungkin setengah dari pemberian amanat kepada seseorang adalah memperhatikan bukti kinerja, dan mungkin setengahnya lagi berasal dari desakan ekspektasi. Seorang pemegang amanat, selain harus menunjukkan konsistensi kinerja, juga butuh konsistensi moral. Hal inilah yang kini sedang dipertaruhkan dalam pesta dan panggung demokrasi. Pesta dan panggung, kendati menjajakan keceriaan, kebahagiaan, kesenangan dan bahkan kemewahan, seringkali bukanlah fakta yang sesungguhnya. Selalu hadir sesuatu yang semu di sana. Dan pertarungan politik, persaingan demi persaingan memperoleh amanat dari rakyat, tidak jarang berlangsung menjadi sebuah pertandingan jagad simbolik. Karenanya si petarung, penting menunjukkan kinerja dan reputasi. Jangan sampai nanti keberatan simbol; bajunya demokrasi, tapi ruhnya otoriter; kainnya berhasil menutup aurat, tapi ucapannya penuh caci-maki; pidatonya berapi-api memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan, tapi auranya memendam ketidaksukaan, ketidak-ikhlasan, kemarahan dan bahkan dendam politik.

'Ala kulli hal, politik dan demokrasi bukanlah tontonan pertandingan final sepak bola. Menata politik dalam panggung demokrasi bukanlah menata sebuah pesta. Politik adalah perjalanan panjang dalam bingkai demokrasi untuk menjemput takdir sebuah bangsa. Tidak hanya takdir keadilan dan kesejahteraan yang dijemput, namun lebih penting dari itu, maghfirah dan rahmat Tuhan yang diharap. Seperti pepatah Arab klasik: kama takumu yuwalla 'alaikum (sebagaimana demikian keadaan rakyatnya, seperti itulah pemimpin yang akan dihasilkan). [***]
sumber : Rakyat Merdeka Online - Selasa, 05 Maret 2013 , 07:29:00 WIB (http://www.rmol.co/read/2013/03/05/100924/Takdir-Politik-)

Rabu, 13 Maret 2013

Nasihat Orangtua

Percayalah kekuatan doa dan ucapan orangtua bisa mendobrak logika. Ini saya alami sendiri. Terkadang dalam beberapa hal saya sering berbeda pendapat dengan mereka. Logika yang saya anut adalah zaman saat ini. Sedangkan orangtua saya masih menganggap sama dengan zaman saat mereka muda. Saat terjadi silang pendapat, saya selalu mengalah. Walaupun terkadang harus menanggung rasa kesal. Terkadang saya harus mengubur impian yang bisa diraih di depan mata hanya karena tidak ada restu dari orang tua. Bahkan saya harus rela membuang mimpi sebagai aktivis kampus. Walaupun begitu saya tetap harus ikhlas dan mencari jalan lain untuk meraih cita.
Belakangan ini, saya mulai menyadari hikmah dari hal tersebut. Semua keinginan saya dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Saya ingin laptop, Allah berikan itu. Saya ingin motor, Allah wujudkan itu. Saya ingin pergi ke PIMNAS, Allah berikan jalannya. Semua itu anugerah dari Allah SWT yang dilandasi oleh doa dan keridhoan orang tua. Bagaimana untuk mendapat doa dan ridho tersebut ? untuk saat ini mungkin karena saya selalu menuruti nasihat orang tua. Percayalah apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah, dan yakinlah doa orangtua yang menyertai akan memperlancar kesuksesan.

Senin, 10 Desember 2012

Definisi Pendidikan Kejuruan

  • Rupert Evans(1978): Pendidikan Kejuruan adalah bagian dari sistem yang mempersiapkan seseorang agar lebih mampu bekerja pada satu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan daripada bidang-bidang pekerjaan lainnya.
  • United States Congress(1976): Pendidikan Kejuruan adalah program pendidikan yang secara langsung dikaitkan dengan penyiapan seseorang untuk pekerjaan tertentu atau untuk persiapan tambahan karier seseorang.
  • UUNo.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 21: Pendidikan Kejuruan merupakan jenjang pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu.
  • National Institute for Educational Research (NIER), Tokyo, Japan: Vocational Education : diartikan program pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga kerja pada level craftsman atau perusahaan pada level dasar. Hal ini merefresentasikan suatu tahapan dari skill pekerja. Technical Education : diartikan sebagai program pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga kerja pada level teknisi atau sub-profesional, yang biasanya tingkatannya berada satu level diatas craftsman akan tetapi levelnya berada dibawah profesional.
*)Sumber : Catatan Kuliah Kajian Teknologi dan Vokasi

Sabtu, 08 Desember 2012

Hikmah Sejarah

oleh :
Anas Urbaningrum

Bung Karno pernah berpesan : Jasmerah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Masih terkait erat dengan pesan itu, ditegaskan juga bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai para pahlawannya. Sejarah jelas amat dekat dengan pahlawan. Roda sejarah digerakkan oleh keringat dan pengorbanan para pahlawan. Jumlah pahlawan terlalu banyak, meski yang biasa dikenal dan dicatat hanyalah “perwakilannya” saja.

Kita menjadi lega ketika Bung Tomo, tokoh besar pertempuran 10 Nopember, dianugerahi Pahlawan Nasional tahun ini. Sejarah heroik arek-arek Surabaya itu sudah lama diakui dan diajarkan dalam pelajaran sejarah, tetapi tokoh utamanya belum “diresmikan” statusnya sebagai pahlawan nasional, meski publik sudah lama menasbihkan Bung Tomo sebagai pahlawan. Mungkin pernah ada “halangan politik” atau “keteledoran administratif” dalam waktu yang cukup lama, karena mustinya sejak jaman Orde Baru urusan ini sudah layak diselesaikan. Alhamdulillah, kini semuanya telah terang-benderang.

Demikian halnya dengan M. Natsir, tokoh yang dikenal dengan Mosi Integralnya. Dalam waktu yang lama terkatung-katung statusnya sebagai tokoh yang layak digelari pahlawan nasional. Ketika tahun ini Natsir ditetapkan sebagai pahlawan nasional, yang lega tentu saja bukan hanya Keluarga Sang Mantan Perdana Menteri itu, tetapi juga Keluarga Besar Bulan Bintang, masyarakat Suamatera Barat dan bahkan kita bangsa Indonesia. Pekan silam Presiden SBY hadir di Indarung untuk syukuran penganugerahan gelar pahlawan nasional untuk tokoh Masyumi itu.

Belum lagi dengan pengakuan PDRI dalam episode penting perjalanan sejarah kita. Pemerintahan Darurat yang berpusat di Bukittinggi itu jelas tidak boleh kita lupakan. Eksistensinya telah berjasa menyambung tali sejarah keberadaan Pemerintah Republik Indonesia dan menjauhkan dari kekosongan kekuasaan. Karena itu, kita menghargai tinggi ketika Pemerintah menetapkan 19 Desember sebagai Hari Bela Negara, sebagai bentuk nyata pengakuan terhadap eksitensi PDRI.
Yang paling anyar adalah peresmian Monumen Gerilya Panglima Besar Soedirman di Pacitan. Setelah sekian lama “agak terlantar”, Pemerintah bergegas membangun kawasan wisata sejarah itu. Siapapun paham bahwa sejarah gerilya Panglima Soedirman amatlah berarti dan tidak bisa dipisahkan dari sejarah TNI dan sejarah bangsa. Kita pun tahu bahwa sebelumnya, SBY juga telah meresmikan museum AH Nasution, tokoh sejarah 65 yang tak terlupakan.

Beberapa catatan itu adalah fakta-fakta pelaksanaan komitmen untuk tidak melupakan sejarah. Bahkan lebih dari itu, realisasi dari kesadaran untuk menghormati para pahlawan dan menempatkan sejarah pada tempat yang terhormat. Ketika sejarah diletakkan pada tempatnya, dihormati dan dihargai, maka kita berkesempatan untuk memetik hikmahnya.

Hikmah sejarah sejatinya sederhana. Sejarah adalah cermin masa silam. Petik yang baik untuk dirawat dan diaktualisasikan. Kubur yang kurang baik untuk dijadikan pelajaran.Mikul dhuwur mendem jero. Dengan demikian sejarah akan menjadi bagian dari energi masa depan, dan bukan menjadi alas an untuk merawat dendam kesumat. Wallahu a`lam
*)dikutip dari : http://bunganas.blogspot.com/2008/12/hikmah-sejarah.html

Bandung dan Art Deco