Kamis, 18 September 2014

Definisi Cinta dalam Perspektif Saya :)

Topiknya kali ini sedikit berbeda dari biasanya. Jangan anggap serius postingan ini. Mungkin sedikit ngawur. Sekedar mengekspresikan apa yang ada dalam hati dan pikiran. Cinta pada dasarnya terdiri dari kata ci dan ta yang saling bersatu padu menjadi kesatuan yang utuh. Cita menunjukkan cita-cita atau tujuan yang hendak dicapai. Kita setuju dalam cinta pasti ada tujuan. Tujuannya untuk membahagiakan satu sama lain. Saat rasa cinta itu tumbuh ada tiga hal yg akan dilakukan seseorang pertama akan mengekspresikannya secara cepat dan gamblang, yang kedua akan menunggu saat yg tepat untuk mengekspresikannya, dan yang terakhir ini terlalu rumit saat seseorang tersebut harus memendam rasa dan hanya bisa mengekspresikannya dalam hatinya sendiri. Tipe yang disebutkan terakhir itu nampaknya cukup populer. Sebuah kisah dramatis yang memiliki nilai tinggi. Bahkan novel klasik Indonesia banyak yang bertema kasih tak sampai.
Lalu saya termasuk yang mana ? Cukup saya dan Tuhan yang tau :) toh ketiga tipe itu memiliki efek positif dan negatifnya.

Senin, 08 September 2014

Prosiding PKM 2013

Beberapa waktu lalu saya sempat mengintip website simlitabmas, ternyata artikel penelitian saya tahun lalu dikemas ke bentuk prosiding elektronik, bagi saya yang masih pemula ini merupakan suatu hal yang memacu untuk terus berkarya dan berinovasi :) Prosiding tersebut bisa diunduh disini

Menjadi Guru PPL

Kegiatan PPL yang dilaksanakan oleh saya selaku guru PPL (baca : praktikan) di SMKN 6 Bandung dapat dikatakan terlaksana dengan baik. Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, disana terdapat tantangan bagaimana caranya bisa menjadi guru yang ideal dan bertanggung jawab atas kemajuan siswa. Berkenaan dengan hal tersebut maka Universitas Pendidikan Indonesia sebagai salah satu institusi pencetak guru yang profesional telah memberikan mata kuliah PPL yang sangat berpengaruh terhadap kesiapan lulusannya untuk menjadi guru yang ideal. Dengan adanya kegiatan PPL ini praktikan mendapatkan pengalaman bagaimana cara mengatur siswa, membimbing siswa, memberikan materi dengan penyampaian yang bisa di terima oleh siswa. Pengalaman ini diperoleh dari guru, karyawan, siswa dan rekan-rekan PPL lainnya.

Dalam pelaksaan PPL ini terkadang menghadapi kendala, namun kendala ini tidak lantas menjadi alasan sebagai faktor kegagalan praktikan dalam pelaksanaan PPL. Kendala tersebut dijadikan pelajaran berharga agar ketika praktikan menghadapi masalah tersebut di masa yang akan dating, praktikan dapat menghadapinya dengan cara yang tepat. Selama praktikan melaksanakan kegiatan PPL di SMKN 6 Bandung, praktikan dapat menarik kesimpulan secara umum, yaitu kegiatan PPL bertujuan untuk melatih para calon pendidik (mahasiswa/praktikan) agar mendapatkan pengalaman mendidik secara faktual di lapangan dan juga sebagai sarana terbentuknya tenaga kependidikan yang profesional di bidangnya. Dengan adanya kegiatan PPL, mahasiswa dapat mempraktikan secara langsung dan menerapkan ilmu yang diperoleh pada perkuliahan di kampus dalam kenyataan yang tampak di lapangan serta dihadapkan pada permasalahan yang ada dalam realitas yang sebenarnya di sekolah.

Secara khusus praktikan menyimpulkan sesuatu yang ditemui praktikan dalam pelaksanaan PPL di SMKN 6 Bandung adalah sebagai berikut :
  1. Merupakan mengalaman yang luar biasa bagi praktikan bisa melaksanakan PPL di SMKN 6 Bandung. Tidak hanya ilmu pengetahuan saja tapi juga memprioritaskan pembentukan dan pembinaan karakter siswa yang berakhlak baik, disiplin, dapat bekerjasama, dan bertanggung jawab. Selain itu SMKN 6 Bandung tampak peduli terhadap pelestarian alam dan budaya Sunda yang semakin terkikis oleh perkembangan zaman.
  2. Keberadaan praktikan di SMKN 6 Bandung sangat diterima dengan baik oleh pihak sekolah sehingga merasa nyaman dan dapat beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
  3. Dalam lingkungan kerja cenderung timbul idealisme masing-masing baik guru maupun karyawan. Oleh karena itu praktikan harus pandai-pandai membedakan cara bersikap dengan masing-masing individu.
  4. Untuk menjadi seorang pendidik ternyata tidak mudah seperti yang kita bayangkan. Akan tetapi harus didukung dengan pengetahuan, nilai, sikap, keterampilan, dan tingkah laku yang baik dalam menunjang profesinya.
  5. Perencanaan, pembuatan, dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran secara sistematis merupakan modal dasar untuk keberhasilan pelaksanaan program pengajaran

Kang Ikhsan Koordinator PPL Teknik Arsitektur dan Kang Ricky Koordinator PPL SMKN 6  

Suasana studio gambar jurusan teknik gambar bangunan  

Program Rebo Nyunda di sekolah  

Saat menjadi pengawas ulangan kenaikan kelas :)  

Berfoto dengan beberapa rekan PPL

Kamis, 17 Juli 2014

Catatan Monev PKM 2014

Alhamdulillah hari ini (11 Juli 2014) usai sudah perjuangan selama kurang lebih 5 bulan sejak diumumkan bahwa proposal penelitian saya kembali didanai oleh Dikti. Kali ini saya masih concern mengangkat tema arsitektur tradisional Sunda. Susunan tim tidak mengalami perubahan. Kawan-kawan masih mempercayai saya untuk menjadi ketua tim. Besar harapan kami untuk kembali bertarung di ajang pekan ilmiah mahasiswa nasional (PIMNAS).

Monev PKM tahun ini sedikit istimewa dibandingkan tahun sebelumnya. Biasanya pihak panitia menyelenggarakan monev di gedung PKM UPI, kali ini diselenggarakan di Auditorium Gedung JICA FPMIPA UPI. Meski saya mahasiswa UPI tapi kesempatan untuk masuk ke dalamnya sangat langka, terlebih saya bukan mahasiswa FPMIPA. Saya pernah bermimpi untuk sekedar duduk menyaksikan seminar di sana, tapi ternyata Allah mengabulkan mimpi dengan bonus duduk sebagai presenter juga di sana :)


Megahnya gedung JICA FPMIPA UPI - gedung ini merupakan bantuan dari Jepang. Konon kabarnya arsitek dan tukang yang membangunnya pun berasal dari Jepang

Helatan monev digelar selama dua hari berturut-turut dari mulai tanggal 10-11 Juli 2014. Acara pembukaan dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 10 Juli 2014 oleh Wakil Rektor UPI Bidang Kemahasiswaan dan Kemitraan beserta Direktur Kemahasiswaan UPI. Reviewer dari Dikti berjumlah dua orang, maka dari itu pelaksanaan monev dibagi menjadi dua kelas. Saya beserta tim harus bersabar menunggu giliran untuk dipanggil presentasi. Sampai pada akhirnya kami mengetahui bahwa giliran kami akan tiba di hari ke-2. Jadi kami memutuskan kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan energi pada esok hari saat monev.


Suasana presentasi monev PKM di Auditorium JICA UPI

Hari berikutnya, saat giliran monev kami tiba, Alhamdulillah dosen pendamping kami, Pak Nuryanto berkesempatan hadir menyaksikan presentasi kami. Namun masalah muncul saat kami naik ke atas panggung, laptop yang biasanya saya gunakan tiba-tiba hang. Kejadian itu sempat membuat saya panik, karena waktu sudah berjalan. Alhamdulillah dengan ketenangan dan kesabaran kami bisa mengatasinya. Beruntung waktu presentasi kami tidak melewati batas yang ditentukan bahkan saat kami selesai memaparkan program, reviewer menawarkan "masih ada cukup waktu sedikit lagi, apa ada yang mau ditambahkan lagi ?" begitu katanya namun kami mengatakan sudah cukup.

Kemudian sesi tanya jawab pun dilancarkan. Tidak mudah menebak arah pertanyaan reviewer. Kecermatan menanggapi pertanyaan yang diajukan sangat penting. Terkadang ada pertanyaan yang menjebak dan hal tersebut perlu diwaspadai. Beruntung sebelumnya kami berlatih memprediksi pertanyaan-pertanyaan yang akan "keluar". Sehingga pada saat sesi tanya jawab kami bisa menghadapinya dengan lancar :)


Maket, sebagai produk PKM-Penelitian

(Bandung, Indonesia - malam Nuzulul Quran Ramadhan 1435 H, 22.35 WIB)

Sabtu, 03 Mei 2014

Konsep Tri Hita Karana pada Arsitektur Bali

Tri Hita Karana merupakan konsep yang melandasi terbentuknya susunan makrokosmos (bhuana agung) dan mikrokosmos (bhuana alit). Adapun konsep tersebut terdiri dari tiga unsur yaitu atma (jiwa), prana (tenaga), dan angga (fisik). Lebih lanjut konsep tersebut dalam susunan kosmos disajikan pada tabel berikut.

Tabel 1. Konsep Tri Hita Karana dalam Susunan Kosmos
UNSURATMA

(JIWA)
PRANA (TENAGA)ANGGA

(FISIK)
Alam Semesta

(bhuana agung)
Paramaatman

(Tuhan Yang Maha Esa)
Kekuatan yang menggerakkan alamUnsur-unsur Panca Mahabhuta
DesaKahyangan Tiga (Pura Desa, Puseh dan Dalem)Pawongan

(warga desa)
Palemahan

(wilayah desa)
BanjarParahyangan

(Pura Banjar)
Pawongan

(warga banjar)
Palemahan

(wilayah banjar)
RumahPamerajan/

Sanggah
Anggota KeluargaPekarangan Rumah
Manusia

(bhuana alit)
Atman (jiwa manusia)Sabda Bayu IdepBadan/Tubuh Manusia
(Sumber : Rachmat Budihardjo, 2013) 

Dasar konsep tersebut bersumber dari lontar Asta Kosala-Kosali dan Asta Gumi. Parwata (2011) menjelaskan bahwa penjabaran ajaran Tri Hita Karana dan kaitannya dengan konsep Tri Mandala adalah hubungan manusia dengan Tuhannya yang dilakukan dalam dimensi ruang Utama Mandala. Hubungan manusia dengan sesamanya dilakukan dalam dimensi ruang Madya Mandala. Sedangkan dimensi Nista Mandala merupakan hubungan manusia dengan lingkungannya.


Gambar: Konsep Tri Mandala (Sumber : Eko Budihardjo dalam Suharjanto, 2011)

Subandi dalam Kumurur dan Damayanti (2009) mengatakan bahwa agama Hindu mengajarkan agar manusia mengharmoniskan alam semesta dengan segala isinya yakni bhuana agung (Makro kosmos) dengan bhuana alit (Mikro kosmos), dalam kaitan ini bhuana agung adalah lingkungan buatan/bangunan dan bhuana alit adalah manusia yang mendirikan dan menggunakan wadah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
[1]  Budihardjo, R. (2013). Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri. Jurnal Nalars Vol. 12 No. 01
[2]  Kumurur, V.A; Damayanti, S. (2009). Pola Perumahan dan Pemukiman Desa Tenganan Bali. Jurnal Sabua Vol. 01 No. 01
[3]  Parwata, I.W. (2011). Rumah Tinggal Tradisional Bali dari Aspek Budaya dan Antropometri. Jurnal Mudra Vo. 26 No. 01
[4]  Suharjanto, G. (2011). Membandingkan Istilah Arsitektur Tradisional Versus Arsitektur Vernakular : Studi Kasus Bangunan Minangkabau dan Bangunan Bali. Jurnal Comtech Vol. 02 No. 02