Minggu, 02 Juni 2013

Teknik Penggunaan Media Pembelajaran

Sabtu, 01 Juni 2013

Fungsi dan Tujuan Pendidikan Kejuruan

Fungsi Pendidikan Kejuruan

Pendidikan Kejuruan memiliki multi-fungsi yang kalau dilaksanakan dengan baik akan berkontribusi besar terhadap pencapaian tujuan pembangunan nasional.

Fungsi-fungsi yang dimaksud antara lain meliputi : (Wardiman;1998: 35)
  1. Sosialisasi, yaitu transmisi nilai-nilai yang berlaku serta norma-norma sebagai konkritisasi dari nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai yang dimaksud adalah teori ekonomi, solidaritas, religi, seni, dll.
  2. Kontrol sosial; yaitu kontrol perilaku agar sesuai dengan nilai sosial berserta norma-normanya, misalnya kedisiplinan, kejujuran, dll.
  3. Seleksi dan Alokasi; yaitu mempersiapkan ,  memilih, dan menempatkan calon tenaga kerja sesuai dengan tanda-tanda pasar kerja, yang berarti pendidikan kejuruan harus berdasarkan ”demand-driven”.
  4. Asimilasi dan Konservasi budaya, yaitu absorbsi terhadap kelompok-kelompok lain dalam masyarakat, serta memelihara kesatuan dan persatuan bangsa.
  5. Mempromosikan perubahan demi perbaikan; yaitu pendidikan tidak sekedar berfungsi mengajarkan apa yang ada, tetapi harus berfungsi sebagai ”pendorong perubahan”.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan kejuruan berfungsi  secara ganda yaitu sebagai ”akulturasi” (penyesuaian diri) dan ”enkulturasi” (pembawa perubahan). Karena itu, pendidikan kejuruan tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga harus antisipatif.

 Tujuan Pendidikan Kejuruan

Banyak rumusan Pendidikan Kejuruan yang dikemukakan oleh berbagai pihak,  diantaranya adalah sebagai berikut : Rupert Evans (1978) merumuskan bahwa Pendidikan Kejuruan bertujuan untuk :
  1. Memenuhi kebutuhan masyarakat akan tenaga kerja
  2. Meningkatkan pilihan pendidikan bagi setiap individu
  3. Mendorong motivasi untuk belajar terus.
Sumber : Catatan Kuliah Kajian dan Teknologi Vokasi

Minggu, 12 Mei 2013

Teknik Pemilihan Media Pembelajaran

Sabtu, 11 Mei 2013

Revitalisasi Halte Sebagai Upaya Mengurangi Penyebab Kemacetan LaluLintas

Pemerintah Kota Bandung telah membangun halte yang tersebar ke seluruh penjuru kota. Halte tersebut berfungsi sebagai tempat calon penumpang menunggu angkot atau bus kota. Namun halte yang ada belum berfungsi secara optimal.Desain halte tidak menguntungkan kepada calon penumpang. Informasi mengenai jurusan angkutan terdapat di belakang dan ukuran tulisannya pun tampak kecil, sehingga akan sulit dibaca dari kejauhan. Sebagai kota tujuan wisata, baik domestik maupun mancanegara, maka ketersediaan peta Kota Bandung menjadi penting untuk menambah citra positif terhadap pemerintah kota. Namun seperti yang tampak pada gambar, hal ini terabaikan.Kemudian, berdasarkan pemantauan, keadaan halte di Kota Bandung terkesan kumuh dan tidak terawat, sehingga calon penumpang merasa sungkan untuk menunggu angkutan di halte.Sebagian halte dijadikan objek aksi vandalisme yang merusak estetika halte tersebut.Di beberapa halte justru dijadikan tempat untuk berjualan, sehingga halte tersebut kehilangan fungsi utamanya. Keberadaan halte di Kota Bandung yang tidak terawat dapat merusak pemandangan kota.
Halte merupakan suatu tempat yang dirancang bagi prasarana masyarakat calon penumpang untuk naik atau turun dari angkutan umum.Halte merupakan suatu bentuk terminal dalam skala kecil (Indra Lesmana, 2007).Penyediaan terminal merupakan suatu persyaratan mutlak untuk memperoleh sistem perangkutan yang efisien dan aman, baik bagi gerak angkutan maupun bagi sistem lalu lintas itu sendiri (Hussain, 1985).Oleh karena itu penyelenggaraan terminal berperan dalam menunjang tersedianya jasa transportasi yang sesuai dengan tingkat kebutuhan lalu lintas dan pelayanan angkutan yang selamat, aman, cepat, tepat, nyaman, teratur dan dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat (Djaelani, 1999).

Potensi angkot yang ada saat ini berjumlah 38 trayek (Sumber : Bandung Dalam Angka) yang dapat didayagunakan secara optimal. Dengan jumlah trayek tersebut dapat meminimalisasi kecenderungan masyarakat untuk bepergian menggunakan kendaraan pribadi.Dalam sebuah survey yang dilakukan terungkap bahwa sebesar rata-rata 75% masyarakat mempunyai minat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, beberapa angkot cenderung tidak disiplin untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.Angkot bisa berhenti di mana saja, bahkan dapat berhenti di tengah jalan, sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas.Dari hasil wawancara terhadap sopir angkot didapat hasil bahwa rata-rata kejadian tersebut disebabkan oleh faktor calon penumpang yang tidak menunggu di halte.Berdasarkan hasil survey 9 dari 10 orang menyatakan bahwa mereka tidak menggunakan halte ketika naik atau turun dari angkot.Alasannya adalah karena lokasi halte sangat jauh dari lokasi keinginan penumpang untuk naik atau turun dari angkot.

Penyediaan halte yang baru di seluruh penjuru Kota Bandung akan menertibkan angkot di Kota Bandunguntuk menaikkan dan menurunkan penumpang pada tempatnya. Halte yang baru, dirancang dengan mempertimbangkan fungsi dan  estetika arsitektur sebagai penarik minat masyarakat untuk mau menggunakan halte. Hal ini memberikan pelayanan berkualitas prima kepada masyarakat untuk menunjukkan keunggulan angkot agar masyarakat tertarik menggunakan angkot sebagai sarana transportasi utama sehari-hari sehingga penggunaan kendaraan pribadi dapat diminimalkan intesitasnya.Serta bagi masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan angkot, agar dapat tertarik untuk disiplin menggunakan halte.


Gambar : Gagasan Desain Halte (Sumber : Dokumentasi Pribadi)
Halte yang akan dirancang tentu harus memberikan perlindungan kepada pengguna halte tersebut dari terik matahari dan air hujan. Maka desain halte akan dirancang sedemikian rupa untuk memberikan kenyamanan bagi penggunanya. Kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan wisata di Indonesia, maka desain halte yang baru akan mencerminkan wajah Kota Bandung untuk mempromosikan khazanah budaya Sunda sebagai jati diri Kota Bandung. Konsep dari desain ini adalah “Mulih ka Bandung” yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Kembali ke Bandung”. Hal ini akan tampak pada ornamen - ornamen yang tersemat pada bangunan halte. Untuk memudahkan navigasi calon penumpang angkot, maka disediakan peta Kota Bandung yang memuat lokasi titik - titik halte terbangun. Selain itu dilakukan penyempurnaan terhadap informasi trayek angkutan kota yang akan transit di halte tersebut.
*Catatan : Gagasan ini telah dipresentasikan dalam bentuk proposal penelitian PKM-GT Tahun 2012

Teknik Pembuatan Media Pembelajaran