Rabu, 26 Maret 2014

Silent is Golden Ala Boediono

Berawal dari sebuah sajian humor berbentuk potongan gambar peristiwa yang sedang booming di media sosial atau terkenal dengan sebutan "memecomic" (baca:mimkomik) -awas jangan salah membacanya :D. Komik seperti ini populer di twitter dan facebook, diupdate hampir setiap jam. Mayoritas isinya tentang jomblo dan lika-liku hidup mahasiswa, terkadang mengkritik sesuatu yang sedang menjadi trending topic. Tidak jarang juga isinya mengkritik kebijakan pemerintah saat ini.


Salah satu yang membuat saya untuk berkomentar adalah sindiran untuk Wapres Boediono. Ditulis antara ada dan tiada. Saya sering tergelitik dan kadang mendiskusikan ini dengan rekan-rekan dan kawan aktivis.  Saya kaget saat kawan saya banyak yang bilang "memang indonesia punya wapres ?" sering saya merasa perlu untuk menjelaskan dan tidak jarang juga kemudian berdebat sengit. Beberapa orang berpendapat orang yang diam tak menampakkan diri di hadapan media itu tidak ada kerjanya. Wapres Boediono memang selama ini jarang tampil di media, beliau lebih banyak bekerja di balik layar. Mungkin selama ini kita terlalu sering melihat akrobat para politisi yang dicitrakan sederhana dan dikatakan mau bekerja untuk rakyat dengan cara blusukan. Maka mulai banyak menjelang pemilu atau pemilukada tokoh-tokoh calon pemimpin blusukan untuk mendapat simpati rakyat. Rakyat pun terlena dan menikmati drama seperti ini. akhirnya kita lupa bahwa ukuran kinerja seseorang tidak bisa diukur dengan seberapa sering blusukan atau seberapa sering diliput stasiun TV dan koran. Wapres Boediono adalah sosok pemimpin yang saya pikir punya teladan untuk itu. Beliau bekerja untuk kepentingan rakyat, tetapi tidak banyak diliput media. Kalau masih banyak yang nyinyir terkait kinerja pak Boediono, maka saya ingatkan kembali, beliau dipakai oleh beberapa presiden lho. Itu bukti bahwa kinerjanya baik. Lalu bagaimana dengan kasus Century ? saya sebagai awam ekonomi tidak ingin mengulas lebih jauh. Namun bagi saya kalau memang pada saat itu benar krisis terjadi di Indonesia, maka yang salah juga Pak Boediono membiarkan Indonesia terkena dampak krisis global. Mungkin kita sulit untuk memahaminya karena toh saat ini banyak rakyat Indonesia hidup berkecukupan meski ada segelintir orang yang hidupnya sengsara.  
Hari Kamis, 19 Maret 2014 lalu, Wapres Boediono berkesempatan hadir di Acara Mata Najwa Metro TV. Najwa Shihab sebagai host acara tersebut seperti biasa dengan pertanyaan cukup pedas sehingga membongkar semuanya yang selama ini luput dari perhatian publik, termasuk kasus century. Setelah melihat acara tersebut, saya semakin kagum dan bangga. Inilah sosok pejabat yang sebenarnya. Sedikit saya mengutip prolog dari acara tersebut, "Pak Boed, begitu ia kerap disapa, pribadi hening dari ingar-bingar berita. Sebagai pribadi Pak Boed suri teladan, sebagai pejabat silakan diperdebatkan. Dia tak banyak bicara mengutas kata, apalagi membumbui dirinya dengan citra. Sosok teknokrat jenis pekerja, tegak lurus atasan & detil dalam berencana." Catatan najwa di episode mata najwa hari kamis, 19 maret 2014 itu menarik untuk disimak. bunyinya seperti berikut
Pak Boed lama bersama kekuasaan, dalam makna lain telah memberi pengabdian. Dia mungkin contoh yang sempurna, pejabat nonpolitik yang relatif diterima. Sebagai wapres dia tahu diri, berada di gelanggang sebagai pengganti. Kini dia menjadi samsak amuk politik, akibat bank gagal berdampak sistemik. Ada yang menudingnya miskin terobosan, hanya karena Pak Boed taat aturan. Dia bukan bintang liputan media, meski bukan berarti sedikit bekerja. Selamanya kita bisa belajar dari dirinya, laku keseimbangan yang terjaga. Berwibawa tanpa banyak kata, lama berkuasa namun tetap hidup sederhana. Dia teknokrat yang santun dalam batasan, menyeimbangkan peran & atasan. Bekerja dalam dingin rasionalitas angka, paham distorsi pasar & negara. Pak Boed terpuji karena laku sederhana, merintis jalan menuju negeri sejahtera, meski ia tak sepenuhnya berkuasa. Dalam kecamuk belenggu para politisi, Boediono contoh pekerja yang memilih sunyi.
 Berikut ini adalah video acara Mata Najwa episode Boediono :)

Minggu, 16 Maret 2014

Asistensi

Asistensi atau membimbing siswa adalah hal yang saya lakukan sebagai guru PPL. Karena saya kuliah di jurusan pendidikan arsitektur, maka saya ditempatkan sebagai guru di SMK program gambar bangunan. Pada saat saya masuk ke sekolah tersebut, siswa sedang mengerjakan tugas terstruktur berupa rumah tinggal sederhana. Saya selain mengajar juga bertugas untuk memonitor pekerjaan siswa. Ini mengingatkan saya kira-kira 2 tahun yang lalu saat saya masih sebagai mahasiswa yang mengontrak mata kuliah gambar konstruksi bangunan. Dosen berkeliling memonitor pekerjaan mahasiswa dan kadang melakukan asistensi gambar di luar jam kuliah. Hal itu pun kini terjadi pada saya. Membimbing siswa bukanlah pekerjaan mudah. Kalau menghakimi, akan membuat mental siswa down bahkan membuat mereka tidak berani untuk menggambar. Maka saat pertama kali mendapat tugas ini, saya lakukan dengan sangat hati-hati. Sering saya dapati gambar siswa yang tidak sesuai dan salah. Saya lalu menegurnya dan mencontohkan gambar yang benar. Rupanya saya salah duga. Siswa justru semakin antusias dan mengajukan banyak pertanyaan. Dari situ tercipta suasana yang mencair dan mengalir. Obrolan pun semakin menarik. Saya coba tanya pada guru pembimbing dan beliau pun mengutarakan jawabannya. Menurut beliau kalau ada siswa yang gambarnya salah maka salahkan saja, siswa akan sangat senang karena siswa di SMKN 6 Bandung ini mempunyai kesadaran diri yang tinggi untuk mendapatkan ilmu. Beliau pun menambahkan bahwa siswa SMK disiapkan untuk langsung bekerja setelah lulus, jadi  informasi yang diberikan kepada siswa adalah ilmu yang dipraktikkan di lapangan. Tidak hanya sekedar yang tertulis di buku teks saja.

Latihan Menjadi Guru

Seperti biasa di waktu subuh saya sudah terbangun. Tapi ada yang tidak biasa di hari itu. Kalau biasanya setelah solat subuh tertidur lagi kali ini langsung bergegas mandi. Airnya begitu dingin. Maklum, Kota Bandung saat itu sedang musim penghujan, jadi pagi harinya bisa sangat dingin. Setelah mandi saya mengenakan kemeja dan celana panjang berbahan katun. Tampak rapi. berbeda kalau biasanya hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans. Sekarang mau menjadi guru, maka potongan pun harus benar-benar rapi. Pagi itu sebelum berangkat saya sarapan telur dadar yang dimasak oleh ibu. Selesai sarapan, saya menghidupkan mesin sepeda motor. Memanaskan mesin sebelum berangkat. Tidak lama kemudian saya pamit kepada kedua orangtua saya dan segera berangkat ke SMKN 6 Bandung dengan sepeda motor.

Di perjalanan, saya membayangkan dengan antusias. Bagaimana nanti ya ? dan apa saya cocok jadi guru ? gimana siswa-siswanya ? seperti apa guru-gurunya ? dan lain-lain. sekitar 20 menit perjalanan dari rumah akhirnya saya tiba di SMKN 6 Bandung. Ternyata diantara teman-teman saya yang paling pertama datang. Hari ini saya ikut kegiatan upacara bendera. Setelah hampir 4 tahun tidak melakukannya. Kalau dulu saya ada di barisan siswa di lapangan, sekarang saya ada di barisan guru. Upacara bendera tampak begitu tertib. Walaupun ada saja beberapa siswa yang jatuh pingsan. Mungkin mereka belum sarapan. Di momen upacara bendera ini Kepala SMKN 6 Bandung memperkenalkan kami secara resmi kepada seluruh siswa. Singkat cerita akhirnya setelah selesai upacara bendera, saya masuk ke kelas. Ada 2 orang guru diklat disana. merekalah yang akan membimbing saya agar menjadi guru yang baik. Hari pertama saya hanya berkenalan dan berkeliling. Menyapa siswa, memberi kesan awal kepada civitas akademika SMKN 6 Bandung.

Sabtu, 08 Maret 2014

Pimnas 26 #3

Mataram, 12 September 2013
Hari ini adalah hari terakhir dari rangkaian kegiatan PIMNAS 26 di Universitas Mataram, kegiatan pada hari ini adalah presentasi produk dan poster. Seluruh tim peserta PKM dikumpulkan di ruang Auditorium Universitas Mataram. Seorang perwakilannya dipersilakan untuk menjaga stand. Karena posisi dan jabatan saya sebagai ketua tim maka tim sepakat untuk mendelegasikan saya. Awalnya bosan, bete, jenuh, boring ... Namun, tidak lama setelahnya saya malah semakin bersemangat. Ya, menyenangkan untuk saling bertukar pikiran dan membanggakan produk masing-masing tiap peserta. Dengan menjadi penjaga stand, saya berkesempatan untuk mengenal dan menjalin komunikasi dengan peserta lain. Pengalaman luar biasa saat berkenalan dengan mereka. Ya, mereka adalah orang-orang berprestasi yang terpilih dari ribuan orang. Di sebelah stand saya ada dari Universitas Negeri Semarang dan Universitas Negeri Padang. Kemudian di depan saya ada delegasi dari Universitas Jember. selain itu masih ada dari Universitas Haluoleo Makassar, Institut Pertanian Bogor, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan lain-lain. Banyak hal-hal menarik yang saya temukan. Penelitian-penelitian kawan-kawan ini banyak yang menghasilkan karya yang original dan baru. Selain itu ada juga penelitian yang tidak sama dengan latar belakang bidang yang ditekuni peneliti. Menyaksikan dan berinteraksi dengan mereka di PIMNAS merupakan hal yang luar biasa. ya, salah satunya teman-teman dari Unnes, walaupun latar belakang pendidikan mereka PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) namun berhasil menghasilkan produk penelitian di bidang botani. Dalam penelitiannya, mereka menggunakan limbah kulit jengkol sebagai pupuk pada tanaman. Di hari tersebut ada 3 orang dewan juri yang akan mengunjugi stand masing-masing tim untuk menilai produk dan poster yang dibuat. Di sesi presentasi produk dan poster ini, juri yang hadir tidak terlalu "pedas", pertanyaan dan interaksi yang terjadi cukup ringan dan menyegarkan

suasana saat presentasi poster dan produk PKM di auditorium Universitas Mataram. 

berfoto bersama dengan delegasi PIMNAS dari perguruan tinggi yang berasal dari Kota Bandung. Ada dari UPI, Polban, dan ITB :) 

berfoto bersama Tim PKM -P dari Jurusan Arsitektur UPI usai presentasi poster dan gelaran produk PKM

Malam harinya setelah presentasi poster, digelar acara penutupan di kampus Universitas Mataram, sekaligus pengumuman para juara setiap bidang PKM yang akan menentukan juara umum PIMNAS 26. juara pada PIMNAS kali ini adalah ITS Surabaya.

ITS berhasil meraih gelar juara umum setelah mendapatkan 8 emas dari lomba presentasi dan 3 emas dari lomba poster, hal ini didukung dengan lolosnya 44 karya Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) dengan 5 kategori, kategori lomba yang dilombakan diantaranya, Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian (PKM-P), Program Kreatifitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M), Program Kreatifitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC), Program Kreatifitas Mahasiswa Penerapan Teknologi (PKM-T), Program Kreatifitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM-GT). Berikut 10 besar daftar perguruan tinggi yang memenangkan lomba poster dan presentasi di Pimnas ke-26 :

  1. Institut Teknologi Sepuluh November
  2. Universitas Airlangga
  3. Universitas Gadjah Mada
  4. Universitas Brawijaya
  5. Institut Pertanian Bogor
  6. Universitas Diponegoro
  7. Universitas Sanata Dharma
  8. Universitas Negeri Yogyakarta
  9. Universitas Sriwijaya
  10. Universitas Negeri Semarang

Hidangan sate bulayak dan lontong khas Mataram di acara penutupan PIMNAS 26 :) 

kebersamaan bersama rekan-rekan delegasi PIMNAS adalah hal yang jauh lebih berharga dari sekedar menjadi juara. Ini benar-benar merupakan momen yang sangat mengesankan :)

Sabtu, 18 Januari 2014

SMA Pasundan 7 Bandung, Almamaterku

Beberapa hari ini aku disibukkan dengan merapikan dan membersihkan folder di laptop. Ada beberapa file yang menarik perhatian salah satunya adalah file kumpulan naskah blog yang belum sempat dipublish. Aku menuliskannya 3 tahun lalu. Sekedar berbagi aku ingin bernostalgia masa SMA-ku. Ah..mengenai artikel ini pernah aku publish di blogku yang dulu. Karena ada beberapa faktor maka diputuskan untuk menghapusnya, dan terbitlah blog ini sebagai penggantinya :)
Inilah almamater saya ketika menimba ilmu di jenjang SMA. sekolah ini terletak di jalan Kebonjati No. 31. Persisnya di depan Rumah Sakit Santosa Internasional. Sejarahnya saya bisa masuk ke SMA Pasundan 7 Bandung ini bermula dari seleksi saya yang gagal untuk masuk SMAN 11 Bandung dan SMAN 7 Bandung pada tahun 2007. Sungguh disayangkan padahal hanya butuh beberapa poin saja. Rasanya pada waktu itu saya mengalami kehancuran. kecewa, sedih, dan penyesalan semua menerpa diri ini.

Namun kekecewaan saya itu akhirnya terobati ketika saya memilih untuk melanjutkan SMA Pasundan 7 Bandung. Sekolah yang tidak kalah dengan sekolah negeri di Bandung. Disinilah saya pertama kali memahami keislaman. Asmaul Husna yang selalu diperdengarkan setiap pagi sebelum memulai pelajaran dan setiap sebelum pulang sekolah begitu menggetarkan hati. Energi-energi negatif seakan hilang begitu saja tergantikan oleh energi-energi positif. Luar biasa rupanya nilai-nilai keagamaannya begitu kental sejalan dengan visi sekolah ini yaitu “pengkuh agamana, luhung elmuna, jembar budayana” kemudian saya menemukan lagi keistimewaan lainnya yaitu pada saat pelajaran matematika, seorang guru sebelum mengajar, beliau berdakwah terlebih dahulu. beliau membawa kitab Al-Quran lalu membacanya beberapa ayat. Setelah itu barulah diberi penjelasan makna ayat yang dibacanya. Sungguh memberikan pencerahan dan semangat untuk memulai belajar matematika. Subhanallah, luar biasa.
Yang saya rasakan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam disini lebih menitik beratkan pada aplikasi. Pada waktu saya duduk di bangku kelas XII, Saya begitu kaget dan kagum terhadap mata pelajaran ini. Betapa tidak. Pelajaran agama biasanya hanya seputar normatif tata krama dan belajar mengaji dan solat yang baik, namun yang kali ini lebih membuka wawasan luas tentang keislaman sehingga menarik untuk disimak, pelajaran agama menjadi tidak membosankan. Hal seperti ini baru bisa saya temukan kembali di bangku kuliah semester 2. Subhanallah. disinilah saya semakin mempertebal keimanan bahwa sesungguhnya Allah memiliki rencana lain yang lebih baik bagi umatnya. Wallahualam

Dan inilah wajah-wajah sahabat seperjuangan IPA-1 … thanks all … this is beautiful part of my life .. I love you all… I hope we can meet again with success stories ..


   
Terakhir saya persembahkan lirik mars sma pasundan 7 bandung, mohon dikoreksi kalau saya salah, karena saya ingat-ingat lupa. heheheheh ^^

MARS SMA PASUNDAN 7 BANDUNG

lihat mentari di ufuk timur
menyinari bumi persada
seakan menyambut janji kami
pada bumi pertiwi
                                    kami generasi penerus
                                    siswa SMA Pasundan 7
                                    senantiasa menuntut ilmu
                                   demi tercapai cita-citaku
reff :
kami janji kepadamu
berbakti yang tulus
kami janji kepadamu
bagi nusa dan bangsa
Sekitar tahun 2009, SMA Pasundan 7 sering tampil di televisi lokal Kota Bandung. Aku ingat menjelang maghrib di masa tersebut di Bandung TV ada acara video klip lagu-lagu Sunda. Lagu Sunda yang berjudul "Cikapundung Bersih" dinyanyikan oleh Ratna, Dian dan Eva. Lebih jelasnya kita simak saja videonya berikut ini :)