Sabtu, 03 Mei 2014

Konsep Tri Hita Karana pada Arsitektur Bali

Tri Hita Karana merupakan konsep yang melandasi terbentuknya susunan makrokosmos (bhuana agung) dan mikrokosmos (bhuana alit). Adapun konsep tersebut terdiri dari tiga unsur yaitu atma (jiwa), prana (tenaga), dan angga (fisik). Lebih lanjut konsep tersebut dalam susunan kosmos disajikan pada tabel berikut.

Tabel 1. Konsep Tri Hita Karana dalam Susunan Kosmos
UNSURATMA

(JIWA)
PRANA (TENAGA)ANGGA

(FISIK)
Alam Semesta

(bhuana agung)
Paramaatman

(Tuhan Yang Maha Esa)
Kekuatan yang menggerakkan alamUnsur-unsur Panca Mahabhuta
DesaKahyangan Tiga (Pura Desa, Puseh dan Dalem)Pawongan

(warga desa)
Palemahan

(wilayah desa)
BanjarParahyangan

(Pura Banjar)
Pawongan

(warga banjar)
Palemahan

(wilayah banjar)
RumahPamerajan/

Sanggah
Anggota KeluargaPekarangan Rumah
Manusia

(bhuana alit)
Atman (jiwa manusia)Sabda Bayu IdepBadan/Tubuh Manusia
(Sumber : Rachmat Budihardjo, 2013) 

Dasar konsep tersebut bersumber dari lontar Asta Kosala-Kosali dan Asta Gumi. Parwata (2011) menjelaskan bahwa penjabaran ajaran Tri Hita Karana dan kaitannya dengan konsep Tri Mandala adalah hubungan manusia dengan Tuhannya yang dilakukan dalam dimensi ruang Utama Mandala. Hubungan manusia dengan sesamanya dilakukan dalam dimensi ruang Madya Mandala. Sedangkan dimensi Nista Mandala merupakan hubungan manusia dengan lingkungannya.


Gambar: Konsep Tri Mandala (Sumber : Eko Budihardjo dalam Suharjanto, 2011)

Subandi dalam Kumurur dan Damayanti (2009) mengatakan bahwa agama Hindu mengajarkan agar manusia mengharmoniskan alam semesta dengan segala isinya yakni bhuana agung (Makro kosmos) dengan bhuana alit (Mikro kosmos), dalam kaitan ini bhuana agung adalah lingkungan buatan/bangunan dan bhuana alit adalah manusia yang mendirikan dan menggunakan wadah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
[1]  Budihardjo, R. (2013). Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri. Jurnal Nalars Vol. 12 No. 01
[2]  Kumurur, V.A; Damayanti, S. (2009). Pola Perumahan dan Pemukiman Desa Tenganan Bali. Jurnal Sabua Vol. 01 No. 01
[3]  Parwata, I.W. (2011). Rumah Tinggal Tradisional Bali dari Aspek Budaya dan Antropometri. Jurnal Mudra Vo. 26 No. 01
[4]  Suharjanto, G. (2011). Membandingkan Istilah Arsitektur Tradisional Versus Arsitektur Vernakular : Studi Kasus Bangunan Minangkabau dan Bangunan Bali. Jurnal Comtech Vol. 02 No. 02

Selasa, 29 April 2014

Mengkaji Konsep Berkelanjutan Pada Arsitektur Tradisional Sunda

Arsitektur tradisional Sunda adalah karya arsitektur yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Sunda di Indonesia. Arsitektur tradisional terbangun dengan bahan-bahan alami. Dalam masyarakat tradisional Sunda, untuk mendirikan sebuah bangunan perlu ritual-ritual khusus. Pada intinya mereka mempercayai bahwa lokasi site yang akan dibangun ada yang memilikinya. Ritual khusus tersebut bermaksud untuk memohon izin kepada Yang Maha Kuasa agar pada lokasi yang akan dihuni tersebut nantinya memberikan keselamatan dan keberkahan bagi penghuninya. Dalam membangun pun tidak sembarangan. Material alam yang akan dipakai untuk membangun dipilih dan diupayakan agar tidak merusak komunitas alam. Hal ini berbanding terbalik dengan realita kehidupan masyarakat modern saat ini yang cenderung mengeksploitasi alam. Inilah mengapa terjadi persoalan banjir dan tanah longsor. Bahkan masalah banjir telah menjadi perhatian khusus bagi para kepala daerah di Indonesia.

Menarik pada masyarakat tradisional begitu kaya akan filosofi dan pandangan hidup mereka terhadap alam semesta. Falsafah hidup tersebut mempengaruhi desain arsitektur mereka. Mari kita diskusikan hal ini. Beberapa yang saya catat tentang konsep berkelanjutan (sustainable) pada arsitektur tradisional sunda dirangkum ke dalam tiga aspek yaitu pada bentuk bangunan, struktur bangunan dan material yang digunakan untuk membangun.

salah satu karya arsitektur tradisional Sunda di Kampung Naga, Tasikmalaya
Konsep Bangunan

Rumah pada arsitektur tradisional Sunda didesain dengan menggunakan rumah panggung. Pada rumah panggung, massa bangunan diangkat ke atas dengan pondasi umpak sehingga terbentuk kolong di bawah rumah. Kolong pada rumah panggung memungkinkan terjadinya sistem sirkulasi udara secara menyilang yang diilustrasikan pada gambar berikut.


Berdasarkan ilustrasi tersebut, sirkulasi udara terjadi tidak hanya horizontal tetapi juga dari bawah bangunan. Udara yang masuk adalah udara yang masih bersih dan sejuk sehingga menyehatkan kondisi di dalam bangunan. Udara yang telah tercemar atau telah berputar di dalam ruangan akan dikeluarkan melalui ventilasi dan bukaan.

Struktur Bangunan
  1. Pondasi Rumah tradisional Sunda dibangun dengan menggunakan pondasi umpak. Pondasi umpak ini terletak di atas permukaan tanah. Sehingga mengangkat massa bangunan ke atas. Pondasi umpak ini menyebabkan terjadinya ruang kosong di bawah massa bangunan yaitu kolong. Kolong dibiarkan secara alami berupa tanah tanpa sentuhan penyelesaian. Tanah yang dibiarkan apa adanya tersebut menciptakan area untuk resapan air. Pada saat hujan turun, air hujan akan meresap dengan cepat ke dalam tanah sehingga mencegah terjadinya banjir. 
  2. Lantai, biasanya masyarakat sunda menggunakan lantai yang disebut dengan palupuh (lantai bambu). Lantai bambu ini menimbulkan celah-celah sempit yang memungkinkan untuk masuknya aliran udara dari kolong. 
  3. Dinding, dinding pada rumah tradisional Sunda menggunakan bilik bambu. 
  4. Atap, masyarakat Sunda menggunakan material ijuk atau alang-alang untuk penutup atap rumahnya. Material ijuk atau alang-alang dapat menyerap hawa panas dari radiasi sinar matahari sehingga suhu di bawah atap menjadi tetap sejuk.
pondasi umpak dan sambungannya kepada struktur diatasnya. Untuk menyambungkan pondasi dengan struktur bagian tengah bangunan, balok kayu hanya ditempelkan saja di atas pondasi.

Material/Bahan Bangunan

Masyarakat Sunda membangun rumah mereka berdasarkan kepercayaan terhadap pembagian kekuasaan dunia. Masyarakat Sunda percaya dengan konsep buana panca tengah yang merupakan metafora alam semesta tempat dimana manusia hidup. Representasi terhadap kepercayaan tersebut menyebabkan rumah tradisional Sunda tidak langsung menyentuh kepada tanah, tetapi diberi jarak untuk menghormati tempat orang yang sudah meninggal. Tanah dalam kosmologi masyarakat Sunda merupakan larangan bagi orang yang masih hidup. Oleh karena itu material bangunan yang dipilih menghindari unsur tanah di dalamnya seperti batu bata, genteng yang berasal dari tanah liat, dan keramik. Masyarakat Sunda beranggapan apabila orang yang masih hidup menggunakan material yang terbuat dari tanah sama artinya dengan mengubur diri. Sehingga material yang dipilih banyak berupa kayu, bambu, dan ijuk. Hal ini cukup beralasan karena wilayah Jawa Barat sebagai tempat tinggal masyarakat Sunda, dianugerahi kekayaan alam yang melimpah ruah.


foto saat pembangunan rumah tradisional Sunda di Kampung Naga. untuk konstruksi atapnya bambu digunakan sebagai pengganti kayu. 

Interior pada gambar ini adalah sebuah sebuah masjid di Kampung Naga. Kami beruntung karena pada saat kami berkunjung ke sana sedang dilakukan renovasi masjid. (dari kiri ke kanan) Saya, dosen : Pak Nuryanto, Ikhwan, dan Adam

Arsitektur Rumah Tradisional Sunda

Bentuk rumah masyarakat Sunda adalah panggung, yaitu rumah berkolong dengan menggunakan pondasi umpak. Di samping itu, panggung merupakan bentuk yang paling penting bagi masyarakat Sunda, dengan suhunan panjang dan jure. Bentuk panggung yang mendominasi sistem bangunan di Tatar Sunda mempunyai fungsi teknik dan simbolik. Secara teknik rumah panggung memiliki tiga fungsi, yaitu: tidak mengganggu bidang resapan air, kolong sebagai media pengkondisian ruang dengan mengalirnya udara secara silang baik untuk kehangatan dan kesejukan, serta kolong juga dipakai untuk menyimpan persediaan kayu bakar dan lain sebagainya (Adimihardja dalam Nuryanto, 2006).

Fungsi secara simbolik didasarkan pada kepercayaan Orang Sunda, bahwa dunia terbagi tiga: buana larang, buana panca tengah, dan buana nyuncung. Buana panca tengah merupakan pusat alam semesta dan manusia menempatkan diri sebagai pusat alam semesta, karena itulah tempat tinggal manusia harus terletak di tengah-tengah, tidak ke buana larang (dunia bawah/bumi) dan buana nyuncung (dunia atas/langit). Dengan demikian, rumah tersebut harus memakai tiang yang berfungsi sebagai pemisah rumah secara keseluruhan dengan dunia bawah dan atas. Tiang rumah juga tidak boleh terletak langsung di atas tanah, oleh karena itu harus di beri alas yang berfungsi memisahkannya dari tanah yaitu berupa batu yang disebut umpak sebagainya (Adimihardja  dalam Nuryanto, 2006).


Gambar. Konsep Rumah Panggung Sunda
(Sumber : Iswanto,2013)

Secara teknis, rumah tradisional Sunda memiliki ciri yang khas, yaitu bentuk atap yang menyesuaikan terhadap keadaan alam, fungsi, dan adat istiadat dari kampung setempat (Anwar dan Nugraha, 2013). Material yang digunakan untuk membangun semua bersumber dari alam. Hasil karya mereka tampak harmoni dengan lingkungan sekitarnya sehingga keberlangsungan hidup generasi pada masa yang akan datang tetap terjaga dengan baik.

Daftar Pustaka

[1] Anwar H, Nugraha HA. (2013). Rumah Etnik Sunda. Jakarta : Griya Kreasi
[2] Iswanto HY. (2013). Kajian Konsep Green Architecture Berbasis Arsitektur Tradisional Sebagai Manifestasi Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia. File Presentasi
[3] Nuryanto. (2006). Kontinuitas dan Perubahan Pola Kampung dan Rumah Tinggal dari Kasepuhan Ciptarasa ke Ciptagelar di  Kab.Sukabumi-Jawa Barat. Laporan Tesis Magister Arsitektur, SAPPK-ITB. Tidak diterbitkan

Rabu, 26 Maret 2014

Silent is Golden Ala Boediono

Berawal dari sebuah sajian humor berbentuk potongan gambar peristiwa yang sedang booming di media sosial atau terkenal dengan sebutan "memecomic" (baca:mimkomik) -awas jangan salah membacanya :D. Komik seperti ini populer di twitter dan facebook, diupdate hampir setiap jam. Mayoritas isinya tentang jomblo dan lika-liku hidup mahasiswa, terkadang mengkritik sesuatu yang sedang menjadi trending topic. Tidak jarang juga isinya mengkritik kebijakan pemerintah saat ini.


Salah satu yang membuat saya untuk berkomentar adalah sindiran untuk Wapres Boediono. Ditulis antara ada dan tiada. Saya sering tergelitik dan kadang mendiskusikan ini dengan rekan-rekan dan kawan aktivis.  Saya kaget saat kawan saya banyak yang bilang "memang indonesia punya wapres ?" sering saya merasa perlu untuk menjelaskan dan tidak jarang juga kemudian berdebat sengit. Beberapa orang berpendapat orang yang diam tak menampakkan diri di hadapan media itu tidak ada kerjanya. Wapres Boediono memang selama ini jarang tampil di media, beliau lebih banyak bekerja di balik layar. Mungkin selama ini kita terlalu sering melihat akrobat para politisi yang dicitrakan sederhana dan dikatakan mau bekerja untuk rakyat dengan cara blusukan. Maka mulai banyak menjelang pemilu atau pemilukada tokoh-tokoh calon pemimpin blusukan untuk mendapat simpati rakyat. Rakyat pun terlena dan menikmati drama seperti ini. akhirnya kita lupa bahwa ukuran kinerja seseorang tidak bisa diukur dengan seberapa sering blusukan atau seberapa sering diliput stasiun TV dan koran. Wapres Boediono adalah sosok pemimpin yang saya pikir punya teladan untuk itu. Beliau bekerja untuk kepentingan rakyat, tetapi tidak banyak diliput media. Kalau masih banyak yang nyinyir terkait kinerja pak Boediono, maka saya ingatkan kembali, beliau dipakai oleh beberapa presiden lho. Itu bukti bahwa kinerjanya baik. Lalu bagaimana dengan kasus Century ? saya sebagai awam ekonomi tidak ingin mengulas lebih jauh. Namun bagi saya kalau memang pada saat itu benar krisis terjadi di Indonesia, maka yang salah juga Pak Boediono membiarkan Indonesia terkena dampak krisis global. Mungkin kita sulit untuk memahaminya karena toh saat ini banyak rakyat Indonesia hidup berkecukupan meski ada segelintir orang yang hidupnya sengsara.  
Hari Kamis, 19 Maret 2014 lalu, Wapres Boediono berkesempatan hadir di Acara Mata Najwa Metro TV. Najwa Shihab sebagai host acara tersebut seperti biasa dengan pertanyaan cukup pedas sehingga membongkar semuanya yang selama ini luput dari perhatian publik, termasuk kasus century. Setelah melihat acara tersebut, saya semakin kagum dan bangga. Inilah sosok pejabat yang sebenarnya. Sedikit saya mengutip prolog dari acara tersebut, "Pak Boed, begitu ia kerap disapa, pribadi hening dari ingar-bingar berita. Sebagai pribadi Pak Boed suri teladan, sebagai pejabat silakan diperdebatkan. Dia tak banyak bicara mengutas kata, apalagi membumbui dirinya dengan citra. Sosok teknokrat jenis pekerja, tegak lurus atasan & detil dalam berencana." Catatan najwa di episode mata najwa hari kamis, 19 maret 2014 itu menarik untuk disimak. bunyinya seperti berikut
Pak Boed lama bersama kekuasaan, dalam makna lain telah memberi pengabdian. Dia mungkin contoh yang sempurna, pejabat nonpolitik yang relatif diterima. Sebagai wapres dia tahu diri, berada di gelanggang sebagai pengganti. Kini dia menjadi samsak amuk politik, akibat bank gagal berdampak sistemik. Ada yang menudingnya miskin terobosan, hanya karena Pak Boed taat aturan. Dia bukan bintang liputan media, meski bukan berarti sedikit bekerja. Selamanya kita bisa belajar dari dirinya, laku keseimbangan yang terjaga. Berwibawa tanpa banyak kata, lama berkuasa namun tetap hidup sederhana. Dia teknokrat yang santun dalam batasan, menyeimbangkan peran & atasan. Bekerja dalam dingin rasionalitas angka, paham distorsi pasar & negara. Pak Boed terpuji karena laku sederhana, merintis jalan menuju negeri sejahtera, meski ia tak sepenuhnya berkuasa. Dalam kecamuk belenggu para politisi, Boediono contoh pekerja yang memilih sunyi.
 Berikut ini adalah video acara Mata Najwa episode Boediono :)

Minggu, 16 Maret 2014

Asistensi

Asistensi atau membimbing siswa adalah hal yang saya lakukan sebagai guru PPL. Karena saya kuliah di jurusan pendidikan arsitektur, maka saya ditempatkan sebagai guru di SMK program gambar bangunan. Pada saat saya masuk ke sekolah tersebut, siswa sedang mengerjakan tugas terstruktur berupa rumah tinggal sederhana. Saya selain mengajar juga bertugas untuk memonitor pekerjaan siswa. Ini mengingatkan saya kira-kira 2 tahun yang lalu saat saya masih sebagai mahasiswa yang mengontrak mata kuliah gambar konstruksi bangunan. Dosen berkeliling memonitor pekerjaan mahasiswa dan kadang melakukan asistensi gambar di luar jam kuliah. Hal itu pun kini terjadi pada saya. Membimbing siswa bukanlah pekerjaan mudah. Kalau menghakimi, akan membuat mental siswa down bahkan membuat mereka tidak berani untuk menggambar. Maka saat pertama kali mendapat tugas ini, saya lakukan dengan sangat hati-hati. Sering saya dapati gambar siswa yang tidak sesuai dan salah. Saya lalu menegurnya dan mencontohkan gambar yang benar. Rupanya saya salah duga. Siswa justru semakin antusias dan mengajukan banyak pertanyaan. Dari situ tercipta suasana yang mencair dan mengalir. Obrolan pun semakin menarik. Saya coba tanya pada guru pembimbing dan beliau pun mengutarakan jawabannya. Menurut beliau kalau ada siswa yang gambarnya salah maka salahkan saja, siswa akan sangat senang karena siswa di SMKN 6 Bandung ini mempunyai kesadaran diri yang tinggi untuk mendapatkan ilmu. Beliau pun menambahkan bahwa siswa SMK disiapkan untuk langsung bekerja setelah lulus, jadi  informasi yang diberikan kepada siswa adalah ilmu yang dipraktikkan di lapangan. Tidak hanya sekedar yang tertulis di buku teks saja.