Sabtu, 27 April 2013

Definisi Rumah Tinggal

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman mendefinisikan bahwa :
  1. Rumah  adalah    bangunan  yang  berfungsi  sebagai  tempat  tinggal  atau  hunian  dan  sarana pembinaan keluarga,
  2. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan,
  3. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan  perkotaan  maupun  perdesaan  yang  berfungsi  sebagai  lingkungan  tempat  tinggal  atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
Pengertian rumah dikemukakan Budihardjo (1987) antara lain: rumah sebagai simbol dan pencerminan tata nilai  selera pribadi  penghuninya atau dengan kata lain sebagai pengejawantahan jati diri, rumah sebagai wadah keakraban diamana rasa memiliki, kebersamaan, kehangatan, kasih dan rasa aman tercipta didalamnya, rumah sebagai tempat kita menyendiri dan menyepi, yaitu sebagai tempat melepaskan diri dari dunia luar, tekanan dan tegangan, rumah sebagai tempat untuk kembali pada akar dan menumbuhkan rasa kesinambungan dalam untaian proses ke masa depan, rumah sebagai wadah kegiatan utama sehari-hari, rumah sebagai pusat jaringan sosial, rumah sebagai struktur fisik dalam arti rumah adalah bangunan.

Menurut Johan Silas (2002) rumah  mengandung pengertian:
  • Sebagai tempat penyelenggaraan kehidupan dan penghidupan keluarga; rumah harus memenuhi kebutuhan yang bersifat biologis seperti makan, belajar, dan lain-lain, juga memenuhi kebutuhan non biologis, seperti bercengkrama dengan anggota keluarga atau dengan tetangga.
  • Rumah berfungsi sebagai sarana investasi; rumah mempunyai nilai investasi yang bersifat moneter yang dapat diukur dengan uang dan non moneter yang tidak dapat diukur dengan uang., tetapi lebih pada keuntungan moral dan kebahagiaan keluarga.
  • Rumah sebagai sarana berusaha; melalui rumah penghuni dapat meningkatkan pendapatannya guna kelangsungan hidupnya.
  • Rumah sebagai tempat bernaung harus memenuhi kebutuhan ruang akan kegiatan bagi penghuninya. Terdapat beberapa ruang pokok yang ada pada sebuah rumah, yaitu ruang tidur, ruang belajar atau ruang kerja, ruang keluarga,  ruang services seperti dapur, dan teras atau ruang tamu. Makna yang terkandung didalam kebutuhan ruang-ruang tersebut mencerminkan bahwa rumah adalah tempat untuk  istirahat, tempat untuk mengaktualisasikan diri guna meningkatkan mutu kehidupan, rumah sebagai tempat sosialisasi utamanya dengan keluarga, rumah sebagai tempat menyediakan kebutuhan jasmani dan rohani, serta rumah sebagai tempat bernaung
Sumber : 
  • UU No. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman
  • Hilman, Maman. 2010. Materi Kuliah Rekayasa Lahan II. Bandung : UPI

Jumat, 12 April 2013

Pembangunan Manusia Indonesia Sejak Dini, Menyongsong Indonesia Negara Maju 2045

Oleh:

Hadi Yanuar Iswanto

Beberapa waktu lalu Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono berpidato bahwa Indonesia akan menjadi negara maju di tahun 2045. Proyeksi Indonesia menjadi negara maju dan kuat di abad 21 merupakan sebuah capaian atas Sustainable Growth and Development Program yang dicanangkan pemerintah. Perekonomian Indonesia di tahun 2045 diprediksi akan menjadi kuat, berkeadilan dan ramah lingkungan. Selain itu demokrasi menjadi lebih matang dan stabil dengan terbangunnya peradaban unggul, maju, produktif, inovatif dan berkelanjutan, serta harus utuh dan berjangka panjang. Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato yang berjudul “Ekonomi Indonesia Sebuah Manifesto Pembangunan Abad 21” dalam acara Penyatuan Visi “Bersama Menuju Indonesia Maju 2030”, di Jakarta, 13 Nopember 2012 lalu.

Hal tersebut menjadi topik yang menarik dibahas. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia boleh dibilang mengalami kemajuan yang signifikan. Berkali-kali delegasi Indonesia menjadi juara dalam kompetisi-kompetisi bergengsi tingkat dunia. Proyeksi Indonesia menjadi negara maju di 2045 bukan hal yang tidak mungkin. Tentu dengan melihat kemajuan tersebut kita menjadi optimis dengan pidato presiden tersebut. Namun dinamika dalam berdemokrasi menimbulkan berbagai argumen. Ada sebagian yang pesimis dengan hal tersebut. Pemerintah pun mulai menggalakkan program-program pro rakyat. Usaha-usaha tersebut ada sebagian kalangan yang menyebutkan pemerintah terlambat melakukannya. Namun walaupun terlambat, tetap saja tidak siap untuk mengantisipasi penyimpangan-penyimpangan yang akan terjadi. Akhir-akhir ini kasus korupsi kian marak diberitakan di media-media nasional. Pelakunya tidak hanya pejabat-pejabat tinggi. Pejabat kelas menengah dan rendah ikut tertangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Kejadian-kejadian tersebut adalah dampak nyata yang menunjukkan bahwa moral bangsa ini sudah mulai rusak.  Pancasila sebagai pilar bangsa sudah dianggap kuno dan sebagian menganggap tinggal sejarah. Lalu solusi datang dari pemerintah melalui program pendidikan berkarakternya. Lalu apakah solusi tersebut cukup untuk membenahi kerusakan yang terjadi ? Kemudian mampukah Indonesia menjadi negara maju di 2045 ?

Sejatinya selama ini pemerintah lebih mengutamakan pembangunan sistem dibandingkan pembangunan manusianya. Usaha Kementerian Pendidikan Nasional dalam program pendidikan berkarakter patut diacungi jempol. Selain itu untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pemerintah menyiapkan beasiswa bidik misi setiap tahunnya untuk siswa dari keluarga tidak mampu yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Namun pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya akan lebih baik apabila disosialisasikan sejak dini, yakni sejak masih kanak-kanak. Belajar dari negeri sakura, Jepang, poin utama kehidupan masyarakat di Jepang adalah kedisiplinan. Kedisiplinan bangsa ini telah mengakar kuat sejak masa kanak-kanak. Untuk mengetahui hal ini salah satunya adalah pada kebijakan manajemen bencana yang dilakukan oleh Pemerintah Jepang yang harus dipatuhi oleh rakyatnya. Di Jepang, setiap rumah dianjurkan untuk memiliki ransel khusus keadaan darurat. Di dalam ransel tersebut berisi perlengkapan yang dibutuhkan sehari-hari. Selain itu juga selalu mengadakan simulasi bencana yang dilakukan bahkan bagi anak-anak TK sekalipun. Kalau kita membaca petunjuk-petunjuk pengelolaan dalam keadaan darurat di Jepang, nampaknya merepotkan. Namun rakyat Jepang ternyata mematuhinya. Dari hal kecil ini kita bisa mengetahui bahwa kedisiplinan dan kepatuhan orang Jepang. Maka tidak heran apabila Jepang menjadi negara maju yang dijuluki Macan Asia.

Tidak ada yang sempurna dari suatu negara manapun. Ada kekurangan dan kelebihan. Namun bukankah bagus apabila kita mencontoh kebaikan suatu negara. Contoh baik dari bangsa Jepang adalah kedisiplinan dan kepatuhan raytnya terhadap sistem yang dijalankan oleh pemerintahnya. Sebagus apapun sistemnya apabila manusia yang menjalankannya rusak, maka fungsi dan manfaat dari sistem tersebut akan kabur,

Akhir-akhir ini kita disuguhi oleh hasil survey dari berbagai lembaga survey yang menunjukkan tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan SBY-Boediono. Hasil survey menujukkan bahwa rakyat meragukan kredibilitas pemerintah saat ini. Dengan maraknya kasus korupsi yang menjerat pejabat serta lemahnya penegakan hukum menjadi kontribusi yang besar terhadap penurunan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Sekarang saatnya bagi pemerintah untuk menunjukkan wibawanya. Pemerintah harus membangun sumber daya manusia yang kokoh lahir bathin.

Dalam  setiap pemilu dan pemilukada, setiap calon berlomba-lomba menawarkan program pro rakyat. Ketika terpilih banyak yang mengatakan bahwa mereka lupa kepada rakyat, tidak menepati janjinya. Apakah benar demikian ? Nyatanya begitu banyak Undang-Undang dan Perda yang dihasilkan setiap tahunnya. Baik eksekutif maupun legislatif saat ini lebih mengutamakan pembangunan sistem. Jarang sekali yang menjawab pertanyaan "Bagaimana caranya agar rakyat mau menjalankan sistem yang ada ?" Sistem-sistem yang berjalan saat ini sudah bagus. Namun setiap pergantian pemimpin sistem yang sebelumnya bagus diganti dengan yang baru. Sebenarnya permasalahan utama adalah kurangnya kesadaran masyarakat terhadap sistem yang ada. Oleh karena itu calon pemimpin seharusnya memikirkan upaya untuk memanusiakan manusia Indonesia. Sekali lagi sebagus dan secanggih apapun sistem yang diterapkan akan menjadi tidak terasa manfaatnya apabila manusia yang menjalankannya sudah rusak.

Pendidikan sejak dini harus diutamakan. Terutama adalah pendidikan kedisiplinan. kedisiplinan ini juga harus dimulai dari lingkungan terdekatnya yaitu keluarga. Apabila Pemerintah Indonesia concern terhadap hal ini maka kasus-kasus penyimpangan dan kejahatan yang melanggar hukum dapat diminimalkan. Kedisiplinan adalah akar dari segalanya. Permasalahan korupsi juga karena kesadaran dan kedisiplinan yang rendah. Apabila manusia Indonesia telah berdisiplin tinggi, bukan mustahil negara ini menjadi negara maju di. Proyeksi Indonesia menjadi negara maju di 2045 harus didukung oleh seluruh elemen, baik dari pemerintah dan masyarakatnya. Saat ini sudah banyak Perda dan Undang-Undang yang diterbitkan. Hanya tinggal bagaimana mengelolanya. Sistem saat ini sudah bagus. Ekonomi, Politik, Hukum, Sosial dan Budaya. Lalu apa lagi ? Hanya Manusianya yang harus di-upgrade lahir bathin untuk mendukung sistem tersebut.
*)Penulis adalah Mahasiswa di Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur Universitas Pendidikan Indonesia

Rabu, 10 April 2013

Toko De Vries, Toserba Pertama di Bandung

Jalan-jalan di Kawasan Braga Bandung serasa kembali ke masa lalu. Di kawasan ini banyak karya arsitektur bergaya Eropa. Ya, sama seperti kota tua di Jakarta dan di Semarang. Kawasan Braga menjadi pusat kebudayaan warga Belanda di Indonesia pada zaman penjajahan dulu. Kalau kita bergerak dari arah Jl. Jend. Ahmad Yani menuju Alun-alun Bandung kita akan melewati Jl. Asia Afrika. Terkenal di kawasan ini adalah Gedung Merdeka dan Hotel Savoy Homann. Tapi jangan lewatkan di sebelah Hotel Savoy Homann ada bangunan peninggalan Belanda yang juga menarik sejarahnya. Ya, namanya Toko De Vries.
Gambar. Toko De Vries (Sumber : Dokumentasi Pribadi)
Toko de Vries terletak di bagian ujung selatan Jalan Braga, bersebelahan dengan Hotel Savoy Homann. Bangunan ini juga bersebrangan dengan Gedung bersejarah Concordia yang kini dikenal sebagai Gedung Merdeka. Pada awalnya bangunan Toko De Vries ini dibangun pada tahun 1895 denga gaya bangunan Oud Indisch Stijl (Gaya Klasik Indies) Kemudian dipugar oleh Biro Edward Cuypers Hulswit menjadi bangunan yang bergaya klasik Eropa. Ciri khasnya adalah pada menara yang menyatu dengan bangunannya. Toko de Vries merupakan toko serba ada yang pertama, terbesar, dan terlengkap di Bandung hingga dekade pertama abad ke-20.

Green Architecture, Solusi Bangunan Ramah Lingkungan

Oleh :
Hadi Yanuar Iswanto
NIM : 1006590

Akhir-akhir ini orang-orang di seluruh dunia ramai membicarakan tentang  “go  green”.  Apa sebenarnya “go green” ? Secara harafiah dalam Bahasa Inggris ‘go’ berarti menuju dan ‘green’ berarti warna hijau, maka “go green” berarti mengajak kita untuk menuju “hijau”. Ini terdengar seperti sebuah semangat untuk melakukan penghijauan. Di  dalam  dunia  arsitektur  ada istilah green architecture (arsitektur hijau), merupakan konsep bangunan berwawasan lingkungan. Arsitektur hijau, secara sederhana mempunyai pengertian bangunan atau lingkungan binaan yang dapat mengurangi atau dapat melakukan efisiensi sumber daya material, air dan energi. Dalam pengertian yang lebih luas, adalah bangunan atau lingkungan binaan yang efisien dalam penggunaan energi, air dan segala sumber daya yang ada, kemudian mampu menjaga keselamatan, keamanan dan kesehatan penghuninya dalam mengembangkan produktivitas penghuninya, serta mampu mengurangi sampah, polusi dan kerusakan lingkungan.

Green (hijau) dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), earthfriendly  (ramah  lingkungan),  dan  high  performance  building (bangunan  dengan  performa  sangat  baik). Bangunan berkonsep green architecture mempunyai satu sifat yang tidak kalah pentingnya dengan sifat- sifat lainnya. Sifat ini adalah “High performance building”. Pada dasarnya bangunan green architecture harus mempunyai  sifat  ini.  Salah  satu  fungsinya  ialah  untuk  meminimaliskan penggunaan energi dengan memenfaatkan energi yang berasal dari alam (Energy of nature) dan dengan dipadukan dengan teknologi tinggi (High technology  performance).  Contohnya  adalah  memanfaatkan sumber yang dapat diperbaharui seperti menggunakan sinar matahari melalui passive solar dan active solar, serta teknik photovoltaic dengan menggunakan tanaman dan pohon-pohon melalui atap hijau dan taman hujan. Konsep arsitektur hijau sangat mendukung program penghematan energi. Rumah ala tropis dengan banyak bukaan, dibentuk untuk mengurangi pemakaian AC juga penerangan adalah prinsip arsitektur hijau di daerah tropis. Namun, hal tersebut tidak akan berjalan mulus jika sekeliling rumah tidak asri. Bukaan banyak hanya akan memasukkan udara panas dan membuat pemiliknya tetap memasang pendingin ruangan. Oleh sebab itu pekarangan perlu dihijaukan dengan tanaman apa saja, permukaan tanah tidak ditutup dengan beton dan menerapkan manajemen sampah yang ketat.

Dari segi interior, arsitektur hijau mensyaratkan dekorasi dan perabotan tidak perlu berlebihan, saniter lebih baik, dapur bersih, desain hemat energi, kemudahan air bersih, luas dan jumlah ruang sesuai kebutuhan, bahan bangunan berkualitas dan konstruksi lebih kuat, serta saluran air bersih. Untuk mengatasi limbah sampah secara mandiri, lubang biopori dapat menjadi solusi.

Di Indonesia, kampanye go green ini sudah mulai digalakkan. Banyak bangunan-bangunan seperti rumah tinggal atau bangunan komersial lainnya yang mulai menyelaraskan konsep desainnya dengan green architecture. Saat ini konsep green architecture telah diwujudkan secara nyata pada beberapa hunian vertical atau apartemen di kota-kota besar di Indonesia. Konsep green apartment dalam beberapa tahun belakangan memang terus dikembangkan oleh pengembang properti. Konsep ini diaplikasikan melalui keberadaan taman-taman di beberapa balkon yang bisa digunakan penghuni apartemen untuk bersantai dan menikmati hijau dedaunan di tengah kota.

Arsitektur hijau tentunya lebih dari sekedar menanam rumput atau menambah tanaman lebih banyak di sebuah bangunan, tapi juga lebih luas dari itu, misalnya memberdayakan arsitektur atau bangunan agar lebih bermanfaat bagi lingkungan, menciptakan ruang-ruang publik baru, menciptakan alat pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya.

Maka dari itu sangat beralasan jika program green architecture ini dapat diterapkan di masyarakat luas, karena dengan menerapkan konsep ini keuntungannya dari sisi ekonomi sangat nyata dan terukur. Penggunaan pendingin ruangan dan penerangan ruangan serta penghematan air hingga 26-40 % setiap bulan. Selain itu penerapan konsep ini pun sejalan dengan pengurangan emisi karbon 2020. 

DAFTAR RUJUKAN

-          Buku
  • Hyde, Richard.2008. Bioclimatic Housing, Innovative Designs for Warm Climates.London: Cromwell Press
  • M.Echols, John dan Shadily, Hassan. Kamus Bahasa Inggris – Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka
  • Setiawan, Achnin.2010.Pusat Kebugaran Jasmani dan Spa di Jakarta (pendekatan konsep Green Architecture). Universitas Muhammadiyah Surakarta

-          Internet

-          Koran Online

Jumat, 15 April 2011
Jumat, 9 September 2011

Kamis, 16 Juni 2011

Kamis, 04 April 2013

Ide Reorganisasi dan Pembenahan Angkot Bandung


Jalan-jalan keliling Bandung bisa menggunakan moda transportasi angkutan kota atau dikenal dengan akronim angkot. Angkot merupakan pilihan transportasi hemat yang masih setia dipilih oleh masyarakat. Sebagai penguna angkot, saya merasakan ketidaknyamanan yang mendasar. Tujuan seseorang "naik" angkot tentu ingin pergi ke tempat tujuan dengan cepat, aman, dan nyaman. Namun belakangan ini beberapa oknum sopir angkot nampaknya mengabaikan unsur tersebut.
Angkot di Bandung saat ini diatur oleh pemerintah daerah yang bekerjasama dengan Organisasi Angkutan Darat Kota Bandung. Setiap mobil angkot dimiliki oleh pengusaha angkot. Hal ini menyebabkan dalam setiap angkot memiliki kebijakan yang berbeda-beda. Pengusaha angkot dapat bertindak sekaligus sebagai sopir angkot atau mempekerjakan orang lain untuk menjadi sopir angkot tersebut. Besarnya pendapatan seorang buruh sopir angkot berbeda-beda tergantung kepada pengusaha angkot dimana mereka bekerja. (sumber: Pertiwi, Putri Indah; Kartono, Johan; Putra, Herdi Arman; Syufyan, Hidayatus; Gunawan,M. Fajar; Zahra, Fatimatuz. 2009. Budaya Sopir Angkutan Kota di Kota Bandung. Bandung : ITB)

Pola pengorganisasian seperti demikian menyebabkan beberapa angkot melalaikan kepentingan keamanan dan kenyamanan masyarakat sebagai pengguna jasa angkot. Maka pola organisasi tersebut harus dirubah agar dapat memberikan keuntungan kepada masyarakat dan pengelola angkot. Pengelolaan angkot akan menerapkan sistem perusahaan daerah. Seluruh trayek angkutan yang ada di kota Bandung terintegrasi ke dalam satu naungan perusahaan Angkot Bandung Bermartabat. Dalam menjalankan usahanya perusahaan ini dapat berbentuk sebuah perusahaan jasa yang dapat pula orang lain berinvestasi untuk kemajuan perusahaan. Seluruh sopir angkot yang bekerja saat ini ditarik sebagai bagian dari karyawan di perusahaan sehingga mereka mendapatkan gaji bulanan. Hal ini dapat mengatasi istilah “kejar setoran” yang sering dilakukan oleh sopir angkot yang mengakibatkan terbentuknya perilaku ngetem yang berdampak kepada kelalaian terhadap kenyamanan masyarakat pengguna jasa angkot. Budaya sopir angkot yang saat ini dinilai buruk di masyarakat, dibenahi dengan program pendidikan dan pelatihan untuk membina para sopir angkot sebelum diterjunkan ke lapangan.
Ah, itu hanya sebuah ide dari seorang yang awam. Mungkin perlu diadakan penelitian lebih lanjut. Tapi setidaknya hal seperti di atas tersebut yang saya harapkan sebagai konsumen moda transportasi angkot. Terima kasih telah membacanya :)